Pembagian Raport Semester Berubah Menjadi Triwulan Bukan Caturwulan

Masih inget waktu sistem caturwulan, pembagian raport tiap 4 bulan sekali. Karena berdasarkan pertimbangan dan perubahan kebijakan dalam pendidikan maka sistem pendidikan mengikuti aturan waktu semester, dimana pembagian raport hayan 2 kali dalam satu tahun. Yaitu di semester ganjil dan genap.

tapi entah kenapa, guru merasa ketika sistem semester diterapkan, guru merasa menjalankan sistem triwulan. dimana tiap 3 bulan guru harus membagikan raport kepada orang tua siswa. Ada Raport Tengah Semester Pertama; Raport UAS Semester Pertama, Raport Tengah Semester Kedua; dan Raport UAS Semester Kedua.

Penilaian Acuan Norma (PAN) & Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Pengertian Penilaian Acuan Norma

          Ada beberapa pendapat tentang pengertian Penilaian Acuan Norma, yaitu:

  1. Acuan norma merupakan elemen pilihan yang memeberikan daftar dokumen normatif yang diacu dalam standar sehingga acuan tersebut tidak terpisahkan dalam penerapan standar. Data dokumen normatif yang diacu dalam standar yang sangat diperlukan dalam penerapan standar.
  2. Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan mengacu pada norma atau kelompok. Cara ini dikenal sebagai penilaian acuan norma (PAN).
  3. PAN adalah Nilai sekelompok peserta didik (siswa) dalam suatu proses pembelajaran didasarkan pada tingkat penguasaan di kelompok itu. Artinya pemberian nilai mengacu pada perolehan nilai di kelompok itu.
  4. Penilaian Acuan Norma (PAN) yaitu dengan cara membandingkan nilai seorang siswa dengan nilai kelompoknya. Jadi dalam hal ini prestasi seluruh siswa dalam kelas / kelompok dipakai sebagai dasar penilaian.

Dari beberapa pengertian ini dapat disimpulkan bahwa Penilaian Acuan Norma adalah penilaian yang dilakukan dengan mengacu pada norma kelmpok; nilai-nilai yang diperoleh siswa diperbandingkan dengan nilai-nilai siswa yang lain yang termasuk di dalam kelompok itu.

Penilaian Acuan Norma (PAN)

Penilaian acuan norma (PAN) merupakan pendekatan klasik, karena tampilan pencapaian hasil belajar siswa pada suatu tes dibandingkan dengan penampilan siswa lain yang mengikuti tes yang sama. Pengukuran ini digunakan sebagai metode pengukuran yang menggunakan prinsip belajar kompetitif. Menurut prinsip pengukuran norma, tes baku pencapaian diadministrasi dan penampilan baku normative dikalkulasi untuk kelompok-kelompok pengambil tes yang bervariasi. Skor yang dihasilkan siswa dalam tes yang sama dibandingkan dengan hasil populasi atau hasil keseluruhan yang telah dibakukan. Guru kelas kemudian mengikuti asas yang sama, mengukur pencapaian hasil belajar siswa, dengan tepat membandingkan terhadap siswa lain dalam tes yang sama. Seperti evaluasi empiris, guru melakukan pengukuran, mengadministrasi tes, menghitung skor, merangking skor, dari tes yang tertinggi sampai yang terendah, menentukan skor rerata menentukan simpang baku dan variannya .

Berikut ini beberapa ciri dari Penilaian Acuan Normatif :

  1. Penilaian Acuan Normatif digunakan untuk menentukan status setiap peserta didik terhadap kemampuan peserta didik lainnya. Artinya, Penilaian Acuan Normatif digunakan apabila kita ingin mengetahui kemampuan peserta didik di dalam komunitasnya seperti di kelas, sekolah, dan lain sebagainya.
  2. Penilaian Acuan Normatif menggunakan kriteria yang bersifat “relative”. Artinya, selalu berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi dan atau kebutuhan pada waktu tersebut.
  3. Nilai hasil dari Penilaian Acuan Normatif tidak mencerminkan tingkat kemampuan dan penguasaan siswa tentang materi pengajaran yang diteskan, tetapi hanya menunjuk kedudukan peserta didik (peringkatnya) dalam komunitasnya (kelompoknya).
  4. Penilaian Acuan Normatif memiliki kecendrungan untuk menggunakan rentangan tingkat penguasaan seseorang terhadap kelompoknya, mulai dari yang sangat istimewa sampai dengan yang mengalami kesulitan yang serius.
  5. Penilaian Acuan Normatif memberikan skor yang menggambarkan penguasaan kelompok.

Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Penilaian acuan patokan (PAP) biasanya disebut juga criterion evaluation merupakan pengukuran yang menggunakan acuan yang berbeda. Dalam pengukuran ini siswa dikomperasikan dengan kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dalam tujuan instruksional, bukan dengan penampilan siswa yang lain. Keberhasilan dalam prosedur acuan patokan tegantung pada penguasaaan materi atas kriteria yang telah dijabarkan dalam item-item pertanyaan guna mendukung tujuan instruksional .

Dengan PAP setiap individu dapat diketahui apa yang telah dan belum dikuasainya. Bimbingan individual untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran dapat dirancang, demikian pula untuk memantapkan apa yang telah dikuasainya dapat dikembangkan. Guru dan setiap peserta didik (siswa) mendapat manfaat dari adanya PAP.

Melalui PAP berkembang upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melaksanakan tes awal (pre test) dan tes akhir (post test). Perbedaan hasil tes akhir dengan test awal merupakan petunjuk tentang kualitas proses pembelajaran.

Pembelajaran yang menuntut pencapaian kompetensi tertentu sebagaimana diharapkan dan termuat pada kurikulum saat ini, PAP merupakan cara pandang yang harus diterapkan.

PAP juga dapat digunakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kurang terkontrolnya penguasaan materi, terdapat siswa yang diuntungkan atau dirugikan, dan tidak dipenuhinya nilai-nilai kelompok berdistribusi normal. PAP ini menggunakan prinsip belajar tuntas (mastery learning).

Persamaan dan Perbedaan Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Penilaian Acuan Norma dan Penilaian Acuan Patokan mempunyai beberapa persamaan sebagai berikut:

  1. Penilaian acuan norma dan acuan patokan memerlukan adanya tujuan evaluasi spesifik sebagai penentuan fokus item yang diperlukan. Tujuan tersebut termasuk tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus
  2. Kedua pengukuran memerlukan sample yang relevan, digunakan sebagai subjek yang hendak dijadikan sasaran evaluasi. Sample yang diukur mempresentasikan populasi siwa yang hendak menjadi target akhir pengambilan keputusan.
  3. Untuk mandapatkan informasi yang diinginkan tenyang siswa, kedua pengukuran sama-sama nenerlukan item-item yang disusun dalam satu tes dengan menggunakan aturan dasar penulisan instrument.
  4. Keduanya mempersyaratkan perumusan secara spesifik perilaku yang akan diukur.
  5. Keduanya menggunakan macam tes yang sama seperti tes subjektif, tes karangan, tes penampilan atau keterampilan.
  6. Keduanya dinilai kualitasnya dari segi validitas dan reliabilitasnya.
  7. Keduanya digunakan ke dalam pendidikan walaupun untuk maksud yang berbeda.

Perbedaan kedua penilaian adalah sebagai berikut:

  1. Penilaian acuan norma biasanya mengukur sejumlah besar perilaku khusus dengan sedikit butir tes untuk setiap perilaku. Penilaian acuan patokan biasanya mengukur perilaku khusus dalam jumlah yang terbatas dengan banyak butir tes untuk setiap perilaku.
  2. Penilaian acuan norma menekankan perbedaan di antara peserta tes dari segi tingkat pencapaian belajar secara relatif. Penilaian acuan patokan menekankan penjelasan tentang apa perilaku yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan oleh setiap peserta tes.
  3. Penilaian acuan norma lebih mementingkan butir-butir tes yang mempunyai tingkat kesulitan sedang dan biasanya membuang tes yang terlalu mudah dan terlalu sulit. Penilaian acuan patokan mementingkan butir-butir tes yang relevan dengan perilaku yang akan diukur tanpa perduli dengan tingkat kesulitannya.
  4. Penilaian acuan norma digunakan terutama untuk survey. Penilaian acuan patokan digunakan terutama untuk penguasaan.

KOMMAT 2017 Pendidikan Matematika Unindra

Apa itu KOMMAT?? KOMMAT adalah singkatan dari Kompetisi Matematika yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Kompetisi yang diikuti oleh seluruh sekolah Tingkat SMA/SMK/MA Se-Jadebotabek yang memperebutkan Piala Dekan, Piala Wakil Dekan, dan Piala lainnya.

Diikuti kurang lebih 180 Peserta dari 50 sekolah yang tersebar dari wilayah jadebotabek.Diselenggarakan di gedung 7 Kampus Unindra, yang merupakan gedung baru Unindra di Kampus Gedong.

Acara diawali sambutan sambutan dari pihak penyelenggara sekaligus promosi kepada bapak/ibu guru pendamping dan pesrta agar melanjutkan kuliah di Unindra, khususnya di Program Studi Pendidikan Matematika. Tepat pukul 09.00 wib acara kompetisi dimulai.

Peserta dibagi kedalam 7 ruangan, mengerjakan soal sebanyak 50 butir selama 100 menit. Tepat pukul 12.00 WIB, hasil kompetisi diumumkan, Akhirnya Juara 1 sampai Juara Harapan 2 disabet oleh satu sekolah yaitu SMA Dwiwarna Bogor. Sekaligus menjadi Juara Umum Acara KOMMAT 2017 Unindra.

Tunggu KOMMAT ke dua (#2) Tahun 2018. Siapakah yang akan mengalahkan Juara Bertahan. Let’s wait & see.

sb_yogabudibhakti

Free Fall and the Acceleration of Gravity

Introduction to Free Fall

  • Introduction to Free Fall
  • Acceleration of Gravity
  • Representing Free Fall by Graphs
  • How Fast? and How Far?
  • The Big Misconception

A free falling object is an object that is falling under the sole influence of gravity. Any object that is being acted upon only by the force of gravity is said to be in a state of free fall. There are two important motion characteristics that are true of free-falling objects:

  • Free-falling objects do not encounter air resistance.
  • All free-falling objects (on Earth) accelerate downwards at a rate of 9.8 m/s/s (often approximated as 10 m/s/s forback-of-the-envelope calculations)

Because free-falling objects are accelerating downwards at a rate of 9.8 m/s/s, a ticker tape trace or dot diagram of its motion would depict an acceleration. The dot diagram at the right depicts the acceleration of a free-falling object. The position of the object at regular time intervals – say, every 0.1 second – is shown. The fact that the distance that the object travels every interval of time is increasing is a sure sign that the ball is speeding up as it falls downward. Recall from an earlier lesson, that if an object travels downward and speeds up, then its acceleration is downward.

Free-fall acceleration is often witnessed in a physics classroom by means of an ever-popular strobe light demonstration. The room is darkened and a jug full of water is connected by a tube to a medicine dropper. The dropper drips water and the strobe illuminates the falling droplets at a regular rate – say once every 0.2 seconds. Instead of seeing a stream of water free-falling from the medicine dropper, several consecutive drops with increasing separation distance are seen. The pattern of drops resembles the dot diagram shown in the graphic at the right.

The Acceleration of Gravity

  • Introduction to Free Fall
  • Acceleration of Gravity
  • Representing Free Fall by Graphs
  • How Fast? and How Far?
  • The Big Misconception

It was learned in the previous part of this lesson that a free-falling object is an object that is falling under the sole influence of gravity. A free-falling object has an acceleration of 9.8 m/s/s, downward (on Earth). This numerical value for the acceleration of a free-falling object is such an important value that it is given a special name. It is known as the acceleration of gravity – the acceleration for any object moving under the sole influence of gravity. A matter of fact, this quantity known as the acceleration of gravity is such an important quantity that physicists have a special symbol to denote it – the symbol g. The numerical value for the acceleration of gravity is most accurately known as 9.8 m/s/s. There are slight variations in this numerical value (to the second decimal place) that are dependent primarily upon on altitude. We will occasionally use the approximated value of 10 m/s/s in The Physics Classroom Tutorial in order to reduce the complexity of the many mathematical tasks that we will perform with this number. By so doing, we will be able to better focus on the conceptual nature of physics without too much of a sacrifice in numerical accuracy.

g = 9.8 m/s/s, downward
( ~ 10 m/s/s, downward)

Representing Free Fall by Graphs

  • Introduction to Free Fall
  • Acceleration of Gravity
  • Representing Free Fall by Graphs
  • How Fast? and How Far?
  • The Big Misconception

Early in Lesson 1 it was mentioned that there are a variety of means of describing the motion of objects. One such means of describing the motion of objects is through the use of graphs – position versus time and velocity vs. time graphs. In this part of Lesson 5, the motion of a free-falling motion will be represented using these two basic types of graphs.

Representing Free Fall by Position-Time Graphs

A position versus time graph for a free-falling object is shown below.

Observe that the line on the graph curves. As learned earlier, a curved line on a position versus time graph signifies an accelerated motion. Since a free-falling object is undergoing an acceleration (g = 9.8 m/s/s), it would be expected that its position-time graph would be curved. A further look at the position-time graph reveals that the object starts with a small velocity (slow) and finishes with a large velocity (fast). Since the slope of any position vs. time graph is the velocity of the object (as learned in Lesson 3), the small initial slope indicates a small initial velocity and the large final slope indicates a large final velocity. Finally, the negative slope of the line indicates a negative (i.e., downward) velocity.

Representing Free Fall by Velocity-Time Graphs

A velocity versus time graph for a free-falling object is shown below.

Observe that the line on the graph is a straight, diagonal line. As learned earlier, a diagonal line on a velocity versus time graph signifies an accelerated motion. Since a free-falling object is undergoing an acceleration (g = 9,8 m/s/s, downward), it would be expected that its velocity-time graph would be diagonal. A further look at the velocity-time graph reveals that the object starts with a zero velocity (as read from the graph) and finishes with a large, negative velocity; that is, the object is moving in the negative direction and speeding up. An object that is moving in the negative direction and speeding up is said to have a negative acceleration (if necessary, review the vector nature of acceleration). Since the slope of any velocity versus time graph is the acceleration of the object (as learned in Lesson 4), the constant, negative slope indicates a constant, negative acceleration. This analysis of the slope on the graph is consistent with the motion of a free-falling object – an object moving with a constant acceleration of 9.8 m/s/s in the downward direction.

How Fast? and How Far?

  • Introduction to Free Fall
  • Acceleration of Gravity
  • Representing Free Fall by Graphs
  • How Fast? and How Far?
  • The Big Misconception

Free-falling objects are in a state of acceleration. Specifically, they are accelerating at a rate of 9.8 m/s/s. This is to say that the velocity of a free-falling object is changing by 9.8 m/s every second. If dropped from a position of rest, the object will be traveling 9.8 m/s (approximately 10 m/s) at the end of the first second, 19.6 m/s (approximately 20 m/s) at the end of the second second, 29.4 m/s (approximately 30 m/s) at the end of the third second, etc. Thus, the velocity of a free-falling object that has been dropped from a position of rest is dependent upon the time that it has fallen. The formula for determining the velocity of a falling object after a time of t seconds is

vf = g * t

(dropped from rest)

where g is the acceleration of gravity. The value for g on Earth is 9.8 m/s/s. The above equation can be used to calculate the velocity of the object after any given amount of time when dropped from rest. Example calculations for the velocity of a free-falling object after six and eight seconds are shown below.

Example Calculations:

At t = 6 s
vf = (9.8 m/s2) * (6 s) = 58.8 m/s

At t = 8 s
vf = (9.8 m/s2) * (8 s) = 78.4 m/s

The distance that a free-falling object has fallen from a position of rest is also dependent upon the time of fall. This distance can be computed by use of a formula; the distance fallen after a time of t seconds is given by the formula.

d = 0.5 * g * t2

(dropped from rest)

where g is the acceleration of gravity (9.8 m/s/s on Earth). Example calculations for the distance fallen by a free-falling object after one and two seconds are shown below.

Example Calculations:

At t = 1 s
d = (0.5) * (9.8 m/s2) * (1 s)2 = 4.9 m

At t = 2 s
d = (0.5) * (9.8 m/s2) * (2 s)2 = 19.6 m

At t = 5 s
d = (0.5) * (9.8 m/s2) * (5 s)2 = 123 m
(rounded from 122.5 m)

The diagram below (not drawn to scale) shows the results of several distance calculations for a free-falling object dropped from a position of rest.

The Big Misconception

  • Introduction to Free Fall
  • Acceleration of Gravity
  • Representing Free Fall by Graphs
  • How Fast? and How Far?
  • The Big Misconception

Earlier in this lesson, it was stated that the acceleration of a free-falling object (on earth) is 9.8 m/s/s. This value (known as the acceleration of gravity) is the same for all free-falling objects regardless of how long they have been falling, or whether they were initially dropped from rest or thrown up into the air. Yet the questions are often asked “doesn’t a more massive object accelerate at a greater rate than a less massive object?” “Wouldn’t an elephant free-fall faster than a mouse?” This question is a reasonable inquiry that is probably based in part upon personal observations made of falling objects in the physical world. After all, nearly everyone has observed the difference in the rate of fall of a single piece of paper (or similar object) and a textbook. The two objects clearly travel to the ground at different rates – with the more massive book falling faster.

The answer to the question (doesn’t a more massive object accelerate at a greater rate than a less massive object?) is absolutely not! That is, absolutely not if we are considering the specific type of falling motion known as free-fall. Free-fall is the motion of objects that move under the sole influence of gravity; free-falling objects do not encounter air resistance. More massive objects will only fall faster if there is an appreciable amount of air resistance present.

The actual explanation of why all objects accelerate at the same rate involves the concepts of force and mass. The details will be discussed in Unit 2 of The Physics Classroom. At that time, you will learn that the acceleration of an object is directly proportional to force and inversely proportional to mass. Increasing force tends to increase acceleration while increasing mass tends to decrease acceleration. Thus, the greater force on more massive objects is offset by the inverse influence of greater mass. Subsequently, all objects free fall at the same rate of acceleration, regardless of their mass.

Sejarah Peugeot 505 & Tips 505ers  

Di pertengahan bulan Mei tahun 1979, PSA Peugeot Citroen mulai memperkenalkan serie 505 di Cannes Casino yang mana designnya naturally by Pininfarina (source The peugeot Adventure by Jean-Paul Caracalla handbook halaman 128). title yang ada dibrochure menyebutkan ” … with the 505, Peugeot presents a new models line in which each detail reflect elegance and efficiency….”

Seri 505 ini dikeluarkan diantara serie 504 dan 604. Modelnya pun ada 2 jenis yaitu 505 Saloon dan 505 Family Estate yang lebih dikenal dengan nama Stationwagon. Jenis terakhir ini juga masuk ke Indonesia tapi kebanyakan dimiliki oleh Kedutaan2 besar Negara asing.
Seri 505 basicnya adalah mesin 4 cylinder, terbagi dalam 2 versi. Yang pertama adalah 1971 cc engine dengan 4 speed. Di negeri asalnya ada 2 versi GR dan SR. Top of the linenya ada seri STi dan SRD (diesel). Kemudian diperkenalkan pula 11 HP injection dengan kapacitas mesin 1995 cc 110 HP engine dengan 5 speed . Type Injection ini dikeluarkan dengan 2 versi TI dan STi. Yang menjadi catatan bahwa mesinnya masih 4 cylinder yang diproduksi oleh Societte francaise de mecanique yang identik dengan CX Athena atau Renault 20TS engine. Mesin2 505 yang diproduksi banyak ragamnya seperti :

1). 505GL, 505GR dan 505SR (automatic + Sunroof) model XM7=XM7A (1796cc, overhead valve, carburettor) dan XN1=XN1A (1971cc, overhead valve, carburettor),

2). 505GTi, 505TI dan 505STi (automatic) / Petrol Injection Bosch K-Jetronic atau Bosch LE2-Jetronic type model ZEJ = ZEJK (1995cc, overhead camshaft, fuel injection) ;

3). 505GRD dan 505 SRD Diesel injection model XD2 (2304 cc),

Panjang dan lebar keseluruhan dari 505 Saloon adalah 4.58 Meter dan 1.73 meter sedangakn untuk Family estate adalah 4.90 meter dan 1.73 meter. Kapasitas tanki bahan bakar buat GR adalah 52 liter (11.4 Gallons) dan 505 GTi adalah 70 Liter (15.4 Gallons).
Konsumsi BBM untuk 505 Untuk constant speed driving 90km/jam GR Automatic butuh 8 L/100km sedangkan GR Manual 5 Speed butuh 6.7L/100km dan GR Manual 4 speed butuh 7.1L/100 Km, ini berlaku kalau cruising di 90 km/jam terus. Lalu untuk urban driving GR Automatic butuh 10.9L/100km, sedangkan GR Manual 4 or 5 Speed butuh 11.3 L/100km
Serie 505 mulai menjelajah Indonesia diera tahun 1981 hingga tahun 1988. Variant yang ada diindonesia seperti dibawah ini yang mempunyai beberapa versi dan perbedaan diinterior ataupun exterior.

505 GR ’81 ~ ’84.
Mesin XN1A, overhead valve, karburator, mesin 1971 CC, interior coklat, jok karung, dashboard ukuran kecil, antenna luar samping, manual 4 speed, rem disc brake depan lalu belakang tromol.
505 GR ’84 ~ ’85.
Mesin XN1A, overhead valve, karburator, mesin 1971 CC, interior coklat, jok karung, dashboard ukuran kecil, antenna luar samping, manual 5 speed, rem disc depan lalu belakang tromol.

505 GR ”85 ~ ’86.
Mesin XN1A, overhead valve, karburator, mesin 1971 CC, interior coklat, jok karung, dashboard ukuran kecil, antenna samping, manual 5 speed atau automatic 3 speed, rem disc depan lalu belakang tromol. Ada side lamp di dekat bumper depan dan belakang, bumpernya tebal dikenal dengan nick name Paus.

505 GR ’86 ~ ’88.
Mesin XN1A, overhead valve, karburator, mesin 1971 CC, interior coklat, biru, abu-abu, jok suede, dashboard besar GTi, electric window, antenna tengah, manual 5 speed atau autonatic 3 speed, rem disc depan lalu belakang tromol. Ada side lamp di dekat bumper depan dan belakang, bumpernya tebal dikenal dengan nick name Paus juga.

GTi ’87 ~’88.
Mesin ZDJL, overhead Cams, Injection L-Jetronic, mesin 2165 CC, interior abu-abu, jok suede, dashboard besar GTI, electric window, electric mirror untuk tahun ’89, adjusted headrest untuk tahun ’89, Antenna tengah, manual 5 speed atau automatic 4 speed, rem disc depan lalu belakang disc juga. Spoiler depan bawah, spoiler belakang bawh, spiler bagasi, lampu kabut belakang, limited slip.

Kalau mencari 505 GR second hand sebenarnya mau dilihat detailnya juga banyak sekali. Tapi yang penting Airconditioner switch yang naik turun sekaligus buka flap diruang mesin masih berfungsi tidak, juga buat vacum AC nya sendiri yang ada diruang mesin, econoscope light sebagain indicator pembacaan penggunaan BBM boros atau tidaknya. Kemudian lihat juga dibawah pintu apakah lipatannya masih asli atau pernah di las ulang karena ciri khas 505 pintu penumpang bagian belakang sering keropos. Juga cek bagian belakang bagasi bagian dalam. Ini yang sering terlewatkan karena tertutup dengan trimming bagasi terutama bagian bawahnya sering berlubang tidak ketahuan.

Kalau buat 505 GTi (Indonesian version) pastikan generator kelistrikannya juga harus bagus, umumnya 505 GTi’s owner selalu maintained voltage generatornya tetap stabil, diusahakan jangan kurang dari 13,8 Volt, kalau kurang effek sampingnya mesin akan suka nyendat2, bensin rada boros karena supply listrik sebagai jantung utama akan berpengaruh banyak terhadap AFM nya. Dari Air Flow Sensor ini semua diatur seperti layaknya ECU yang ada digenerasi mobil sekarang. Air Flow sensor juga perlu dilihat (lokasinya ada disisi kiri depan jika engine hood dibuka) yang berbentuk kotak dan depannya menghadap ke Air Cleaner dan bagian belakanganya menghadap air intake pipe apakah jalur2 dalam bentuk PCB (printed circuit board) masih bagus dalamnya kalau jalur2 yang berwarna hitam sudah hilang effeknya akan sangat terasa seperti waktu mesin idle mesin tidak bisa stationer secara halus.

Demikian juga lampu2 interior diperhatikan beserta tombolnya apakah masih berfungsi, keutuhan dashboard karena pada umumnya dashboard 505 bahannya beda dengan mobil2 sekarang yang tidak mudah retak walaupun dijemur dibawah panas matahari.
Solusi menjaga dashboard 505 supaya tidak pecah2 atau retak sekaligus menjaga instrument cluster beserta isinya agar tidak rusak, bagian kaca depan sebaiknya dipasang kaca film dan jika mobil diparkir diareal terbuka bawah panas terik matahari, sebaiknya jendela penumpang / pengemudi bisa diturunkan sedikit agar hawa panas di kabin bisa keluar dan sirkulasi dengan angin dari luar. Jangan terlalu lebar karena bukan panas yang hilang tapi Radio Tape anda yang akan raib.

Pengantian parts dari pada kaki2 umumnya tergantung juga dari pada route jalan yang dilalui, tambah sering melewati jalan rusak tambah singkat umurnya, ini berlaku buat semua merk mobil dan tidak terbatas di Peugeot saja. Dari sisi lain jika kaki2 perlu dan keseringan ada penggantian juga harus dilihat dari pada penggunaan wheel rimnya. Jika pakai wheel rim ukuran non standard (max yang diijinkan pabrikan adalah +1-1) seperti ukuran 17″, 18″ dan 19″ tentunya umur tie rod, ball joint, bearing dlsb lebih singkat karena beban yang ditanggung juga extra berat.

Saran2 untuk pemakai 505 :
1). untuk para pengguna 505 GTi usahakan pakai busi yg type cones / tappered seat type (tidak pakai ring, sudut bibir ringnya miring), kalo pakai yang type ring, nyala sih nyala mesinnya, menurut beberapa pakar Peugeot effek sampingya adalah kompresi bocor dan mobil tidak bisa lari
2). Buat para pemilik “the living legend”. XN-1 dan ZDJL setel klepnya saat mesin betul2 dingin !. Buka cover klep dan tunggu 4-5 jam. Setelan klepnya dah tau kan? inlet 0.10 mm (0.004″) dan exhaust 0.25 mm (0.010″)
3). Menurut manual book disarankan menggunakan olie yang telah dianjurkan seperti : Manual gearbox oil: Pake oli mesin, SAE 10W-40 ; Differential GR: SAE 80W-90 dan Differential GTI (Limited slip) SAE 90 LS.
4). Ganti olie final drive/diferential 505 GR setiap 15.000 Km , kapasitas 1.550 liter.
5). Berikan grease setiap 7.500 km disetiap nepple (left hand dan right hand steering swivel, proplere shaft center bearing)