Ungkapan einstein diatas sering di kutip dalam berbagai artikel, namun sepanjang saya sering membaca artikel yang mengutip kalimat tersebut, jarang saya menemui korelasi yang benar antara ungkapan tersebut dengan artikel yang di tulis. Sepertinya banyak orang yang tidak tahu latar belakang atau “asbabun nuzul” mengapa einstein mengucapkan kalimat tersebut (cuma asal kutip?). karena sebenarnya hal ini adalah sebuah fenomena menarik dimana seorang ilmuwan tidak percaya dengan implikasi dari teori yang di rumuskannya sendiri.

kembali ke masa Fisika Klasik. Sejak jaman newton, orang-orang percaya bahwa alam semesta ini deterministik: Jika kita mengetahui semua perangkat hukum alam serta kondisi awalnya, maka kita dapat memperkirakan apa yang akan terjadi dimasa depan. Fisika Klasik menganggap alam semesta ini adalah sebuah mesin raksasa yang komplex namun taat pada aturan dan hukum yang berlaku. Kalau saja kita mengetahui cara kerja mesin ini, maka kita dapat meramalkan tabiatnya. Kurang lebih begitulah. Namun munculnya Prinsip ketidak pastian dari Heisenberg, meruntuhkan kepercayaan ini. Alam semesta tidak sedeterministik yang dibayangkan sebelumnya. Selalu terdapat ketidak pastian dari setiap apa yang ingin kita ukur atau ketahui kondisinya secara eksak.

Einstein yang percaya bahwa alam semesta ini deterministik sangat menentang prinsip ini. “Tuhan tidak bermain dadu” kalimat tersebut mengungkapkan ketidak setujuannya pada prinsip ketidak pastian. kalimat ini dikatakanya kepada Niels Bohr dan dijawab “Einstein, Kamu ga usah mendikte Tuhan apa yang harus DIA lakukan”. Dua orang ini paling seru kalau berdebat tentang prinsip ketidak pastian. Dua ungkapan diatas sebenarnya mempunyai makna yang mendalam.

Perkembangan ilmu fisika (terutama mekanika Quantum) membuktikan bahwa Einstein salah. Alam semesta memang tidak deterministik. Jadi benar tuhan bermain dadu? ya enggak, cuma main monopoly. Halah…..

Meminjam ungkapan Sthepen Hawking “Bukan sahaja Tuhan bermain dadu… Dia kekadang membuang dadu di tempat yang tidak dapat dilihat.” menunjukkan bahwa ilmu manusia masih terlalu sedikit bahkan untuk sekedar memahami hasil ciptaanNYA