Etnografi

 

  1. A.      Pengertian

 

Etnografi adalah suatu bentuk penelitian yang berfokus pada makna sosiologi melalui observasi lapangan tertutup dari fenomena sosiokultural. Biasanya para peneliti etnografi mem­fokuskan penelitiannya pada suatu masyarakat (tidak selalu secara geografis, juga memerhatikan pekerjaan, pengangguran, dan masyarakat lainnya), pemilihan informan yang mengetahui yang memiliki suatu pandangan/pendapat tentang berbagai kegiatan masyarakat. Para informan tersebut diminta untuk mengidentifikasi informan-informan lainnya yang mewakili masyarakat tersebut, menggunakan sampling berantai untuk memperoleh suatu kelengkapan informan dalam semua wilayah empiris penyelidikan. Informan-informan tersebut diwawancarai berulang-ulang, menggunakan informasi dari informan-informan sebelumnya untuk memancing klarifikasi dan tanggapan yang lebih mendalam terhadap wawancara ulang. Proses ini dimaksud­kan untuk melahirkan pemahaman-pemahaman kultural umum yang berhubungan dengan fenomena yang sedang diteliti. Pe­mahaman-pemahaman subjektif bahkan kolektif tentang suatu subjek ini sering diinterpretasikan menjadi lebih berarti daripada data objektif (misalnya perbedaan pendapat).

Perlu dicatat bahwa penelitian etnografi dapat didekati dari titik pandang preservasi seni dan kebudayaan, dan lebih sebagai suatu usaha deskriptif daripada usaha analitis. Jadi, bagaimana­pun penelitian etnografi berfokus pada aspek-aspek analitik ilmu sosial. Dalam fokus ini, penelitian etnografi merupakan suatu cabang dari antropologi budaya. Berikut adalah beberapa definisi tentang penelitian etnografi.

  1. “When used as a method, ethnography typically refers to fieldwork (alternatively, participant-observation) conducted by a single investigator who ‘lives with and lives like’ those who are studied, usually for a year or more”. (John Van Maanen, 1996).
  2. “Ethnography literally means ‘a portrait of a people.’ An eth­nography is a written description of particular culture — the customs, beliefs, and behavior—based on information collected through fieldwork.” (Marvin Harris and Orna Johnson, 2000).
  3. “Ethnography is the art and science of describing a group or culture. The description may be small tribal group in an exotic land or a classroom in middle-class suburbia.” (David M. Fetterman, 1998) (Genzuk, 2005: 1)

Etnografi adalah suatu metode penelitian ilmu sosial. Peneli­tian ini sangat percaya pada ketertutupan (up-close), pengalaman pribadi, dan partisipasi yang mungkin, tidak hanya pengamatan, oleh para peneliti yang terlatih dalam seni etnografi. Para etno­grafer ini sering bekerja dalam tim multidisipliner. Titik fokus (focal point) etnografi dapat meliputi studi intensif budaya dan bahasa, studi intensif suatu bidang atau domain tunggal, serta gabungan metode historis, observasi, dan wawancara. Penelitian etnografi khusus menggunakan tiga macam pengumpulan data: wawancara, observasi, dan dokumen. Ini pada gilirannya meng­hasilkan tiga jenis data: kutipan, uraian, dan kutipan dokumen, menghasilkan dalam suatu produk: uraian naratif. Uraian naratif ini sering meliputi tabel, diagram, dan artefak tambahan yang membantu penceritaan (to tell “the story”) (Hammersley, 1990, dalam Genzuk, 2005: 1).

Etnografi berakar pada bidang antropologi dan sosiologi. Para praktisi dewasa ini melaksanakan penelitian etnografi di dalam organisasi dan masyarakat dalam segala bentuk. Ahli etnografi melakukan studi persekolahan, kesehatan masyarakat, perkembangan pedesaan dan perkotaan, konsumen dan barang konsumsi, serta arena manusia mana pun. Sementara itu, secara khusus disesuaikan dengan penelitian eksploratoris, etnografi mendukung suatu cakupan luas dari metodologi kualitatif dan kuantitatif, yang bergerak dari “learning” dan “testing” (Agar, 1996, dalam Genzuk, 2005: 1), sedangkan masalah penelitian, perspektif, dan teori muncul dan bergeser. Metode etnografi merupakan sarana pencabangan poin-poin pandangan lokal, “data pengetahuan” keluarga dan masyarakat, sarana peng­identifikasian kategori pengalaman manusia yang bermakna dari pengalaman manusia yang tertutup dan pribadi. Etnografi me­ningkatkan dan memperluas pandangan atas bawah (top-down) dan memperkaya proses penelitian (inquiry process), menyalur­kan pandangan baik dari arus bawah maupun dari arus puncak. Melalui temuan seperti itu ahli etnografi dapat menginformasikan temuan mereka yang lain dengan usaha untuk menghasilkan, sebagai contoh, keputusan kebijakan atau inovasi instruksional dari analisis semacam itu.

 

  1. B.       Konsep Kunci dan Peristilahan

 

 

Metode Etnografi (Ethnographic method) mulai dengan pemilihan tentang suatu budaya, tinjauan kepustakaan berkaitan dengan kebudayaan, dan identifikasi variabel yang menarik – biasanya variabel yang dilihat berarti/bermakna oleh anggota kebudayaan tersebut. Peneliti etnografis kemudian berkeliling memperoleh jalan masuk, yang dalam putaran menetapkan tahap untuk penyelaman kultural peneliti etnografi/etnografer dalam budaya tersebut. Bukanlah hal yang luar biasa bagi pe­neliti etnogafis untuk tinggal dalam budaya tersebut selama berbulan-bulan atau beberapa tahun. Tahap pertengahan dari metode etnografis melibatkan pemerolehan para informan, menggunakan mereka untuk memperoleh lebih banyak informan dalam suatu proses berantai, dan pemerolehan data dalam ben­tuk transkrip observasional dan rekaman wawancara. Analisis data dan pengembangan teori dilakukan pada akhir penelitian, memikirkan teori-teori mungkin penting dari penyelaman kul­tural dan artikulasi teori oleh anggota budaya tersebut. Walaupun demikian, peneliti etnografi berusaha menghindari prasangka teoretis dan menggantinya dengan induksi teori dari pandangan anggota budaya dan dari observasi. Peneliti dapat melihat validasi teori yang diinduksi dengan kembali kepada anggota budaya tersebut untuk mendapatkan reaksi mereka.

Metodologi etnografi bervariasi dan banyak peneliti etno­grafi mempertahankan penggunaan desain observasi terstruktur. Dengan cara ini seseorang dapat menandai perilaku yang di­observasi atau artifacts kultural untuk berbagai tujuan analisis statistik di kemudian hari. Pengodean dan analisis statistik berikutnya dilakukan dalam Hudson (1999). Lihat juga Denzin dan Lincoln (1994).

 

Etnografi Makto (macro-ethnography) adalah studi kelompok kultural tertentu secara luas, seperti sebagai “the English” atau “New Yorkers”.

 

Etnografi Mikro (micro-ethnography) adalah studi kelompok kultural tertentu secara sempit, seperti sebagai “spesialis GIS pemerintahan lokal” atau “anggota Kongres”.

 

Perspektif Emic (emic perspective) adalah pendekatan penelitian etnografi untuk cara anggota budaya tertentu menerima dunia mereka. Perspektif emik biasanya*merupakan fokus utama dari etnografi.

 

Perspektif Etic (etic perspective) adalah pendekatan penelitian etnografi untuk cara non-anggota budaya menerima dan meng­interpretasikan perilaku dan fenomena yang diasosiasikan de­ngan suatu budaya tertentu.

 

Simbol-simbol (symbols), adalah suatu fokus penelitian etnogra­fi, merupakan suatu artifact material dari suatu budaya, seperti sebagai seni, pakaian, atau segenap teknologi. Peneliti etnografi berusaha memahami konotasi-konotasi kultural yang diasosiasi­kan dengan simbol-simbol. Teknologi sebagai contoh diinter­pretasikan dalam istilah-istilah bagaimana is berhubungan de­ngan suatu rencana yang diterapkan yang menyebabkan suatu keadaan yang diinginkan berbeda untuk budaya tersebut.

 

Pemolaan kultural (cultural patterning) adalah observasi pola budaya pembentukan hubungan yang melibatkan dua atau le­bih simbol. Penelitian etnografi bersifat holistic, kepercayaan bahwa simbol-simbol tidak dapat dipahami dalam isolasi, melain­kan elemen-elemen dari suatu keseluruhan. Metode pemolaan adalah pemetaan konseptual (conceptual mapping), penggunaan istilah anggota budaya itu sendiri berhubungan dengan simbol­simbol lintas berbagai bentuk perilaku dan dalam berbagai kon­teks. Metode yang lain memfokuskan pada proses pembelajaran (learning processes), untuk memahami bagaimana suatu budaya memindahkan apa yang dilihatnya penting melalui generasi­generasi. Metode yang ketiga berfokus pada proses penguatan (sanctioning process), untuk memahami elemen kultural mana yang secara formal (secara resmi) tidak berlaku lagi atau diasing­kan dan yang secara informal tidak berlaku lagi atau diasingkan, dan dari ini mana yang dipaksa melalui sanksi dan mana yang tidak dipaksa.

 

Pengetahuan yang diucapkan (tacit knowledge) adalah keper­cayaan-kepercayaan kultural yang tertanam secara mendalam yang diasumsikan dalam suatu gaya budaya tentang pengamatan dunia. Jadi, pengetahuan seperti itu jarang atau tidak pernah didiskusikan secara eksplisit oleh anggota budaya tersebut, akan tetapi hams disimpulkan oleh peneliti etnografi.

 

  1. C.      Asumsi-asumsi

 

Beberapa asumsi yang menjadi dasar penelitian etnografi adalah sebagai berikut.

  • Etnografi mengasumsikan kepentingan penelitian yang prinsip terutama dipengaruhi oleh pemahaman kultural masyarakat. Metodologi secara sungguh-sungguh menjamin bahwa pemahaman kultural umum akan diidentifikasi untuk kepentingan peneliti di tangan. Interpretasi tepat menem­patkan tekanan besar pada kepentingan kausal dari pema­haman kultural seperti itu. Terdapat suatu kemungkinan bahwa fokus etnografi akan mempertimbangkan secara berlebihan peran persepsi budaya dan tidak mempertimbangkan peran kausal kekuatan-kekuatan objektif.
  • Etnografi mengasumsikan suatu kemampuan mengidentifikasi masyarakat yang relevan dari kepentingan. Dalam banyak latar, ini mungkin menjadi sulit. Masyarakat, organisasi formal, kelompok nonformal, dan persepsi tingkat lokal semuanya mungkin memainkan peran dalam subjek yang diteliti, dan kepentingan ini mungkin bervariasi menurut waktu, tempat, dan masalah. Terdapat suatu kemungkinan bahwa fokus etnografi mungkin secara berlebihan meman­dang peran budaya masyarakat dan tidak memberikan pan­dangan pada peran kausal dari kekuatan psikologis individual atau bagian masyarakat.
  • Etnografi mengasumsikan peneliti mampu memahami kelebihan kultural dari masyarakat yang diteliti, menguasai bahasa atau jargon teknis dari kebudayaan tersebut, dan memiliki temuan yang didasarkan pada pengetahuan kom­prehensif dari budaya tersebut. Terdapat suatu bahasa bahwa peneliti mungkin memasukkan bias terhadap pandangan budayanya sendiri.
  • Sementara tidak inheren bagi metode, penelitian etnografi lintas budaya yang menghindari risiko asumsi yang keliru bahwa pengukuran yang ada memiliki makna yang sama lintas budaya. http://www2.chass.ncsu.edu/garson/pa765/ethno.htm.

 

  1. D.      Prinsip-prinsip Metodologis Penelitian Etnografi

 

Hammersley (1990) dalam Genzuk (2005: 3) mengemuka­kan tiga prinsip metodologis yang digunakan untuk menyedia­kan dasar pemikiran terhadap corak metode etnografi yang spesifik. Prinsip-prinsip ini juga merupakan dasar bagi sebagian besar kritik tentang kegagalan penelitian kuantitatif menangkap kebenaran hakikat perilaku sosial manusia; karena bersandar pada studi latar artifisial dan atau pada apa yang dikatakan orang bukan pad-a apa yang dilakukan mereka; karena mencari untuk mengurangi makna terhadap apa yang dapat diamati; karena reifies fenomena sosial dengan memperlakukannya sebagai ter­definisikan lebih jelas dan lebih statis dari yang seharusnya, dan sebagai produk mekanis dari faktor-faktor sosial dan psikologis. Ketiga prinsip tersebut dapat dirangkum di bawah judul natura­lisme, pemahaman, dan penemuan.

  1. Naturalisme. Ini merupakan pandangan bahwa tujuan penelitian sosial adalah untuk menangkap karakter perilaku manusia yang muncul secara alami, dan bahwa ini hanya dapat diperoleh melalui kontak langsung dengannya, bukan melalui inferensi dari apa yang dilakukan orang dalam latar buatan seperti eksperimen atau dari apa yang mereka kata­kan dalam wawancara tentang apa yang mereka lakukan. Ini adalah alasan bahwa ahli etnografi melakukan penelitian mereka dalam latar “alami”, latar yang ada kebebasan proses penelitian, bukan dalam latar yang secara spesifik dibuat untuk tujuan penelitian. Implikasi penting lainnya dari naturalisme adalah bahwa dalam penelitian dengan latar alami, peneliti harus berusaha meminimalkan pengaruh mereka terhadap perilaku orang-orang yang akan mereka teliti. Hal ini bertu­juan untuk meningkatkan kesempatan bahwa yang ditemu­kan dalam suatu latar dapat digeneralisasikan pada latar lain yang lama belum diteliti. Terakhir, pemikiran naturalisme me­nyiratkan bahwa proses dan peristiwa sosial harus dijelaskan dalam hubungannya dengan konteks tempat munculnya.
  2. Pemahaman. Yang sentral di sini .adalah alasan bahwa tin­dakan manusia berbeda dari perilaku objek fisik, bahkan dari makhluk lainnya: tindakan tersebut tidak hanya berisi tanggapan stimulus, tetapi meliputi interpretasi terhadap stimulus dan konstruksi tanggapan. Kadang-kadang tang­gapan ini mencerminkan penolakan yang lengkap terhadap konsep kausalitas sebagai tidak dapat diterapkan dalam du­nia sosial, dan desakan tegas atas karakter yang dibangun secara bebas dari tindakan manusia dan institusi. Alasan lain bahwa hubungan kausal ditemukan dalam dunia sosial, tetapi berbeda dari jenis kausalitas mekanis dari fenomena fisik. Dan titik pandang ini, jika Anda mampu menjelaskan tindakan manusia secara efektif, Anda tentu akan memper­oleh pemahaman tentang perspektif kultural yang menda­sarinya. Bahwa ini perlu, jelas nyata ketika Anda meneliti suatu masyarakat yang asing bagi Anda, karena Anda akan banyak menemukan kebingungan mengenai apa yang Anda lihat dan Anda dengar. Namun ahli etnografi beralasan bahwa penting bagi Anda untuk meneliti latar yang lebih Anda kenal. Tentu saja, bila suatu latar familiar, risiko kesalahpahaman besar pula. Alasannya adalah Anda tidak mengira bahwa Anda siap mengetahui pandangan orang lain, bahkan dalam masya­rakat Anda sendiri, sebab individu dan kelompok tertentu mengembangkan pandangan dunia yang berbeda. Ini benar terutama dalam masyarakat luas yang kompleks. Etnis, pekerjaan, dan kelompok informal kecil mengembangkan cara-cara yang berbeda tentang orientasi terhadap dunia yang mungkin perlu dipahami jika perilaku mereka akan dijelaskan. Ahli etnografi beralasan bahwa mempelajari budaya dari suatu kelompok yang diteliti sebelum seseorang dapat menghasilkan penjelasan yang valid untuk perilaku anggotanya memang diperlukan. Ini merupakan alasan untuk sentralitas pengamatan partisipan dan wawancara tidak terstruktur pada metode etnografi.
  3. Penemuan. Corak lain dari pemikiran etnografi adalah kon­sepsi proses penelitian sebagai induktif atau berdasarkan temuan, daripada dibatasi pada pengujian hipotesis secara eksplisit. Itu beralasan bahwa jika seseorang mendekati suatu fenomena dengan suatu set hipotesis, mungkin dia gagal menemukan hakikat fenomena tersebut sebenarnya dibuta­kan oleh asumsi yang dibangun ke dalam hipotesis tersebut. Namun, mereka memiliki suatu minat umum dalam banyak jenis fenomena sosial dan atau dalam banyak masalah teo­teris atau masalah praktis. Fokus penelitian dibatasi dan dipertajam, dan barangkali berubah secara substansial seba­gaimana is berproses. Dengan cara yang sama, ide-ide teoretis yang membingkai deskripsi dan penjelasan tentang apa yang diamati dikembangkan setelah penelitian selesai. Ide-ide semacam itu dianggap sebagai hasil yang berharga, bukan prasyarat penelitian (Genzuk, 2005: 3).

 

  1. E.       Etnografi sebagai Metode

 

Dalam terminologi metode, secara umum, istilah “etnografi” mengacu pada penelitian sosial yang memiliki karakteristik berikut.

a)      Perilaku manusia dikaji dalam konteks sehari-hari, bukan di bawah kondisi eksperimental yang diciptakan oleh peneliti.

b)      Data dikumpulkan dari suatu rentangan sumber, tetapi ob­servasi dan percakapan yang relatif informal biasanya lebih diutamakan.

c)       Pendekatan untuk pengumpulan data tidak terstruktur dalam arti tidak melibatkan penggunaan suatu set rencana terperinci yang disusun sebelumnya, juga tidak menggunakan kategori yang telah ditetapkan sebelumnya untuk peng­interpretasian apa yang dikatakan atau dilakukan orang. Ini tidak berarti bahwa penelitian tidak sistematis; hanya pada awalnya data dikumpulkan sebagai suatu format mentah, dan sebisa mungkin sebagai medan yang luas.

d)      Fokus penelitian biasanya merupakan suatu latar tunggal atau kelompok dari skala yang relatif kecil. Dalam penelitian sejarah kehidupan fokus penelitian dapat berupa individu tunggal.

e)      Analsis data melibatkan interpretasi arti dan fungsi tindakan manusia dan sebagian besar mengambil format deskripsi verbal dan penjelasan, dengan kualifikasi dan analisis statistik yang kebanyakan memainkan peran subordinat.

Sebagai suatu satuan metode, etnografi tidak jauh berbeda dari pendekatan yang Anda gunakan dalam kehidupan sehari­hari untuk memahami lingkungan Anda. Pendekatan ini tidak sespesifik dan secanggih pendekatan eksperimental atau survei sosial; meskipun semua metode penelitian sosial memiliki asal historisnya dalam cara-cara manusia memperoleh informasitentang dunia mereka dalam kehidupan sehari-hari (Genzuk, 2005: 4).

 

  1. F.       Prosedur Penelitian Etnografi

 

Peneliti etnografi secara umum mempunyai kesamaan dengan seseorang penjelajah yang mecoba memetakan suatu wilayah hutan belantara. Penjelajah memulai dengan suatu ma­salah umum, mengidentifikasi ciri-ciri utama dari wilayah tersebut; peneliti etnografi ingin mendeskripsikan wilayah kultural. Kemudian penjelajah mulai mengumpulkan informasi, menapak berjalan pertama satu arah, kemudian barangkali menyelidiki rute tersebut, selanjutnya memulai penyelidikan satu arah baru. Pada penemuan sebuah danau di tengah sebuah hutan berpohon­pohon besar, penjelajah mungkin berjalan mengelilinginya, kemudian berjalan melewati daerah yang sudah dikenal untuk mengukur jarak danau dari tepi hutan tersebut. Penjelajah akan sering membaca kompas, memeriksa arah matahari, membuat catatan tentang tanda-tanda yang menonjol, dan menggunakan umpan balik dari setiap pengamatan untuk memodifikasi infor­masi awal. Setelah beberapa minggu penyelidikan, penjelajah mungkin mengalami kesulitan menjawab pertanyaan “Apa yang telah kamu temukan?” Seperti seseorang peneliti etnografi, penjelajah mencari untuk mendeskripsikan suatu area hutan belantara daripada berusaha menemukan sesuatu.

Kebanyakan penelitian ilmu sosial memiliki kesamaan umum dengan insinyur perminyakan yang telah memiliki peta-peta terperinci tentang wilayah hutan belantara yang sama. Insinyur tersebut telah memiliki tujuan khusus dalam pikirannya: me­nemukan minyak atau gas yang terkubur jauh dari permukaan. Sebelum insinyur tersebut memulai penyelidikan, studi yang hati­hati akan dibuat terhadap peta-peta yang menunjukkan ciri-ciri geologis wilayah tersebut. Kemudian, mengetahui sebelumnya macam corak wilayah yang mengindikasikan minyak atau gas di bawah permukaan, insinyur tersebut akan berusaha menemukan sesuatu sungguh spesifik. Banyak penelitian sosial mulai dengan gagasan jelas yang sama tentang sesuatu untuk ditemukan; para penyelidik mengetahui apa yang sedang mereka cari.

Menurut Spradley (1980: 26) dalam praktik penelitian nyata perbedaan ini dapat diungkapkan dalam dua pola penelitian. Sementara para peneliti ilmu sosial cenderung mengikuti penye­lidikan pola “linear”, peneliti etnografi cenderung mengikuti pola “siklus”. Mari kita lihat secara singkat pada contoh urutan linear dalam penelitian ilmu sosial, setelah itu Baru kita diskusikan pola “siklus” yang digunakan peneliti etnografi.

  1. 1.       Urutan Linear dalam Penelitian Ilmu Sosial

 

McCord dan McCord (1958) dalam penelitiannya tentang kriminalitas, mengikut prosedur urutan linear (lihat gambar).

 

Gambar. Urutan Linear dalam Penelitian Ilmu Sosial (Spradley, 1980)

Mereka menyusun suatu prosedur penelitian untuk melihat apakah model peranan orang tua mempengaruhi anak-anak untuk mengatasi perilaku kriminal atau menghindari perilaku tersebut. Semua detail dari penelitian mereka tidak perlu diper­timbangkan untuk mengikuti urutan linear dari aktivitas ringkas berikut.

 

Tahap pertama: mendefinisikan suatu masalah penelitian. McCord mulai dengan mendefinisikan masalah penelitian sebagai hubungan antara lingkungan keluarga dengan penyebab kejahatan.

 

Tahap kedua: merumuskan hipotesis. Peneliti merumuskan se­jumlah hipotesis penelitian tentang hubungan antara sikap orang tua, perilaku, dan disiplin terhadap aktivitas kriminal (atau absen dari aktivitas tersebut) dari anak-anak. Sebagai contoh, mereka menghipotesiskan bahwa jika orang tua laki-laki menyimpang (kriminal, kacau), penyimpangan mereka akan tercermin dalam kriminalitas di antara anak-anak, dan “anak-anak akan meniru orang tua laki-laki yang menyimpang, jika orang tua laki-laki menunjukkan rasa kasih sayang terhadap mereka.”

 

Tahap ketiga: membuat definisi operasional. Penelitian mendefinisikan kata-kata, frase seperti “penyimpangan” dan “model peran orang tua” dalam istilah-istilah spesifik yang memungkinkan peneliti setuju bila mereka mengidentifikasi perilaku menyimpang.

 

Tahap keempat: merancang instrumen penelitian. Penelitian menggunakan data yang telah dikumpulkan sebelumnya dari wawancara dan observasi. Instrumen utama pada saat penelitian adalah suatu set instruksi peringkat yang digunakan oleh “rater” yang membaca lewat data awal ini. Instrumen tidak dapat diran­cang hingga tahap satu sampai tahap tiga dilakukan.

 

Tahap kelima: mengumpulkan data. Ini dilakukan dengan meng­gunakan satu kelompok rater independen.

 

Tahap keenam: menganalisis data. Data kemudian dipertentang­kan dengan hipotesis dan diuji untuk temuan baru yang tidak berhubungan dengan hipotesis.

 

Tahap ketujuh: menggambarkan kesimpulan. Banyak kesimpulan ditarik dari penelitian, termasuk, sebagai contoh, penyimpangan mahasiswa tercermin dalam perilaku kriminal di kalangan anak­anak.

 

Tahap kedelapan: melaporkan hasil. Bila analisis sudah lengkap, dan kesimpulan sudah digambarkan, McCord kemudian menulis hasilnya untuk publikasi.

 

Dalam praktik nyata, urutan linear yang dirangkum di atas kadang-kadang dimodifikasi oleh peneliti. Sebagai contoh, sese­orang mungkin tidak merumuskan hipotesis (seperti pada tahap kedua), lebih menyukai untuk menghasilkan hipotesis yang dapat diuji sebagai suatu kesimpulan bagi penelitian tersebut. Akan tetapi, urutan secara umum tetap. Masalah penelitian di­definisikan sebelum data dikumpulkan; analisis data dilakukan hanya setelah data terkumpul; masalah atau instrumen peneli­tian tidak berubah selama proyek penelitian; penulisan laporan final tidak mengarah pada pertanyaan baru dan pengumpulan data lebih untuk dimasukkan ke dalam laporan tersebut.

Penelitian etnografi jarang menggunakan prosedur linear semacam ini; tugas-tugas utama mengikuti semacam pola siklus, selalu mengulangi, seperti terlihat dalam gambar. Berikut akan dibicarakan masing-masing aktivitas utama dalam siklus ini.

 

 

 

Gambar. Siklus Penelitian Etnografi (Spradley, 1980: 29)

 

 

2. Siklus Penelitian Etnografi

 

 

Menurut Spradley (1980: 22-35) prosedur penelitian etno­grafi bersifat siklus, bukan bersifat urutan linear dalam peneli­tian ilmu sosial. Prosedur siklus penelitian etnografi mencakup enam langkah: (1) pemilihan suatu proyek etnografi, (2) pengajuan pertanyaan etnografi, (3) pengumpulan data etnografi, (4) pem­buatan suatu rekaman etnografi, (5) analisis data etnografi, dan (6) penulisan sebuah etnografi. Berikut uraiannya masing-masing.

 

  1.  Pemilihan Suatu Proyek Etnografi

 

Siklus dimulai dengan pemilihan suatu proyek etnografi. Barangkali yang pertama peneliti etnografi mempertimbangkan ruang lingkup dari penyelidikan mereka. Wolcott (1967) memilih desa Kwakiutl di British Columbia dengan sebuah populasi standar 125 orang. Studi Hicks tentang Little Laurel Valley (1976) difokuskan pada penyelesaian yang berbeda dengan populasi total standar 1300 orang. Spradley dkk. melakukan penelitian etnografi pada suatu daerah kecil perkotaan (Spradley dan Mann, 1975). Orcar Lewist menghabiskan beberapa tahun meneliti se­buah keluarga tunggal (1963). Ruang lingkup penelitian dapat berjarak sepanjang satu kontinum dari etnografi makro ke etnografi mikro. Gambar berikut meinperlihatkan kontinum ini dan beberapa unit sosial yang pernah diteliti peneliti etnografi.

Mari kita mulai pada makro sebagai -khir kontinum. Beberapa peneliti etnografi telah mencoba mendeskripsikan budaya dari sebuah masyarakat yang kompleks berisi sejumlah komunitas masyarakat dan dengan lembaga-lembaga nasional. Jules Hendry misalnya telah meneliti kebudayaan Amerika. Dalam buku klasik­nya Culture Against Man (1963) dia memulai dengan pernyataan berikut: “Buku ini berisi tentang budaya kontemporer Amerika –

Scope of Research

Social Units Studied

Macro-Ethnography Complex society
  Multiple communities
  A single community study
  Multiple social institutions
  A single social institution
  Multiple social situations
Micro-Ethnography A single social situation

 

Gambar. Variasi dalam Ruang Lingkup Penelitian (Spradley, 1980: 30)

 

struktur dan nilai ekonominya, dan hubungannya dengan karakter nasional, hubungan orang tua – anak, masalah remaja dan ke­pedulian, sekolah, dan dengan kerusakan emosional, usia lanjut, dan perang. Ini bukan suatu deskripsi objektif dari Amerika, te­tapi lebih tepat sebuah etnografi yang bergairah (dalam Spradley, 1980: 29). Bergerak ke bawah kontinum, Boas dalam penelitian­nya di Kwakiutl, mempelajari berbagai komunitas masyarakat (1966). Studi komunitas tunggal mewakili jenis yang paling ba­nyak dari penelitian etnografi dalam antropologi, membentang di atas peta dari desa-desa di India ke suatu kelompok tunggal dari pengembara di padang pasir Kalahari. Peneliti etnografi yang lain memfokuskan penelitiannya pada beberapa lembaga sosial di dalam suatu masyarakat tunggal. Sebagai contoh, Rohlen (1974) meneliti sebuah organisasi kerah putih Jepang, sebuah bank modem, dan etnografinya meliputi informasi yang erat berhubungan dengan lembaga seperti persatuan karyawan dan keluarga karyawan. Se­seorang dapat mempersempit ruang lingkup etnografi lebih jauh untuk meneliti sebuah lembaga sosial tunggal seperti persahabatan, sebagaimana dilakukan oleh Jacobson di kalangan elit di Uganda perkotaan (1973), atau sebuah pasar kutu busuk sebagaimana di­lakukan oleh Maisel di California (1974). Di dalam sebuah lembaga sosial tunggal, dimungkinkan untuk mempersempit ruang ling­kup penelitian selanjutnya dan difokuskan pada beberapa situasi sosial yang berhubungan. Sebagai contoh, penelitian Spradley dan Mann (1975) tentang Bar Brady yang hanya difokuskan pada situasi sosial yang penting bagi pelayan wanita di bar. Spradley dan Mann ingin mendeskripsikan dunia bar dari perspektif me­reka untuk memahami lebih baik peran wanita dalam bar tersebut. Terakhir pada ujung kontinum etnografi mikro, seseorang dapat meneliti sebuah situasi sosial tunggal. Irvine (1974) misalnya memilih suatu jenis tunggal dari situasi sosial, “sapaan” yang muncul di antara individu Wolof. Dalam masyarakat Anda, kelas, pojok jalan, bis kota, dan restoran merupakan sejumlah situasi sosial yang dapat diteliti secara etnografi.

Etnografi makro memerlukan tahunan penelitian dan sering melibatkan sejumlah ahli etnografi. Di lain pihak, etnografi mikro tentang sebuah situasi sosial tunggal dapat dilakukan dalam waktu singkat. Untuk alasan ini, Anda menekankan pelaksanaan penelitian etnografi mikro. Bagaimanapun, teknik-teknik pengumpulan dan analisis data sama dengan teknik yang digu­nakan dalam penelitian ruang lingkup yang lebih luas. Adalah mungkin untuk mengikuti metode D.R.S. (Developmental Research Sequence) seperti yang dikembangkan oleh Spradley untuk pe­nelitian situasi sosial tunggal terisolasi, atau untuk melakukan penelitian etnografi dalam ruang lingkup yang lebih luas (Spradley, 1980: 30).

Spradley menyarankan bahwa etnografi biasanya dilakukan dengan sebuah masalah umum tunggal di dalam pikiran: untuk menemukan orang berpengetahuan budaya yang digunakan untuk mengatur perilaku mereka dan menginterpretasikan pengalaman mereka. Seperti sefivah tujuan umum yang mendorong peneliti etnografi meneliti apa pun yang dirasakan oleh informan adalah penting dalam suatu peristiwa budaya tertentu. Bagaimanapun banyak peneliti etnografi memilih penelitian mereka berdasarkan pada sebuah masalah yang lebih terbatas. Hymes telah meng­identifikasi tiga model penelitian etnografi yang dapat membantu Anda menggambarkan fokus suatu proyek penelitian (1978). Etnografi komprehensif mencari dokumen suatu jalan total ke­hidupan. Peneliti etnografi melakukan etnografi komprehensif dalam sebuah desa yang diinginkan melalui observasi partisipan, mencoba mendeskripsikan rentangan luas tentang adat istiadat, ingin melingkupi sebagian besar wilayah dan masyarakat terse-but sebelum penyelesaian penelitian. Etnografi berorientasi topik, mempersempit fokus pada satu atau lebih aspek kehidupan yang diketahui ada dalam suatu masyarakat. Sebagai contoh, sese­orang peneliti mungkin memilih sebuah topik seperti hubungan keluarga, perilaku peminum, atau adopsi. Sebagaimana penge­tahuan etnografi seseorang tentang pertumbuhan budaya, akan memungkinkan untuk melakukan etnografi yang “berorientasi pada hipotesis”. Hipotesis tentang pengaruh praktik pengasuhan anak pada kepribadian orang dewasa telah menjadi orientasi se­jumlah proyek etnografi dalam antropologi. Penelitian tersebut masih mengikuti kerangka siklus dalam gambar, tetapi pemilihan awal dan suatu proyek dan data yang dikumpulkan dipengaruhi oleh suatu set hipotesis.

 

  1. Pengajuan Pertanyaan Etnografi

 

Pekerjaan lapangan etnografi dimulai ketika Anda mulai mengajukan pertanyaan etnografi. Itu memperlihatkan bukti yang cukup ketika pelaksanaan wawancara, tetapi observasi yang sangat sederhana dan entri catatan lapangan pun melibatkan pengajuan pertanyaan. Anggap untuk sementara Anda mulai menaiki sebuah bis kota sebagai seseorang etnografer. Bis ber­henti pada sebuah persimpangan yang sibuk dan Anda menga­mati sebagai orang pemilik bis, pintu tertutup, dan pengemudi mengarahkan bis memasuki persimpangan tersebut. Anda me­nunggu hingga setiap orang mendapat tempat duduk, kemudian mencatat pernyataan berikut dalam catatan Anda: “Tiga orang naik bis di halte bis Snelling Avenue, seorang wanita dan dua anak laki-laki. Masing-masing di antara mereka pergi ke tiga tempat duduk kosong terpisah dan semua memilih tempat dekat pintu”. Anda dapat menjawab beberapa pertanyaan implisit, per­tanyaan Anda ajukan tanpa realisasinya.

  1. Siapa yang naik bis?
  2. Apa jenis kelamin dan berapa usia penumpang yang barn?
  3. Apa yang mereka lakukan setelah naik bis?
  4. Di mana setiap orang duduk?

Sebagai pengganti pertanyaan di atas Anda dapat mengaju­kan pertanyaan seperti: “Berapa tinggi setiap penumpang barn? Apa yang dipakai oleh setiap penumpang? Di mana setiap orang terlihat bergerak turun ke jalan? Pertanyaan ini akan menuntun ke arah entri yang berbeda dalam catatan lapangan Anda.

Dalam format penelitian sosial yang paling umum, pertanyaan yang diajukan oleh peneliti cenderung datang dan luar peman­dangan budaya. Para peneliti dari suatu pandangan budaya ter­tentu (ilmu sosial profesional) menggambarkan pada kerangka referensi.mereka untuk merumuskan pertanyaan. Mereka kemu­dian memandang budaya yang lain untuk melakukan wawancara atau observasi. Tanpa merealisasikannya mereka cenderung berasumsi bahwa pertanyaan dan jawaban merupakan unsur­unsur yang terpisah dalam pemikiran manusia. Pertanyaan selalu mengimplikasikan jawaban. Pernyataan dan jenis apa pun selalu mengimplikasikan pertanyaan. Ini benar, bahkan ketika perta­nyaan atau jawaban tidak dinyatakan. Dalam melakukan obser­vasi partisipan untuk tujuan etnografi, sebaik mungkin, kedua pertanyaan dan jawaban harus ditemukan dalam situasi sosial yang akan diteliti.

Terdapat tiga jenis utama pertanyaan etnografi, masing-ma­sing mengarah pada jenis observasi yang berbeda di lapangan. Semua jenis etnografi mulai dengan “pertanyaan deskriptif” umum/luas seperti ” Siapa orang yang ada di sini?” “Apa yang mereka lakukan?”, dan “Apa latar fisik dan situasi sosial ini?” Kemudian, setelah penggunaan jenis pertanyaan ini untuk me­nuntun observasi Anda, dan setelah analisis data awal, Anda akan menggunakan “pertanyaan struktural” dan “pertanyaan kontras” untuk penemuan. Ini akan membimbing Anda untuk membuat observasi lebih terfokus.

Dalam sebuah etnografi seseorang dapat mengajukan sub-sub pertanyaan yang berhubungan dengan (a) suatu deskripsi tentang konteks, (b) analisis tentang tema-tema utama, dan (c) interpretasi perilaku kultural (Wolcott, 1994, dalam Creswell, 1998:104). Sebagai alternatif subpertanyaan topikal ini dapat mencerminkan 12 langkah Spradley dalam Decision Research Sequencenya sebagai berikut:

  • Apa situasi sosial yang akan diteliti? (Memilih suatu situasi sosial)
  • Bagaimana seseorang melakukan observasi terhadap situasi tersebut? (Melakukan observasi partisipan)
  • Apakah yang sudah terekam tentang situasi tersebut? (Membuat rekaman etnografi)
  • Apakah yang sudah teramati tentang situasi tersebut? (Me­lakukan observasi deskriptif)
  • Apakah domain kultural yang muncul dari studi situasi tersebut? (Melakukan analisis domain)
  • Apakah lebih spesifik, observasi terfokus dapat dibuat? (Melakukan observasi terfokus)
  • Apa taksonomi yang tampak dari observasi terfokus ter­sebut? (Melakukan analisis taksonomi)
  • Melihat secara lebih selektif, observasi apa yang dapat dila­kukan? (Melakukan observasi selektif)
  • Apa komponen-komponen yang muncul dari observasi tersebut? (Melakukan analisis komponen)
  • Apa tema-tema yang tampak? (Melakukan observasi selektif)
  • Apa inventori kultural yang tampak? (Mengambil inventors kultural)
  • Bagaimana seseorang dapat menulis etnografi? (Menulis sebuah etnografi) (Creswell, 1998: 104 dan Spradley, 1980: 103)

 

  1. Pengumpulan Data Etnografi

 

Tugas utama kedua dalam siklus penelitian etnografi adalah pengumpulan data etnografi. Dengan cara observasi partisipan, Anda akan mengamati aktivitas orang, karakteristik fisik situasi sosial, dan apa yang akan menjadi bagian dari tempat kejadian. Selama pelaksanaan pekerjaan lapangan, apakah seseorang mempelajari sebuah desa suku tertentu untuk satu tahun atau pramugari pesawat udara untuk beberapa bulan, jenis observasi akan berubah. Anda akan mulai dengan melakukan observasi deskriptif secara umum, mencoba memperoleh suatu tinjauan terhadap situasi sosial dan yang terjadi di sana. Kemudian setelah perekaman dan analisis data awal Anda, Anda dapat memper­sempit penelitian Anda dan mulai melakukan observasi ulang di lapangan, Anda akan mampu mempersempit penyelidikan Anda untuk melakukan observasi selektif. Walaupun observasi Anda semakin terfokus, Anda akan selalu melakukan observasi deskrip­tif umum hingga akhir studi lapangan Anda. Tiga jenis observasi ini berhubungan dengan tiga jenis pertanyaan etnografi.

 

  1. Pembuatan Rekaman Etnografi

 

Langkah berikutnya dalam siklus penelitian etnografi adalah membuat rekaman atau catatan etnografi. Tahap ini mencakup pengambilan catatan lapangan, pengambilan foto, pembuatan peta, dan penggunaan cara-cara lain untuk merekam observasi Anda. Rekaman etnografi ini membangun sebuah jembatan antara observasi dan analisis. Memang, sebagian besar analisis Anda akan sangat tergantung pada apa yang telah Anda rekam.

 

  1. Analisis Data Etnografi

 

Langkah berikutnya dalam siklus tidak dapat menunggu hingga terkumpul banyak data. Dalam penelitian etnografi, ana­lisis merupakan suatu proses penemuan pertanyaan. Sebagai pengganti datang ke lapangan dengan pertanyaan spesifik, pe­neliti etnografi menganalisis data lapangan yang dikumpulkan dari observasi partisipan untuk menemukan pertanyaan. Anda perlu menganalisis catatan-catatan lapangan Anda setelah setiap periode pekerjaan lapangan untuk mengetahui apa yang akan dicari dalam periode berikutnya dan observasi partisipan. Terdapat empat jenis analisis, yaitu analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen, dan analisis tema.

Analisis domain, yaitu memperoleh gambaran umum dan menyeluruh dari objek penelitian atau situasi sosial. Melalui pertanyaan umum dan pertanyaan rinci peneliti menemukan berbagai kategori atau domain tertentu sebagai pijakan pene­litian selanjutnya. Semakin banyak domain yang dipilih, semakin banyak waktu yang diperlukan untuk penelitian.

Analisis taksonomi, yaitu menjabarkan domain-domain yang dipilih menjadi lebih rinci untuk mengetahui struktur inter­nalnya. Hal ini dilakukan dengan melakukan pengamatan yang lebih terfokus.

Analisis komponensial, yaitu mencari ciri spesifik pada se­tiap struktur internal dengan cara mengontraskan antarelemen. Hal ini dilakukan melalui observasi dan wawancara terseleksi melalui pertanyaan yang mengontraskan.

Analisis tema budaya, yaitu mencari hubungan di antara domain dan hubungan dengan keseluruhan, yang selanjutnya di­nyatakan ke dalam tema-tema sesuai dengan fokus dan subfokus penelitian.

Seorang peneliti etnografi berpengalaman dapat melaku­kan bentuk-bentuk analisis berbeda ini secara simultan selama periode penelitian. Peneliti pemula dapat melakukannya dalam urutan, belajar melakukan masing-masing dalam putaran sebe­lum bergerak ke analisis berikutnya. Observasi partisipan dan perekaman catatan lapangan, selalu diikuti oleh pengumpulan data, yang mengarah pada penemuan pertanyaan etnografi baru, pengumpulan data, catatan lapangan, dan analisis data lebih lanjut. Demikianlah siklus berlanjut hingga proyek penelitian mendekati sempurna.

 

  1. Penulisan Sebuah Etnografi

 

Tugas utama terakhir dalam siklus penelitian etnografi muncul ke arah akhir dari proyek penelitian. Walaupun demikian, itu dapat pula mengarah pada pertanyaan-peranyaan baru dan observasi-observasi lebih lanjut. Penulisan sebuah etnografi memaksa penyelidik ke dalam suatu jenis analisis yang lebih intensif.

Penelitian etnografi melibatkan suatu open-ended inquiry; memerlukan umpan balik yang konstan untuk memberikan arah penelitian. Peneliti etnografi hanya dapat merencanakan dari awal perjalanan penyelidikan mereka dalam pengertian yang pa­ling umum. Setiap tugas utama dalam tindakan siklus penelitian sebagai sebuah kompas untuk memelihara Anda di perjalanan. Jika Anda kacaukan etnografi dengan pola penelitian linear yang lebih tipikal dalam ilmu sosial, Anda akan berhadapan dengan masalah yang tidak diperlukan. Orang yang berpikir tentang etnografi sebagai urutan linear cenderung mengumpulkan catatan lapangan minggu demi minggu dan segera menjadi berlimpah dengan kumpulan data yang tidak tersusun. Mereka sulit menge­tahui kapan mereka memiliki informasi yang cukup pada suatu topik. Dan bahkan masalah yang lebih besar muncul ketika mereka menunggu semua data terkumpul sebelum mulai menganalisis secara intensif. Pertanyaan baru muncul dari data; seseorang tidak dapat mengajukan pertanyaan ini karena sulit atau tidak mungkin kembali ke lapangan. Jurang dalam informasi muncul tanpa jalan untuk mengisi data yang hilang.

Kesadaran terhadap siklus penelitian etnografi dapat memelihara Anda dari kehilangan jalan bahkan dalam proyek penelitian yang sangat kecil. Melakukan observasi partisipan secara cepat menceburkan peneliti dalam suatu data primer yang luas. Itu tidak umum bagi mahasiswa pascasarjana yang melaksanakan hanya beberapa jam seminggu untuk mengum­pulkan sepuluh sampai lima belas halaman catatan lapangan setiap minggu. Peneliti etnografi yang menghabiskan beberapa jam sehari melakukan observasi partisipan secara proporsional akan memiliki sejumlah besar data lapangan (Spradley, 1980: 22-35).

 

  1. G.     Petunjuk Umum Pekerjaan Lapangan

 

Adalah sangat sulit, jika bukan tidak mungkin, memper­siapkan suatu set aturan atau prosedur yang sangat cermat untuk pelaksanaan pekerjaan lapangan. Apa yang dapat Anda lakukan tergantung pada situasi, tujuan penelitian, hakikat latar, serta keterampilan, minat, dan titik pandang dari pengamat. Berikut adalah beberapa petunjuk umum untuk melaksanakan pekerjaan lapangan:

  1. Pengambilan catatan lapangan bersifat deskriptif.
  2. Kumpulkan suatu variasi informasi dari perspektif-pers­pektif yang berbeda.
  3. Validasi silang dan triangulasi oleh pengumpulan jenis ber­beda dari data. Contoh: observasi, wawancara, dokumentasi program, perekaman, dan fotogarafi.
  4. Gunakan kutipan; menggambarkan program partisipan da­lam istilah mereka sendiri. Tangkap pandangan partisipan dari pengalaman mereka sendiri dalam kata-kata mereka sendiri.
  5. Pilih informan kunci secara bijak dan gunakan mereka se­cara hati-hati. Gambarkan secara arif tentang pandangan yang diinformasikan mereka, tetapi ingatlah bahwa pandangan mereka tersebut terbatas.
  6. Sadari dan peka terhadap tahap yang berbeda dari pekerjaan lapangan.
    1. Bangun kepercayaan dan rapport pada tahap mema­suki. Ingat bahwa peneliti-pengamat juga diamati dan dievaluasi.
    2. Tinggallah secara waspada dan disiplin selama fase menengah lebih rutin dari pekerjaan lapangan.
    3. Fokuskan pada penarikan bersama suatu sintesis seba­gai gambaran pekerjaan lapangan untuk penutup.
    4. Disiplin dan bertanggung jawab dalam pengambilan catatan lapangan secara detail pada setiap tahap pekerjaan lapangan.
    5. Terlibat sedapat mungkin dalam pengalaman latar yang diobservasi sambil memelihara suatu perspektif ana­litis yang mendasar dalam tujuan pekerjaan lapangan: untuk melaksanakan penelitian.
    6. Pisahkan dengan jelas deskripsi interpretasi dan ke­putusan.
    7. Persiapkan umpan balik formatif sebagai bagian dari proses verifikasi pekerjaan lapangan. Ulangi umpan balik tersebut dengan hati-hati. Amati pengaruhnya.
    8. Masukkan dalam catatan lapangan Anda dan laporan dari pengalaman, pemikiran, dan perasaan Anda sen­diri. Ini juga data lapangan.

Pekerjaan lapangan merupakan pengalaman pribadi yang penting. Jaringan prosedur lapangan dengan kemampuan indi­vidual dan variasi situasional membuat pekerjaan lapangan menjadi pengalaman pribadi yang penting. Validitas dan kebermaknaan hasil yang diperoleh tergantung secara langsung pada keteram­pilan, disiplin, dan perspektif peneliti/pengamat. Inilah kekuatan dan kelemahan metode observasi (Genzuk, 2003: 4-5).

 

  1. H.     Petunjuk Ringkas untuk Wawancara

 

Tidak ada satu cara pun yang paling baik untuk wawancara, tidak ada satu format tunggal yang tepat untuk semua situasi, dan tidak ada satu cara tunggal dari penyusunan kata-kata pertanyaan yang akan selalu bekerja. Situasi evaluasi tertentu, keperluan dari orang yang diwawancarai, dan gaya personal pe­wawancara semuanya secara bersama-lama menciptakan situasi yang unik untuk setiap wawancara. Di tempat itu tantangan dari wawancara mendalam: kemampuan merespons secara situasi­onal dan kepekaan untuk mendapatkan data sebaik mungkin.

Tidak ada resep untuk wawancara yang efektif, tetapi ada beberapa petunjuk bermanfaat yang dapat dipertimbangkan. Petunjuk ini dapat diringkas sebagai berikut.

  1. Melalui semua tahap wawancara, dari perencanaan sampai pada pengumpulan data untuk dianalisis, pelihara keterpu­satan pada tujuan dan usaha penelitian.
  2. Prinsip fundamental dari wawancara kualitatif untuk me­lengkapi suatu kerangka kerja yang dapat dipergunakan oleh responden untuk mengungkaplian pemahaman me­reka sendiri dalam terminologi mereka sendiri.
  3. Pahami kekuatan dan kelemahan wawancara dari jenis berbeda: wawancara percakapan informal; pendekatan wawancara terarah; dan wawancara open-ended baku.
  4. Pilih jenis wawancara (atau kombinasi jenis) yang paling tepat untuk tujuan upaya penelitian.
  5. Pahami macam-macam informasi berbeda yang dapat dikumpulkan seseorang melalui wawancara: data perilaku, pendapat, perasaan, data sensori, dan informasi latar belakang.
  6. Pikirkan dan r.encanakan tentang bagaimana jenis perta­nyaan yang berbeda ini dapat lebih tepat diurut untuk setiap topik wawancara, termasuk pertanyaanmasa lalu, sekarang, dan akan datang.
  7. Ajukan pertanyaan open-ended secara benar.
  8. Ajukan pertanyaan secara jelas, menggunakan bahasa yang dapat dipahami dan tepat.
  9. Ajukan satu pertanyaan pada waktu yang sama.
  10. Gunakan pertanyaan pemeriksaan dan pertanyaan lan­jutan untuk meminta kedalaman dan rincian.
  11. Komunikasikan secara jelas apa informasi yang diinginkan, mengapa informasi tersebut penting, dan biarkan orang yang sedang diwawancarai itu mengetahui bagaimana wawancara tersebut berlangsung.
  12. Dengarkan dengan penuh perhatian dan jawab sewajarnya agar seseorang mengetahui bahwa dia sedang didengarkan.
  13. Hindari pertanyaan yang mengarahkan.
  14. Pahami perbedaan di antara wawancara mendalam dan interogasi. Peneliti kualitatif melaksanakan wawancara mendalam; penyelidik polisi melaksanakan interogasi.
  15. Tetapkan hubungan personal dan suatu pengertian minat timbal balik.
  16. Pelihara kenetralan terhadap isi tanggapan spesifik. Anda di sini mengumpulkan informasi bukan membuat keputusan terhadap orang tersebut.
  17. Amati sambil wawancara. Sadari dan sensitif pada bagaimana orang terpengaruh dan menjawab pertanyaan berbeda.
  18. Pelihara kontrol wawancara.
  19. Rekam sedapat mungkin untuk menangkap kutipan penuh dan tepat untuk analisis dan laporan.
  20. Ambil catatan untuk menangkap dan menyoroti poin-poin utama sebagai kemajuan wawancara.
  21. Segera mungkin setelah wawancara periksa ketidakber­fungsian perekaman; tinjau ulang catatan untuk kejelasan; rinci di mana diperlukan; dan rekam pengamatan.
  22. Ambil langkah-langkah apa pun yang tepat dan perlu untuk memperoleh informasi yang valid dan terpercaya.
  23. Perlakukan orang yang diwawancarai dengan rasa hormat. Ingat bahwa itu adalah suatu perlakuan khusus dan tang­gung jawab untuk mendalami pengalaman orang lain.
  24. Praktikkan wawancara. Kembangkan keterampilan Anda.
  25. Nikmati wawancara Anda. Ambil waktu sepanjang jalan untuk berhenti dan mendengarkan.

 

  1. I.        Dokumen Lokasi

 

Di samping observasi partisipan dan wawancara, para peneliti etnografi dapat juga menggunakan berbagai dokumen dalam menjawab pertanyaan terarah. Apabila tersedia, doku­men-dokumen ini dapat menambah pemahaman atau informasi untuk penelitian. Karena perhatian etnografi telah dan selalu difokuskan pada orang baik yang melek huruf maupun yang buta huruf, tidak semua proyek penelitian akan memiliki dokumen­dokumen lokasi yang tersedia. Juga mungkin bahwa penelitian yang sama di kalangan suatu kelompok melek huruf tidak akan memiliki dokumen-dokumen lokasi yang relevan untuk diper­timbangkan; ini sangat tergantung pada fokus penelitian. Pikirkan secara cermat tentang partisipan Anda dan bagaimana mereka berfungsi dan mengajukan pertanyaan tentang informan-infor­man Anda yang dapat membantu untuk memutuskan apa jenis dokumen yang mungkin tersedia.

Dokumen-dokumen yang mungkin tersedia mencakup: budget, iklan, deskripsi kerja, laporan tahunan, memo, arsip sekolah, korespondensi, brosur informasi, materi pengajaran, laporan berkala, websites, paket orientasi atau rekrutmen, kon­trak, catatan proses pengadilan, poster, detik-detik pertemuan, menu, dan banyak jenis item tertulis lainnya.

Sebagai contoh, seseorang peneliti etnografi yang meneliti bagaimana sejumlah terbatas siswa SD belajar menguasai ba­hasa Inggris dalam seting kelas mungkin ingin mengumpulkan sesuatu seperti status sekolah, kurikulum bahasa Inggris sebagai bahasa kedua untuk siswa di sekolah tempat dia melakukan penelitian, dan contoh-contoh pekerjaan siswa. Alokasi anggaran sekolah lokal untuk pendidikan minoritas bahasa, desain pela­jaran guru spesifik, dan salinan dari buku teks bahasa Inggris sesuai usia yang juga relevan. Itu juga bermanfaat untuk mencoba temuan subkelompok organisasi pendidikan profesional yang di­fokuskan pada pengajaran bahasa di SD dan bergabung dengan mereka, menghadiri pertemuan-pertemuan mereka, atau men­dapatkan salinan dari laporan berkala mereka. Meninjau arsip komulatif siswa dan kebijakan sekolah terhadap pendidikan minoritas bahasa. Semua ini akan sangat memperkaya observasi partisipan dan wawancara yang sudah dilakukan peneliti etnografi.

Masalah pribadi dan hak cipta mungkin berimplikasi pada pengumpulan dokumen, maka adalah penting untuk menanyakan hal ini ketika Anda menemukan atau diberikan dokumen. Apabila Anda diberikan izin untuk mencakup apa yang dipelajari dari dokumen-dokumen ini dalam makalah akhir Anda, dokumen tersebut harus dikutip secara memadai dan dimasukkan dalam daftar pustaka dari makalah akhir tersebut. Jika Anda tidak memperoleh izin, jangan gunakan dokumen tersebut dalam cara apa pun (Genzuk, 2003: 6-7).

 

  1. J.        Analisis, Interpretasi, dan Pelaporan Temuan

 

Ingat bahwa peneliti adalah detektif yang melihat kecen­derungan dan pola yang muncul lintas berbagai kelompok atau di dalam individu (Kruger, 1994, dalam Genzuk, 2003: 7). Proses analisis dan interpretasi melibatkan pengujian disiplin (disciplined examination), pemahaman kreatif (creative insight), perhatian cermat (careful attention) pada tujuan studi penelitian. Analisis dan interpretasi secara konseptual merupakan proses yang terpisah. Proses analisis dimulai dengan assembling/perakitan ma­teri-materi mentah dan pengambilan suatu tinjauan mendalam atau gambaran total dari proses keseluruhan. Peran peneliti dalam analisis menutup suatu kontinum dengan perakitan data mentah pada satu ujung dan komentar-komentar interpretatif pada ujung yang lain. Analisis adalah proses pengurutan data, penyusunan data ke dalam pola, kategori, dan satuan deskriptif dasar. Proses analisis melibatkan pertimbangan kata-kata, nada, konteks, non-verbal, konsistensi internal, frekuensi, perluasan, intensitas, kekhususan respons, dan ide-ide besar. Strategi re­duksi data adalah penting dalam analisis (Krueger, 1994, dalam Genzuk, 2003: 7).

Interpretasi melibatkan pengikatan makna dan signifikansi kepada analisis, penjelasan pola deskriptif, melihat pada hubung­an dan keterkaitan di antara dimensi-dimensi deskriptif. Ketika proses ini sudah lengkap, peneliti harus melaporkan interpretasi dan kesimpulannya (Genzuk, 2003: 7).

 

  1. K.      Deskripsi Kualitatif

 

Laporan berdasarkan metode kualitatif mencakup masalah deskripsi murni tentang program dan/atau pengalaman orang di lingkungan penelitian. Tujuan deskripsi ini adalah untuk membantu pembaca mengetahui apa yang terjadi di lingkungan di bawah pengamatan, seperti apa pandangan partisipan yang berada di latar penelitian, dan seperti apa peristiwa atau akti­vitas yang terjadi di latar penelitian. Dalam pembacaan melalui catatan lapangan dan wawancara, peneliti mulai mencari bagian­bagian data yang akan diperhalus untuk presentasi sebagai des­kripsi murni dalam laporan penelitian. Apa yang akan dimasuk­kan melalui deskripsi tergantung pada pertanyaan yang berusaha dijawab peneliti. Sering keseluruhan aktivitas dilaporkan secara detail dan mendalam karena mewakili pengalaman khusus. Deskripsi ini ditulis dalam bentuk narasi untuk melengkapi gam­baran menyeluruh tentang apa yang terjadi dalam aktivitas atau peristiwa yang dilaporkan (Genzuk, 2003: 7-8).

Format dan isi aktual dari suatu laporan kualitatif tergan­tung pada kebutuhan informasi dan tujuan penelitian dan pars stakeholder utama. Bahkan laporan yang komprehensif dapat mengabaikan sejumlah besar data yang dikumpulkan peneliti. Fokus penelitian adalah sesuatu yang sangat penting. Peneliti yang mencoba memasukkan segala sesuatu mempunyai risiko kehilangan .pembaca mereka dalam volume keseluruhan presen­tasi. Proses ini dirujuk sebagai “the agony of omitting”, sebagai penderitaan batin kehilangan. Penderitaan batin kehilangan pada sebagian peneliti hanya berhubungan dengan kekecewaan pembaca karena membaca sesuatu yang tidak dihilangkan ini, yang seharusnya sudah dihilangkan.

Dalam mempertimbangkan apa yang akan dihilangkan, suatu keputusan dibuat tentang berapa banyak deskripsi untuk dimasukkan. Deskripsi detail dan pertanyaan mendalam adalah kualitas esensial dari perhitungan kualitatif. Deskripsi yang cukup dan pertanyaan langsung hams dimasukkan untuk mem­bantu pembaca memahami secara penuh latar penelitian dan pemikiran orang yang terwakili dalam naratif. Namun, tidak se­mua yang dilakukan atau dikatakan hams diketahui pembaca. Masalah fokus muncul lagi.

Deskripsi diseimbangkan oleh analisis dan interpretasi. Deskripsi yang tidak berkesudahan akan menjadi campur aduk sendiri. Tujuan analisis adalah untuk mengorganisasi deskripsi dengan cara membuatnya dapat dikendalikan. Deskripsi diim­bangi oleh analisis dan antaran ke dalam interpretasi. Suatu perhitungan final yang menarik dan mudah dibaca akan melengkapi deskripsi yang cukup untuk membantu pembaca memahami analisis dan analisis yang cukup untuk membantu pembaca memahami interpretasi dan penjelasan yang dipresentasikan (Genzuk, 2003: 8).

 

  1. L.       Penerapan Penelitian Etnografi dalam Bidang Pengajaran Bahasa

 

Menurut Johnson terdapat dua fokus umum studi etnografi yang secara khusus relevan dengan bidang pemerolehan dan pengajaran bahasa (kedua), yaitu etnografi pendidikan dan etnografi komunikasi (Johnson, 2000: 132-133).

Johnson mengutip Spindler seorang ahli etnografi khusus dalam bidang etnografi sekolah, mendefinisikan etnografi pendidikan sebagai studi tentang suatu atau semua proses pendidikan, apakah berhubungan dengan sekolah atau tidak. Dia mendefinisikan etnografi sekolah sebagai studi tentang, proses pendidikan dan proses enkulturatif yang berhubungan dengan sekolah dan persekolahan intensional, termasuk aspek-aspek sekolah yang berhubungan dengan kehidupan seperti peer groups. Karena tradisi penelitian ini memberikan informasi kepada kita tentang proses enkulturasi dan proses akulturasi, yang penting dalam memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang semua yang terlibat dalam pembelajaran suatu bahasa dan bu­daya tambahan. Itu juga penting dalam memahami cara-cara untuk membuat pengalaman pendidikan secara kultural lebih peka dan lebih layak.

Etnografi komunikasi mengombinasikan pandangan antro­pologis dan sosiolinguistik pada studi perilaku komunikatif sebagaimana fungsinya dalam konteks budaya. Karya dalam bidang ini berpusat pada apa yang diperlukan si pembicara untuk dapat berkomunikasi secara layak dan efektif dalam suatu ko­munitas wacana. Fokus analisis terdapat pada sistem peristiwa komunikatif dalam suatu komunitas tutur dan bagaimana makna sosial disampaikan melalui peristiwa tutur tersebut. Hasil studi semacam ini mencakup deskripsi etnografi tentang bagaimana komunikasi berfungsi dalam masyarakat yang berbeda. Peneliti etnografi mendasarkan pekerjaan mereka pada asumsi bahwa bahasa harus dipandang sebagai fenomena sosial.

Bidang ini penting untuk studi bahasa kedua karena tidak hanya mendefinisikan apa yang harus dipelajari siswa sebagai­mana mereka disosialisaikan ke dalam suatu bahasa dan budaya baru, tetapi juga menyediakan cara menghubungkan pemerolehan bahasa kedua dengan proses pembudayaan.

 

  1. M.    Contoh Penelitian Etnografi dalam Pengajaran Bahasa

 

Salah satu penelitian etnografi yang akan dibahas sebagai contoh adalah penelitian Syamsi Setiadi dalam bidang Pendidik­an Bahasa (2003): Tesis S2, PPs UNJ yang dimuat dalam Jurnal Fenolingua, Agustus 2004 Tahun 12, Nomor 2.

 

Judul Penelitian: “Pengembangan Pembelajaran Bahasa Arab Komunikatif dan Faktor-fakor yang Memengaruhi”

 

Konteks Penelitian:

  • Kedudukan bahasa Arab sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi di 21 negara di Timur Tengah dengan jumlah penutur lebih dari 200 juta orang dan sebagai salah satu bahasa resmi PBB sejak tahun 1973
  • Bahasa sebagai bahasa Alquran dan As-Sunnah, memiliki kedudukan istimewa bagi kalangan umat Islam seluruh dunia termasuk Indonesia.
  • Di Indonesia bahasa Arab merupakan mata pelajaran wajib lembaga pendidikan yang berada di bawah Departemen Agama mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah sampai Perguruan Tinggi, sebagai mata pelajaran bahasa pilihan di SMA dan sebagai program studi di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta.
  • Salah satu lembaga pendidikan formal yang cukup berhasil dalam pembelajaran bahasa Arab adalah Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri (MAKN) Bandar Lampung, sebagai model percontohan sekolah unggulan.

 

Fokus Penelitian:

Yang menjadi fokus penelitian ini adalah pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab komunikatif di MAKN Model Bandar Lampung, dengan subfokus:

  • Pandangan tentang bahasa Arab dan pembelajaran bahasa Arab
  • Tujuan pembelajaran bahasa Arab
  • Metode pembelajaran bahasa Arab
  • Kemandirian siswa dalam penguasaan keterampilan bahasa Arab
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi keterampilan bahasa Arab.

 

Masalah Penelitian :

“Bagaimana pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab komunikatif yang dikembangkan di MAKN Bandar Lampung?” Rumusan masalah penelitian ini dirinci dalam beberapa pertanyaan penelitian sesuai dengan subfokus penelitian:

  • Bagaimana pandangan lembaga ini terhadap bahasa Arab dan pembelajarannya?
  • Bagaimana lembaga ini merumuskan tujuan pembelajaran bahasa Arab dalam mengembangkan empat keterampilan bahasa?
  • Bagaimana lembaga ini mengembangkan kegiatan pembe­lajaran bahasa Arab yang bervariasi sesuai dengan prinsi-­prinsip komunikasi bahasa?
  • Bagaimana peran guru dalam pembelajaran untuk mengopti­malkan potensi siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran bahasa Arab?
  • Bagaimana strategi, dan teknik pembelajaran yang dikem­bangkan dalam menunjang efektivitas pembelajaran bahasa Arab?
  • Bagaimana kemandirian belajar siswa dalam rangka menunjang proses pembelajaran bahasa Arab yang efektif?
  • Faktor-faktor apa saja yang memengaruhi efektivitas pem­belajaran bahasa Arab di lembaga ini?

 

Acuan Teoretik

  • Pemerolehan dan Pembelajaran Bahasa
    • Teori Belajar Bahasa
    • Pentingnya Lingkungan Bahasa
    • Pembelajaran Bahasa Arab
    •  Metode Pembelajaran Bahasa
    •  Desain Pembelajaran
      • Tujuan
      • Silabus
      • Peran Siswa dan Guru
      • Fungsi Materi Pelajaran
      • Kemandirian Belajar

 

Metodologi Penelitian

  • Tujuan Penelitian:

Mengetahui pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab yang dikembangkan di MAKN Bandar Lampung dan faktor-faktor yang memengaruhinya

  • Deskripsi Latar

Berisi uraian tentang tempat pelaksanaan penelitian yaitu MAKN Bandar Lampung dan alasan mengapa penelitian dilakukan di sana.

  • Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi.

  • Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri.
  • Sumber Data
    • Peristiwa, proses belajar mengajar bahasa Arab di dalam kelas dan saat tutorial.
    • Informan, guru/ustadz sebanyak 4 orang, beberapa orang siswa kelas I, II, dan III yang dipilih berdasarkan petunjuk ustadz dan dipilih secara acak.
    • Dokumen, informasi tertulis yang berkenaan dengan pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab di MAKN Bandar Lampung.
    • Teknik Pengumpulan Data
      • Pengamatan Berperan serta
      • Wawancara
      • Kajian Dokumentasi dan Pustaka
      • Membuat Catatan Lapangan
      • Membuat Rekaman Data
      • Teknik Analisis Data
        • Analisis Domain
        • Analisis Taksonomi
        • Analisis Komponen
        • Analisis Tema Budaya
        • Pemeriksaan Keabsahan Data
          • Kredibilitas data melalui:
            • Perpanjangan waktu tinggal di lokasi penelitian
            • Melakukan pengamatan secara tekun
            • Menguji secara triangulasi
            • Melakukan pengecekan anggota
            • Melakukan diskusi teman sejawat.
          • Keabsahan data dibuktikan dengan triangulasi:
            • Triangulasi teknik pengumpulan data
            • Triangulasi sumber data
            • Triangulasi teori

Hasil Penelitian

  • Temuan Umum
    • Asrama, Ustadz, dan Siswa
    • Visi, Misi, dan Tujuan
    • Sistem Pendidikan
   
  • Temuan Khusus
    • Pandangan mengenai bahasa Arab dan pembelajarannya
    • Pengembangan silabus pembelajaran bahasa Arab
    • Jenis pelajaran
    • Kegiatan pembelajaran
    • Peran guru
    • Peran siswa
    • Kemandirian belajar siswa
    • Faktor-faktor yang Memengaruhi Efektivitas Pembelajaran Bahasa Arab
      • Faktor Pendukung:
        • Kewajiban berbahasa Arab
        • Organisasi keasramaan, tujuan melakukan peng- awasan, dan peningkatan penggunaan bahasa Arab Motivasi belajar siswa tinggi, dorongan dari para ustadz dan suasana asrama yang kompetitif
        • Faktor Penghambat:
          • Perilaku siswa menyimpang, membolos, tidak di- siplin, .menggunakan bahasa Indonesia dan daerah, enggan mengerjakan tugas.
          • Faktor lainnya, kesejahteraan guru kurang memadai, kurangnya perhatian pemerintah terhadap MAKN, jumlah penjaga asrama terbatas, fungsi pengawasan kurang efektif, media pembelajaran kurang memadai.
          • Tema-tema Budaya:
            • Dalam proses pembelajaran diperlukan kejelasan pandangan dan arah tujuan pembelajaran
            • Pembelajaran dengan kesadaran lebih efektif daripada pembelajaran dengan paksaan
            • Keteladanan menjadi kunci utama dalam keberhasilan pembelajaran bahasa Arab
            • Motivasi, disiplin, dan kesabaran menjadikan belajar lebih bermakna
            • Kemandirian merupakan cerminan kesungguhan siswa dalam belajar
            • Kesimpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan pem­belajaran bahasa Arab di MAKN Bandar Lampung dilaku­kan dengan memerhatikan beberapa hal: pandangan dan tujuan pembelajaran yang jelas, desain pembelajaran yang menekankan penghayatan proses belajar, lingkungan be­lajar yang kondusif, contoh teladan guru yang baik, motivasi belajar, kesabaran, dan kemandirian belajar siswa.

 

  1. N.     Contoh Lain Penelitian Etnografi

 

Salah satu penelitian entnografi lainnya yang akan dibahas sebagai contoh adalah penelitian Nurudin dalam bidang mana­jemen pendidikan (2006):

 

Judul: Kepemimpinan Kyai dalam Mengelola Pondok Pesantren (Studi Kualitatif pada Pondok Pesantren Al Ishlah Bobos Cirebon Jawa Barat, 2006)

 

Latar Belakang:

Penelitian ini antara lain dilatarbelakangi oleh hal-hal berikut.

  • Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan berbasis aga­ma Islam yang biasanya terletak di pedesaan, dan peserta didiknya umumnya adalah masyarakat pedesaan. Kata pe­santren berasal dari kata santri, yaitu orang yang mempunyai pengetahuan tentang agama (Islam). Biasanya pesantren merujuk pada tempat santri menghabiskan waktunya untuk membina ilmu.
  • Pesantren adalah subkultur, karena pesantren memiliki tiga elemen utama: (1) pola kepemimpinan yang mandiri dan tidak terkooptasi oleh negara; (2) kitab-kitab rujukan umum yang selalu digunakan yang dikenal sebagai kitab kuning; dan (3) sistem nilai yang dianut.
  • Pesantren selalu dianggap identik dengan ke-Islaman ka­rena berbasis nilai-nilai Islam dalam mengelola aktivitas pendidikan dan kemasyarakatan, dengan kajian pokoknya pada ilmu fikih, ushul fikih, tauhid, tafsir, hadis, tasawuf, akhlak, dan bahasa Arab.
  • Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua juga memiliki karakteristik dalam hal pendidikan, yaitu: pertama, terjalinnya hubungan yang sangat akrab antara kyai dengan santri dan antara santri dengan santri. Kedua, kyai di sam­ping sebagai pemilik pesantren, is juga adalah pengasuh, pendidik, dan orang tua para santri dengan otoritas penuh pesona. Kyai penentu utama pesantren. Ketiga, pemeliharaan yang sangat kuat terhadap literatur-literatur klasik yang dikenal dengan kitab-kitab kuning.
  • Vitalitas dan kontribusi kyai dalam memimpin pesantren tidak hanya dirasakan oleh anggotanya, tetapi juga mengambil peran yang besar dalam kehidupan sosial politik dan sosial pendidikan, serta sosial ekonomi.
  • Kepatuhan dan ketaatan santri merupakan modal utama kepemimpinan kyai dalam menciptakan iklim yang kondusif. Hubungan antara kyai, santri, dan jamaahnya bukan hanya karena patron-klien pada umumnya, melainkan ketaatan santri pada kyainya lebih disebabkan mengharapkan bara­kah sebagaimana dipahami dari konsep sufi, sehingga eksistensi dan dinamisasi pondok pesantren tidak terlepas dan sikap kyai sebagai figur sentral di dalamnya.
  • Banyaknya pondok pesantren di Kabupaten Cirebon men­jadi fenomena yang menarik dalam hubungannya dengan kualitas sumber daya manusia di wilayah tersebut. Pondok pesantren dapat menjadi lembaga pendidikan alternatif. Dalam peningkatan kualitas manajemen pondok pesan­tren, kyai mempunyai peran sentral mengingat posisi kyai dalam pesantren sangat menentukan. Penelitian ini mencoba mengkaji kepemimpinan kyai dalam mengelola pesantren (Nurudin, 2006: 3-4).

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti me­rumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut: “Bagaimana implementasi kepemimpinan kyai dapat memengaruhi pe­laksanaan pengelolaan pondok pesantren Al Ishlah Bobos?” Masalah ini kemudian diuraikan menjadi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut.

  1. Bagaimana implementasi karisma pada kepemimpinan kyai dalam memengaruhi pelaksanaan pengelolaan pondok pesantren?
  2. Bagaimana implementasi prinsip kewirausahaan pada kepemimpinan kyai dalam memengaruhi pelaksanaan pengelolaan pondok pesantren?
  3. Bagaimana implementasi nilai-nilai kepemimpinan Islam pada kepemimpinan kyai dalam memengaruhi pelaksanaan pengelolaan pondok pesantren?
  4. Bagaimana implementasi model komunikasi pada kepemim­pinan kyai dalam memengaruhi pelaksanaan pengelolaan pondok pesantren? (Nurudin, 2006: 4)

Di sini kita melihat bahwa dalam perumusan masalah dan per­tanyaan penelitian ini, peneliti memfokuskan tinjauannya pada faktor-faktor kepemimpinan kyai yang dapat memengaruhi pe­laksanaan pengelolaan pondok pesatren, yaitu faktor (1) karisma, (2) prinsip kewirausahaan, (3) nilai-nilai kepemimpinan Islam, dan (4) model komunikasi.

 

 

Acuan Teoretik

Pada bagian ini, peneliti menguraikan teori-teori yang men­jadi acuan dalam penelitian ini, yang meliputi teori-teori yang berhubungan dengan (1) manajemen, yang meliputi (a) peren­canaan, (b) pengorganisasian, (c) pengarahan, dan (d) pengen­dalian; (2) kepemimpinan, yang meliputi (a) definisi kepemim­pinan dan (b) peran kepemimpinan; (3) kepemimpinan kyai, yang meliputi (a) kepemimpinan Islam, (b) atribut kepemimpinan kyai: karisma, prinsip kewirausahaan, nilai-nilai kepemimpinan Islam, dan model komunikasi (Nurudin, 2006: 4-25). Karena terlalu panjang sengaja tidak diuraikan di sini.

 

Metodologi Penelitian

Penelitian ini secara khusus ditujukan untuk memperoleh data dan fakta tentang (1) implementasi karisma pada kepe­mimpinan kyai dalam memengaruhi pelaksanaan pengelolaan pondok pesantren, (2) implementasi prinsip kewirausahaan pada kepemimpinan kyai dalam memengaruhi pelaksanaan penge­lolaan pondok pesantren, (3) implementasi nilai-nilai kepemim­pinan Islam pada kepemimpinan kyai dalam memengaruhi pe­laksanaan pengelolaan pondok pesantren, dan (4) implementasi model komunikasi pada kepemimpinan kyai dalam memengaruhi pelaksanaan pengelolaan pondok pesantren.

Penelitian ini menggunakan pendekatan, kualitatif dengan metode etnografi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik wawancara, dan teknik dokumentasi. Sementara teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema. Informan sebagai sumber data ditetapkan dengan teknik bola salju yang terdiri atas kyai, pengurus, guru, santri dan siswa. Data yang terkumpul divalidasi dengan mengguna­kan teknik perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, teknik triangulasi, uraian rinci, dan auditing (Nurudin, 2006: 26).

 

Temuan Penelitian

Pertama, implementasi karisma pada kepemimpinan kyai memengaruhi pelaksanaan pengelolaan pondok pesantren. Karisma pada kepemimpinan kyai bersumber dari keturunan, kekayaan, kapasitas keilmuan yang dimiliki, keteladanan yang ditunjukkan, dan kepatuhan santri. Karisma pada kepemimpinan kyai berpengaruh pada proses-proses perencanaan, pengorga­nisasian, pengarahan, dan pengendalian terutama dalam peng­ambilan keputusan pada proses tersebut.

Kedua, implementasi prinsip kewirausahaan pada kepe­mimpinan kyai memengaruhi pelaksanaan pengelolaan pondok pesantren. Prinsip kewirausahaan pada kepemimpinan kyai ter­wujud dalam bentuk aktivitas kewirausahaan, sikap kemandirian sosial, dan kemandirian politik. Prinsip kewirausahaan berpe. ngaruh pada keseluruhan proses pengelolaan pondok pesantren mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian.

Ketiga, implementasi nilai-nilai kepemimpinan Islam pada kepemimpinan kyai memengaruhi pelaksanaan pengelolaan pesantren. Nilai-nilai kepemimpinan Islam pada kepemimpinan kyai terdiri dari keikhlasan, amanah, kesederhanaan, kemampuan menolong orang lain, persaudaraan, sidiq, tablig, fatonah, dan tawakal. Nilai-nilai kepemimpinan Islam berpengaruh pada keseluruhan proses pengelolaan pondok pesantren mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian.

Keempat, implementasi model komunikasi pada kepemim­pinan kyai memengaruhi pelaksanaan pengelolaan pondok pesantren. Model komunikasi pada kepemimpinan kyai bersifat asimilatif, non-elitis, hubungan bapak-anak, dan berskala luas. Model komunikasi berpengaruh pada keseluruhan proses penge­lolaan pondok pesantren mulai dari perencanaan, pengorga­nisasian, pengarahan, dan pengendalian.

Berdasarkan temuan di atas, peneliti menarik kesimpulan penelitian bahwa implementasi karisma kyai, prinsip kewira­usahaan, nilai-nilai kepemimpinan Islam, dan model komunikasi pada kepemimpinan kyai memengaruhi pelaksanaan pengelo­laan pondok pesantren (Nurudin, 2006: 40-41).

Daftar Pustaka

  1. Creswell, John W. 2003. Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. London: Sage Publications.
  2. Emzir. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
  3. Ethnographic Research. http://www2.chass.ncsu.edu/garson/pa765­/ethno.htm
  4. Genzuk, Michel. 2005. A Synthesis of Ethnographic Research. http:/  /64.233.187.1…/Ethnographic_Research.pdf +Ethnography  + research&hl= id&lr = lang_en&ieUTF-
  5. Merriam, Sharan B. and Associates. 2002. Qualitative Research in
    Practice. San Francisco: Jossy-Bass A willey Company.
  6. Nurudin. 2006. “Kepemimpinan Kyai dalam Mengelola Pondok Pesantren Studi Kualitatif pada Pondok Pesantren Al Ishlah Bobos Cirebon Jawa Barat”. Sinopsis Disertasi. Jakarta: Program Pascasarjana, Universitas Negeri Jakarta.
  7. Setiadi, Syamsi. 2004. “Pengembangan Pembelajaran Bahasa Arab Komunikatif dan Faktor-faktor yang Memengaruhi: Suatu Penelitian Kualitatif di MAKN Bandar Lampung, 2003”, Fenolingua, Agustus 2004 tahun 12, Nomor 2, hlm. 226-275.
  8. Spradley, James P. 1980. Partisipant Observation. New York: Holt, Renehart and Winston.