PENDIDIKAN, KEMISKINAN & KEBODOHAN

Tiga buah kata yang mungkin akan saling berkaitan.

Kemiskinan menyebabkan seseorang tidak memperoleh pendidikan, yang pada akhirnya menyebakan kebodohan pada orang tersebut.

Kebodohan disebabkan orang karena tidak memperoleh pendidikan akibat kemiskinan. Ada juga karena mengalami kebodohan tidak memperoleh pekerjaan sehingga menyebabkan kemiskinan.

Kesimpulannya: Pada dasarnya pendidikan dapat mengentaskan diri dari kemsikinan dan kebodohan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Terus Berjuang Para Pendidik meski dalam keterbatasan

Semangat Belajar Peserta Didik, Generasi Penerus Banga

Oleh: sb_yogabudibhakti 

 

Implementasi Ilmu Fisika Bagi Masa Depan Bangsa

Fisika merupakan basic science yang memiliki manfaat besar dalam segala aspek kehidupan manusia. Namun demikian, sebagian besar masyarakat hanya melihat fisika dari sisi rumus dan perhitungan yang bersifat abstrak. Padahal, perkembangan teknologi yang pesat berupa alat (endoscopy, CT-scan, dll) dalam dunia kedokteran misalnya, salah satu andil besarnya adalah ilmu fisika.  Demikian pula dalam bidang komunikasi, persamaan Maxwell dapat menjadikan manusia dapat berkomunikasi tanpa batasan jarak. Penerapan ilmu fisika juga berlaku dalam bidang ilmu yang lainnya.

Kondisi berkembangnya ilmu fisika, masih belum diiringi oleh berkembangnya riset dan publikasi ilmiah di Indonesia. Dari sisi publikasi, Indonesia berada pada urutan ke-57 dari 239 berdasarkan pemeringkatan portal SCImago saat ini (www.scimagojr.com). Indonesia kalah jauh dari tetangga Malaysia yang berperingkat 35 dan Singapura dengan peringkat 32 dan Thailand yang menempati peringkat ke-43. Padahal, publikasi ilmiah merupakan media aktualisasi diri para akademisi dan peneliti dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Sumber: https://sinarkisifisika.wordpress.com/

Penilaian Ranah Afektif

Penilaian Ranah Afektif

KONSEP DASAR

Kemampuan afektif merupakan bagian dari hasil belajar siswa yang sangat penting. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotorik sangat ditentukan oleh kondisi afektif siswa. Siswa yang memiliki minat belajar dan sikap yang positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tersebut sehingga mereka akan dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal.

Menurut Krathwohl ( dalam Gronlund and Linn, 1990 ),ranah afektif terdiri atas lima level yaitu :

  • Receiving. Receiving merupakan keinginan siswa untuk memperhatikan suatu gejala atau stimulus, misalkan aktivitas dalam kelas,buku atau musik.
  • Responding. Responding merupakan partisipasi aktif siswa untuk merespon gejala yang dipelajari
  • Valuing. Valuing merupakan kemampuan siswa untuk memberikan nilai,keyakinan atau sikap dan menunjukkan suatu derajat internalisasi dan komitmen.
  • Organization. Organization merupakan kemampuan anak untuk mengorganisasi nilai yang satu dengan nilai yang lain dan konflik antar nilai mampu diselesaikan dan siswa mulai membangun sistem internal yang konsisten.
  • Characterization. Characterization merupakan level tertinggi dalam ranah afektif. Pada level ini siswa sudah memiliki system nilai yang mampu mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga menjadi pola hidupnya.

Sedangkan karakteristik yang penting dalam ranah afektif adalah sikap, minat, konsep diri dan nilai.

  • Sikap. Menurut Fishbein dan Ajzen seperti dikutip oleh Mardapi (2004), sikap didefinisikan   sebagai  predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negative terhadap suatu objek, situasi, konsep atau orang. Proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila pihak sekolah mampu mengubah sikap siswa dari sikap negatif menjadi sikap positif.
  • Minat. Menurut Getzel (dalam Mardapi, 2004), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untukmemperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman dan ketrampilanuntuk tujuan perhatian dan pencapaian. Hal penting pada minat adalah intensitas untuk memperoleh sesuatu
  • Konsep diri. Konsep diri adalah penilaian yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan diri sendiri (Smith dalam Mardapi, 2004). Konsep diri penting untuk menentukan jenjang karir siswa. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri maka siswa akan dapat memilih alternative karir yang tepat bagi dirinya.
  • Nilai. Nilai merupakan suatu keyakinan yang dalam tentang perbuatan, tindakan atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap tidak baik (Rokeach dalam Mardapi, 2004). Sekolah perlu membantu siswa untuk menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna bagi siswa agar siswa mampu  mencapai kebahagiaan diri dan mampu memberikan hal-hal yang positif bagi masyarakat.

BEBERAPA CARA MENILAI RANAH AFEKTIF

Menurut Ericson (dalam Nasoetion dan Suryanto, 2002), penilaian afektif dapat dilakukan dengan cara.

  1. Pengamatan langsung, yaitu dengan memperhatikan dan mencatat sikap dan tingkah laku siswa terhadap sesuatu,benda, orang, gambar atau kejadian. Dari tingkah laku yang muncul kemudian dicari atribut yang mendasari tingkah laku tersebut.
  2. Wawancara, dilakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka atau tertutup. Pertanyaan tersebut digunakan sebagai pancingan.
  3. Angket atau kuesioner, merupakan suatu perangkat pertanyaan atau isian yang sudah disediakan pilihan jawaban baik berupa pilihan pertanyaan atau pilihan bentuk angka.
  4. Teknik proyektil, merupakan tugas atau pekerjaan atau objek yang belum pernah dikenal siswa. Para siswa diminta untuk mendiskusikan hal tersebut menurut penafsirannya.
  5. Pengukuran terselubung, merupakan pengamatan tentang sikap dan tingkah laku seseorang dimana yang diamati tdak tahu bahwa ia sedang diamati.

LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN INSTRUMEN AFEKTIF

  • Merumuskan tujuan pengukuran afektif Pengembangan alat ukursikap bertujuan untukmengetahui sikap siswa terhadap sesuatu objek, misalnya sikap siswa terhadap kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Alat ukur minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat siswa terhadap sesuatu. Hasil pengukuran minat akan bermanfaat  bagi sekolah untuk mengidentifikasi dan menyediakan sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan minat siswa. Sedangkan bagi siswa akan bermanfaat untuk mempelajari sesuatu objek sesuai dengan minatnya.
  • Mencari definisi konseptual dari afektif yang akan diukur Setelah tujuan pengukuran ditetapkan maka langkah berikutnya adalah merumuskan definisi konseptual dari afektif yang akan diukur.
  • Menentukan definisi operasional dari setiap afektif yang akan diukur Penentuan definisi operasional dimaksudkan untuk menentukan cara pengkuran    definisi  konseptual.
  • Menjabarkan definisi operasional menjadi sejumlah indicator Indikator merupakan petunjuk terukurnya definisi operasional. Dengan demikian indikator  harus operasional dan dapat diukur. Ketepatan pengukuran ranah konektif sangat ditentukan oleh kemampuan penyusun instrument dalam membuat atau merumuskan indikator.
  • Menggunakan indikator sebagai acuan menulis pernyataan-pernyataan dalam instrument. Penulisan instrument atau alat ukur dapat dilakukan dengan menggunakan skala pengukuran. Skala pengukuran yang paling banyak digunakan adalah skala Liekert. Skala Likert merupakan salah satu jenis skala pengukuran ranah afektif yang terdiri dari sejumlah pertanyaan yang diikuti dengan penilaian responden terhadap setiap pernyataan dengan menggunakan lima skala mulai dari yang paling sesuai sampai  dengan yang paling tidak sesuai.
  • Meneliti kembali setiap butir pernyataan Penelitian kembali instrument yang selesai ditulis sebaiknya dilakukan oleh orang yang telah memiliki banyak pengalaman dalammengembangkan alat ukur afektif minimal dua orang.Kepada dua orang tersebut diberikan spesifikasi dari setiap butir (tujuan pengukuran,definisi konseptual, definisi operasioanl, indicator dan pernyataan yang dibuat) dan rambu – rambu penulisan pernyataan yang baik seperti yang disarankan oleh Edwards.
  • Melakukan uji coba Perangkat instrument yang telah ditelaah dan diperbaiki,disusun dan diperbanyak untuk kemudian di uji cobakan dilapangan. Tujuan uji coba adalah untuk mengetahui perangkat alat ukur tersebut sudah dapat memberikan hasil pengukuran seperti yang kita inginkan.
  • Menyempurnakan instrument Data yang diperoleh dari hasil uji coba selanjutnya kita olah untuk memperoleh gambaran tentang validitas dan reliabilitas instrumen tersebut. Berdasarkan data hasil uji coba kita akan dapat memperbaiki butir-butir pernyataan yang dianggap lemah. Dengan demikian pada akhir kegiatan ini kita sudah dapat memperoleh perangkat instrumen  yang memenuhi syarat sebagai alat ukur yang baik.
  • Mengadministrasikan instrument Yang dimaksud dengan mengadministrasikan instrumen  adalah melaksanakan pengambilan data di lapangan. Untuk mengadministrasikan instrumen  di lapangan perlu diperhatikan beberapa hal yaitu:
  1. Kesiapan perangkat instrument. Kesiapan perangkat instrumen  paling tidak terdiri dari petunjuk cara menjawab dan contoh  pengisian instrumen.
  2. Tenaga lapangan. Tenaga lapangan yang dibutuhkan disesuaikan dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti. Sebelum terjun ke lapangan, petugas perlu dilatih bagaimana melaksanakan pengumpulan data di lapangan. Pelatihan ini dimaksudkan agar semua petugas lapangan mempunyai persepsi yang sama dalam mengambil data.
  3. Kesiapan responden. Sebelum pengumpulan data dilakukan kita perlu menghubungi instansi atau unit yang terkait di lapangan agar pada saat pengambilan data dilakukan semua responden sudah siap.

 

Akreditasi: “Pengakuan Masyarakat atau Kelengkapan Berkas??”

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

akreditasi/ak·re·di·ta·si/ /akroniméditasi/ n 1 pengakuan terhadap lembaga pendidikan yang diberikan oleh badan yang berwenang setelah dinilai bahwa lembaga itu memenuhi syarat kebakuan atau kriteria tertentu; 2 pengakuan oleh suatu jawatan tentang adanya wewenang seseorang untuk melaksanakan atau menjalankan tugasnya.

Sebagian kita pernah mengalami bahkan berperan dalam persiapan akreditasi sebuah lembaga atau institusi. Di mana hal yang paling menyibukkan adalah mempersiapkan dokumen yang mendukung untuk akreditasi. kebayang kan kalau dokumennya gak ada.

Ya kalau dokumennya gak ada, ya harus dibuat, yang gak ada menjadi ada dan diadakan agar lengkap dan hasil akreditasinya baik. Syarat Akreditas di negeri Paman Besut yang penting berkasnya lengkap. (Padahal asesor tau yang dikoreksi adalah data yang dibuat-buat / dokumen yang diadakan. Ironisnya mereka senang kalau yang dicari ada, padahal data itu fiktif).

Jika sistem administrasi dilembaga itu sudah sesuai jalannya, maka kita gak perlu repot buat dokumen palsu. tapi nilai yang akan diperoleh apa adanya (sulit membedakan kejujuran demi kebaikan atau kebohongan demi kebaikan).

Kalau kita belajar dari Negara Finlandia, negara yang kualitas pendidikan nomor 1 di dunia. Akreditasi sekolah yang baik adalah pengakuan dari masyarakat bukan kelengkapan dari dokumen (ya mungkin didukung dari kelengkapan dokumen juga).

kalau dinegara paman besut??? hanya berdaarkan standar dari pemerintah. Tapi, jarang dilaksanakan juga sih. bayangkan aja, ada sekolah punya lapangan luas, lab lengkap, fasilitas olahraga, sekolah negeri Akreditasinya B. Sedangkan sekolah yang di ruko, statusnya sewa gedung, Akreditasnya bisa A. Standar ganda yang diterapkan.

Berani Jujur Itu Baik

Lulusan apapun boleh jadi guru, lulusan kependidikan??

Sarjana Pendidikan atau disingkat dengan S.Pd merupakan gelar yang akan didapatkan oleh mahasiswa setelah lulus dari kuliah kependidikan. Semua mahasiswa yang mendapatkan gelar tersebut adalah mahasiwa yang kuliah di pendidikan dengan jurusannya masing-masing. Tujuannya satu, bagaimana cara untuk menghasilkan tenaga pendidik yang berkualitas bagi anak-anak bangsa. Itu adalah esensi dasar dari dari Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) di mana para lulusannya nanti akan diterjunkan langsung untuk mengajar di sekolah formal maupun informal.

Mahasiswa yang kuliah di kependidikan dibekali ilmu pedagogik dan materi ilmu sesuai bidangnya kemudian disyaratkan mengikuti Program Pengalaman Lapangan di Sekolah selama 3-6 bulan. Tetapi Program PPL sudah diwajibkan di lembaga LPTK, sejalan dengan peraturan pemerintah yang mebolehkan seluruh lulusan menjadi guru, asal memenuhi syarat sesuai UU guru dan dosen.

Jika kita perhatikan saat pembukaan formasi CPNS di negara kita, sarjana kependidikan hanya bisa mendaftar di pemda yang mebuka lowongan, tidak bisa di beberapa kementerian.

Jika menjadi guru adalah profesi, bagaimana dengan kedokteran atau dokter? Bukanlah itu bidang yang disamakan dalam profesi juga? Jika syarat menjadi dokter haruslah sarjana kedokteran, bukankah guru harus demikian juga? Jika untuk menjadi seorang dokter harus berlatar belakang bidang kedokteran yang mumpuni, bukankah seorang guru telah ditempa menjadi guru profesional yang memiliki kemampuan yang mumpuni di bidangnya?

Mungkin kita bisa belajar dari negara Finlandia. Di Finlandia, guru adalah profesi paling mulia dan paling susah untuk dicari. Bayangkan, setiap tahunnya, kampus jurusan kependidikan adalah kampus favorit di sana, dan peluang untuk lolos di kampus kependidikan di Finlandia pun sangat kecil, 1 : 8 jika dibandingkan dengan kedokteran

Bisa dikatakan, lahan kerja sarjana kependidikan dijajah oleh lulusan non-kependidikan. Ketika sarjana non-kependidikan sudah kalah bersaing tidak bisa bekerja pada bidang ilmunya, mungkin pilihan terakhir mereka banting stir menjadi guru.

Ah sudahlah, Alangkah Lucunya Negeri Ini.

Tetap semangat mahasiswa kependidikan!!!!

Kalimat yang selalu hadir dalam benak saya:

Jika syarat menjadi dokter haruslah sarjana kedokteran, bukankah guru harus demikian juga? Kenapa Hal itu tidak berlaku untuk Guru??????????

Miris Rokok Elektrik Di Kalangan Pelajar

Rokok elektronik atau rokok elektrik sedang menjadi fenomena baru di tengah masyarakat Indonesia. Banyak yang beralih ke rokok elektrik karena menganggap cara merokok seperti ini aman dan lebih trendi, tanpa mengurangi kenikmatan merokok tembakau itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah rokok elektrik aman?

Menurut Craig Youngblood, presiden perusahaan pembuat rokok elektrik InLife, produk buatannya lebih aman daripada rokok tembakau. Dia juga menyatakan rokok elektrik bebas polusi dan tidak berbau karena mengeluarkan uap, bukan asap.

Sebagian instansi internasional dan nasional turut memberikan tanggapan mengenai tingkat keamanan dan peredaran rokok elektrik.

World Health Organization (WHO)

WHO merilis sebuah laporan berisi anjuran untuk tidak menggunakan rokok elektrik di dalam ruangan karena produk ini bisa mengeluarkan racun seperti rokok biasa. Meski tidak mengeluarkan asap, uap rokok elektrik yang mengandung zat kimia berbahaya juga dapat menimbulkan polusi udara. WHO juga menganjurkan untuk tidak menjual rokok elektrik kepada orang-orang di bawah usia 18 tahun.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)

Begitu pula di Indonesia, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) telah memperingatkan masyarakat bahwa rokok elektrik yang beredar di pasaran adalah produk ilegal dan belum terbukti keamanannya. Menurut BPOM, rokok elektrik mengandung nikotin cair dan bahan pelarut propilen glikol, dieter glikol, dan gliserin. Jika semua bahan itu dipanaskan akan menghasilkan senyawa nitrosamine. Senyawa tersebut dapat menyebabkan kanker.

Apa Saja Kandungan Rokok Elektrik?

Rokok elektrik atau biasa juga disebut dengan sistem pengiriman nikotin elektronik (ENDS) adalah alat penguap bertenaga baterai yang dapat menimbulkan sensasi seperti merokok tembakau. Tampilannya pun ada yang menyerupai rokok dan ada pula yang didesain berbeda. Rokok elektrik pertama kali dipatenkan oleh apoteker asal Tiongkok, Hon Lik, pada tahun 2003. Kemudian dipasarkan di Tiongkok pada tahun 2004 melalui perusahaan Golden Dragon Holdings (kini bernama Ruyan).

Di dalam rokok elektrik terdapat tabung berisi larutan cair yang bisa diisi ulang. Larutan ini mengandung nikotin, propilen glikol, gliserin, dan perasa. Larutan ini dipanaskan, kemudian muncul uap selayaknya asap. Sebagian perusahaan menjual cairan perasa tertentu. Antara lain perasa mentol/mint, karamel, buah-buahan, kopi, atau cokelat.

Nikotin

Nikotin merupakan zat yang terdapat pada daun tembakau. Nikotin berfungsi  sebagai obat perangsang dan memberikan efek candu. Itulah sebabnya banyak perokok yang sulit berhenti merokok.

Propilen glikol

Propilen glikol merupakan cairan senyawa organik yang tidak berbau dan tidak berwarna, namun memiliki rasa agak manis. FDA atau Lembaga Pengawas Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat telah menyatakan bahwa senyawa ini aman jika digunakan dalam kadar rendah.

Gliserin

Gliserin adalah cairan kental tidak berbau dan tidak berwarna. Zat ini sering digunakan pada perpaduan formulasi farmasi. Cairan manis yang dianggap tidak beracun ini sering pula dipakai oleh industri makanan. Gliserin berfungsi sebagai pengantar rasa dan nikotin dalam penggunaan rokok elektronik.

Pandangan BNN Tentang Rokok Elektrik

Kepala BNNK Surabaya AKBP Suparti menilai, rokok elektrik memang bisa menjadi salah satu modus para mafia narkoba untuk membidik sasaran baru, khususnya generasi muda khususnya pelajar.

“Itu (rokok) kan ada aneka rasa, dan itu yang patut diwaspadai. Karena bisa mengandung zat tertentu,” katanya.

Dalam kesempatan itu, AKBP Suparti menjelaskan akan bahayanya narkoba ketika menyerang para pelajar. Di Surabaya, sudah ditemukan beberapa kasus anak pelajar yang menggunakan narkoba. Untuk itu pihak sekolah juga diminta jeli dalam memperhatikan perilaku anak didiknya.

“Di kamar mandi itu juga perlu diwaspadai, khususnya anak anak yang lama berada di kamar mandi,” kata AKBP Suparti dihadapan para perwalikan sekolah di Surabaya. Perubahan perilaku pelajar yang cukup drastis juga perlu diwaspadai.

Suparti menandaskan, dalam mencegah penggunaan narkoba pada kalangan pelajar, upaya sosialisasi tidak hanya pada kalangan sekolah menengah SMA dan SMP saja, namun juga harus dilakukan pada sekolah dasar bahkan hingga sekolah taman kanak kanak.

Kustantinah menjelaskan dalam rokok elektrik terdapat nikotin cair dengan bahan pelarut propilen glikol, dieter glikol ataupun gliserin. Jika nikotin dan bahan pelarut ini dipanaskan maka akan menghasilkan nitrosamine. “Senyawa nitrosamine inilah yang menyebabkan penyakit kanker.”

Kustantinah menambahkan, semua rokok elektrik yang beredar di Indonesia adalah ilegal dan berbahaya bagi kesehatan. Di seluruh dunia, ia juga mengungkapkan, tidak ada negara satupun yang menyetujui rokok elektrik. Bahkan di beberapa negara seperti Australia, Brazil dan China rokok
elektrik dilarang.

“Padahal negara China yang menemukan rokok elektrik pada 2003. Namun, pemerintah China sudah melarang peredarannya,” katanya menjelaskan.

Untuk itulah BPOM bersama Kementrian Kesehatan, Kementrian Industri dan Kementrian Perdagangan akan mengkaji lebih dalam tentang rokok elektrik. “Rokok elektrik tidak akan pernah didaftarkan, disetujui dan akan dilarang di Indonesia,” ujarnya.