1. A.   PENDAHULUAN

Upaya-upaya peningkatan kualitas mutu serta kuantitas yang membawa nama pendidikan telah dilakukan oleh pihak pemerintah, walau sampai saat ini kita belum melihat hasil dari usaha tersebut. Kita bisa melihat yang jelas-jelas dapat kita temukan sebagai suatu kecacatan pendidikan ialah proses belajar mengajar konvensional yang mengandalkan tatap muka antara guru dan murid, dosen dengan siswa, pelatih dengan peserta latihan.

Ketidakefektifan adalah kata yang paling cocok untuk sistem ini, sebab seiring dengan perkembangan zaman, pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan instan, namun institut yang masih menggunakan sistem tradisional ini mengajar (di jenjang sekolah tinggi kita anggap memberikan informasi) dengan sangat lambat dan tidak seiring dengan perkembangan information technology (IT). Sistem konvensional ini seharusnya sudah ditinggalkan sejak ditemukannya media komunikasi multimedia.

Penggunaan IT, salah satunya pemanfaatan Internet yang dapat dihubungi setiap saat, artinya siswa dapat memanfaatkan program-program pendidikan yang disediakan di jaringan Internet kapan saja sesuai dengan waktu luang mereka sehingga kendala ruang dan waktu yang mereka hadapi untuk mencari sumber belajar dapat teratasi.

Penggunaan IT bukanlah suatu wacana yang asing di negeri Paman Sam Sana. Pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan sudah merupakan kelaziman di Amerika Serikat pada dasawarsa yang telah lalu. Ini merupakan salah satu bukti utama ketertinggalan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa di dunia.

Suatu lembaga yang menguasai teknologi informasi maka lembaga tersebut akan memenangkan persaingan, begitu pula dalam lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan dapat memanfaatkan teknologi informasi agar sekolah tersebut menjadi unggul. Pemanfaatan teknologi informasi dapat digunakan untuk kerja sama dengan sekolah-sekolah dalam negeri maupun laur negeri.

Program sekolah lain pun harus dapat diciptakan dengan mengandalkan teknologi informasi, agar setiap sekolah dapat mengunggulkan program-program yang dapat digunakan untuk menarik para pelanggan/customer dalam hal ini orang tua yang akan menyekolahkan anaknya pada sekolah yang memiliki integritas tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.   PEMBAHASAN

 

  1. I.      PENGERTIAN TEKNOLOGI INFORMASI (TI)

Teknologi Informasi (TI) merupakan sebutan lain dari teknologi komputer, yang dikhususkan untuk pengolahan data menjadi informasi yang bermanfaat bagi sebuah organisasi termasuk organisasi pendidikan. Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data,termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.

Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, system jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Arti teknologi informasi bagi dunia pendidikan seharusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan.

Pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pendidikan sudah merupakan kelaziman.Membantu menyediakan komputer dan jaringan yang menghubungkan rumah murid dengan ruang kelas, guru, dan administrator sekolah. Semuanya dihubungkan ke Internet, dan para guru dilatih menggunakan komputer pribadi. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.

Perkembangan Teknologi Informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik.

Pada proses pengelolaan sistem informasi juga dibutuhkan teknologi informasi (TI) yang terdiri atas perangkat kerja dan piranti lunak. Teknologi informasi tidak hanya mencakup komputer, printer, PDA dan piranti lunak sepeti sistem operasi Windows atau Linux, suite aplikasi Microsoft office dan program aplikasi lainnya.

Teknologi Informasi mengalami perkembangan baik  dari bentuk, ukuran, kecepatan, dan kemampuan untuk mengakses multimedia dan jaringan komputer. Perkembangan itu disebabkan tingginya tingkat persaingan antar produsen prosesor komputer, seperti Intel, Motorola, Apple, DEC, dan lainnya.

Perkembangan prosesor tersebut mencapai tingkat kecepatan yang sangat tinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Jika diamati secara rinci perkembangan setiap seri prosesor, hampir berhimpitan terciptanya prosesor baru dengan spesifikasi yang semakin tinggi.

Persaingan dalam pengembangan prosesor telah mendorong pertumbuhan industri TI karena setiap prosesor baru diciptakan, dibutuhkan spesifikasi baru, khususnya yang terkait dengan RAM  dan kapasitas pengingat sekunder seperti harddisk. Penciptaan prosesor dengan spesifikasi baru telah memberi tantangan bagi produsen software untuk mengimbanginya dengan menciptakan system operasi dan aplikasi baru yang mampu mengoptimalkan spesifikasi prosesor dan perangkat hardware secara keseluruhan.

 

 

 

 

 

 

 

  1. II.    GELOMBANG INOVASI PENDIDIKAN

Menurut Budi Sutedjo (Eti Rochaety, 2010: 74), gelombang teknologi informasi yang berbasis internet berkembang melalu tahapan sebagai berikut:

  1. Gelombang pertama, pemanfaatan TI difokuskan untuk peningkatan produktivitas dan memperkecil biaya. Misalnya digunakan untuk surat-menyurat, slide presentasi, pembuatan table dan neraca. Aplikasi yang digunakan, antara lain Word, Excel, Power Point dan Access.
  2. Gelombang kedua, TI difokuskan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan peralatan komputer melalui pembangunan jaringan komputer. Jaringan ini dibangun dengan cara menghubungkan komputer-komputer dengan menggunakan kabel dan kartu jaringan sehingga printer, harddisk, dan peralatan lain dapat digunakan secara serempak. Jaringan ini dapat menghemat biaya investasi dan mempercepat distribusi data dan informasi.
  3. Gelombang ketiga, TI difokuskan untuk menghasilkan keuntungan lewat pembangunan program system informasi. Seperti perguruan tinggi negeri maupun swasta dan sekolah menengah menggunakan teknologi informasi untuk pelayanan administrasi pendaftaran siswa baru, dan pelayanan admistrasi dalam keuangan.
  4. Gelombang keempat, TI difokuskan untuk membantu proses pengambilan keputusan dari data kualitatif. Seperti pembangunan system pendukung keputusan (DSS/Decision Support System) bagi penerimaan pegawai, penilaian prestasi pegawai, peningkatan jenjang karier pegawai, dan sebagainya.
  5. Gelombang kelima, TI difokuskan untuk meraih pelanggan (konsumen) melalui pengembangan jaringan internet. Seperti, e-learning, e-campus, e-school yang mampu menjangkau para pengguna jasa pendidikan baik local, nasional, maupun global.
  6. Gelombang keenam, TI yaitu mengembangkan system jaringan tanpa kabel (wireless). Misalnya seseorang mampu mengakses internet menggunakan telepon seluler, bahkan melalui ponsel tersebut.

 

Gelombang inivasi ini menunjukkan bahwa TI dapat digunakan untuk komunikasi efektif dengan konsumen dan mitra kerjanya.

 

  1. III.   MANFAAT IT DALAM DUNIA PENDIDIKAN

IT bermanfaat dalam dunia pendidikan, antara lain:

  1. Sebagai akses layanan informasi akademik suatu institusi pendidikan

Tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan, melalui situs tertentu diperoleh informasi yang berhubungan dengan perkembangan pendidikan yang terjadi dan untuk menyajikan sumber umum serta jaringan komunikasi (forum) bagi administrator sekolah, para pendidik dan para peminat lainnya. Contoh dari situs ini adalah www.pendidikan.net.

Layanan pendidikan lain yang bisa dilaksanakan melalui sarana internet yaitu dengan menyediakan materi secara online dan materi kuliah tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan. Sistem administrasi siswa; dimana para siswa dapat melihat informasi mengenai status siswa, prestasi siswa dan sebagainya.

  1. Sebagai akses fasilitas mesin pencari data/ sebagai perpustakaan digital

Perpustakaan digital; Pada bagian ini, terdapat berbagai informasi kepustakaan, tidak terbatas pada buku tapi juga pada kepustakaan digital seperti suara, gambar dan sebagainya. Bagian ini bersifat sebagai penunjang dan berbentuk database

Berguna untuk mencari bahan atau pun data yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut melalui mesin pencari pada internet. Situs tersebut sangat berguna pada saat kita membutuhkan artikel, jurnal ataupun referensi yang dibutuhkan. Situs tersebut contohnya seperti google.com, atau searchindonesia.com. atau sumpahpalapa.net.

  1. Sebagai model pembelajaran multimedia

Sebagai suatu community web based distance learning harus mampu menjadikan sarana ini sebagai tempat kegiatan siswa/siswa, dimana siswa/siswa dapat menambah kemampuan, membaca materi pelajaran, mencari informasi dan sebagainya.

Misalnya pendalaman materi dan ujian, guru/dosen mengadakan quis singkat dan tugas yang bertujuan untuk pendalaman dari apa yang telah diajarkan serta melakukan test pada akhir masa belajar. Hal ini juga harus dapat diantisipasi oleh web based distance learning.

  1. Sebagai fasilitas diskusi

Untuk membantu proses transformasi paradigma pembelajaran dari teacher-centered menuju student-centered. Bukan lagi pengajar yang aktif “menyuapi” pembelajar dengan materi atau meminta siswa bertanya mengenai sesuatu yang belum dipahami, tetapi disini siswa difasilitasi untuk belajar secara kritis dan aktif. Sistem ini dapat juga dikemas untuk melangsungkan proses belajar mengajar dengan pendekatan kolaboratif (collaborative learning) maupun pemecahan masalah (problem-based learning).

Interaksi dalam group, para siswa dapat berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan materi-materi yang diberikan guru. Guru dapat hadir dalam group ini untuk memberikan sedikit ulasan tentang materi yang diberikannya. Dengan demikian, bagi siswa yang malu bertanya saat di sekolah bisa menyalurkan pertanyaan melalui group diskusi yang dibuat oleh guru mata pelajaran masing-masing.

 

  1. IV.  APLIKASI IT DALAM DUNIA PENDIDIKAN
  2. a.    E-Commerse

Dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari banyak orang membeli buku,makanan maupun minuman, atau mengikuti lelang berbagai jenis produk menggunakan TI internet. Hal ini tidak terbatas pada jangkauan kota atau luar kota. Akan tetapi, sampai lintas negara dengan sistem hubungan langsung pada waktu yang sama atau (real time). Inikah yang disebut revolusi dalam kehidupan social atau cara hidup manusia saat ini, aktivitas seperti ini sering disebut  e-commerce.

Lembaga pendidikan ,melihat bahwa TI sebagai alat yang menarik untuk membuat operasional oirganisasi lebih efisien. Tujuannya adalah menghapus posisi penyambung komunikasi dari dua tempat yang berkepentingan, juga menghapuskan batas waktu untuk operasi internasional dengan konsep real time. Biaya yang dikorbankan juga akan lebih rendah karena pengurangan tenaga kerja. Artinya, TI merupakan salah satu fasilitas lembaga pendidikan yang lebih tepat dalam melanggan dan memuaskan pemilik lembaga pendidikan tersebut (shareholder). Hubungan antarlembaga pendidikan juga mengalami evolusi ataupun revolusi sejalan dengan munculnya e-learning, e-school. Jadi, proses pembelajaran yang dilaksanakan melalui TI, hasilnya bisa dipastikan lebih unggul karena formulasi pola pembelajaran sudah dibuat lebih fleksibel sesuai dengan kebutuhan penyedia maupun pengguna jasa pendidikan.

Sekarang banyak universitas di Amerika Serikat menawarkan dan melaksanakan kegiatan edukasinya dengan menggunakan internet. Jadi,peserta pendidikan (siswa) yang berada di Amerika, Afrika, maupun di Indonesia asal tersedia jaringan internet dapat menikmati edukasi dan gelar kependidikan dari Amerika tanpa harus mengungsi dalam beberapa tahun ke kota dimana universitas tersebut berada.

Dengan perkembangan TI  yang demikian cepat dan merambah ke semua sector kehidupan manusia, demand  terhadap para ahli TI pun semakin meningkat. Di samping dampak positif perkembangan TI dalam mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, dampak negatif pun muncul yaitu adanya pengurangan tenaga kerja. TI juga memberikan peluang pekerjaan sehingga kompetensi tenaga kerja bidang keahlian harus kompeten.

 

  1. b.    E-learning.

E-Education atau e-learning, istilah ini mungkin masih asing bagi bangsa Indonesia. e-education (Electronic Education) ialah istilah penggunaan IT di bidang Pendidikan. Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. menjadi bukan masalah lagi. Perpustakaan merupakan salah satu sumber informasi yang mahal harganya. (Berapa banyak perpustakaan di Indonesia, dan bagaimana kualitasnya?) Adanya Internet memungkinkan seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat berupa Digital Library. Sudah banyak cerita tentang pertolongan Internet dalam penelitian, tugas akhir. Tukar menukar informasi atau tanya jawab dengan pakar dapat dilakukan melalui Internet. Tanpa adanya Internet banyak tugas akhir dan thesis yang mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan.

Model pembelajaran e-learning ini memiliki kendala antara lain, kemampuan dalam menyusuaikan diri dengan tuntutan pasar (market adaptability), kesiapanpara pendidik (guru/dosen), teknologi dan sarana penunjang lainnya, biaya dan perangkat kebijakan pemerintah.

Proses pembelajaran e-learning adalah perpaduan antara metode tatap muka dengan dengan metode online (via internet dan berbagai pengembangan teknologi informasi lainnya). Berdasarkan penelitian UNESCO dan World Bank bahwa pada Negara berkembang sangat diperlukan adanya perubahan pendekatan dan paradigma pembelajaran. Jika tidak demikian, negara berkembang tidak akan mampu bersaing di era ekonomi yang berlandaskan ilmu pengetahuan (knowledge economic era). Era tersebut para pekerjanya secara cepat menemukan berbagai informasi yang diperlukan, menimbangdan mengevaluasi informasi tersebut agar  memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan tidak bias, serta mempergunakan informasi tersebut untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapai.

Dalam hal ini perlu ditambahkan kemandirian diri setiap pendidik untuk membuat mereka menjadi lebih independen dan akan memperkaya mereka dengan kemampuan dalam menguasai ilmu pengetahuan di luar kelas. Aspek lain yang perlu terus ditanamkan terutama pada pendidikan tinggi adalah belajar konsep yang mengatakan bahwa belajar adalah sebuah proses yang tidak akan pernah berhenti (lifelong learning process).

Perubahan paradigma dan pola pendekatan pembelajaran harus dilakukan, diantaranya karena peserta didik yang dihadapai adalah individu yang memiliki pemikiran kritis, telah memiliki cara untuk belajar, memiliki kemampuan untuk mengumpulkan dan menggunakan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, dan memiliki kecenderungan untuk terus melanjutkan studi mereka.

E-learning dapat digunakan untuk peserta didik yang mempunyai keterbatasan waktu, keterbatasan tempat belajar, keterpisahan jarak secara geografis, dan keinginan peserta didik untuk belajar di tempatnya sendiri. Dengan demikian, e-learning telah memperbesar kesempatan bagi individu untuk mendapatkan pendidikan yang diinginkannya sekaligus  mempercepat terciptanya masyarakat yang berpengatahuan (knowledge society). Bill Geets mengemukakan bahwa teknologi baru akan memainkan peranan penting dalam proses pembelajaran, baik yangdilakukan di dalam maupun luar kelas.

Proses pembelajaran online dapat diselenggarakan dengan berbagai cara berikut:

  1. Proses pembelajaran secara konvensional (lebih banyak face to face meeting) dengan tambahan pembelajaran melalui media interaktif, komputer via internet atau menggunakan grafik interaktif komputer .juga memerlukan
  2. Dengan metode campuran, yakni secara umum sebagian besar proses pembelajaran dilakukan melalui komputer, namun tetap face to face meeting untuk kepentingan tutorial atau mendiskusikan bahan ajar.
  3. Metode pembelajaran yang secara keseluruhan hanya dilakukan secara online metode ini sama

 

Proses pembelajaran online peserta didik harus mendapatkan bahan ajar berupa CD-ROM (yang dikembangkan oleh para perumus bahan ajar dengan dukungan para ahli), suara (audio), tampilan gambar dan suara (audio-video), pertanyaan-pertanyaan quiz melalui website.

Model pembelajaran e-learning menekankan pada resource based learning (learner-centered learning). Peserta didik mampu mendapatkan bahan  ajar di tempatnya masing-masing (melalui personal komputer/PC di rumah). Resource based learning dilengkapi dengan virtual library dan call center. Pada tahun pertama peserta didik mendapatkan bahan ajar melalui CD-ROM, tahun berikutnya akan mendapatkan bahan ajar melalui website.

Keuntungan model pembelajaran e-learning antara lain, tingkat kemandirian peserta didik baik, kemampuan teknik komunikasi bagus dan komunikasi peserta didik baik dengan guru maupun dengan teman sejawat semakin meningkat  yang dapat digunakan sebagai emdia untuk tempat bertanya dan berdiskusi.

 

Virtual Learning

Di lingkungan perguruan tinggi dikembangkan Virtual university merupakan sebuah aplikasi baru bagi Internet. Virtual university memiliki karakteristik yang scalable, yaitu dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh orang banyak. Jika pendidikan hanya dilakukan dalam kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut serta dalam satu kelas? Jumlah peserta mungkin hanya dapat diisi 40 – 50 orang. Virtual university dapat diakses oleh siapa saja, darimana saja. Penyedia layanan Virtual University ini adalah www.ibuteledukasi.com.

Sekarang ini Virtual University layanannya belum efektif karena teknologi yang masih minim. Namun diharapkan di masa depan Virtual University ini dapat menggunakan teknologi yang lebih handal semisal Video Streaming yang dimasa mendatang akan dihadirkan oleh ISP lokal, sehingga tercipta suatu sistem belajar mengajar yang efektif yang diimpi-impikan oleh setiap ahli IT di dunia Pendidikan. Virtual School juga diharapkan untuk hadir pada jangka waktu satu dasawarsa ke depan.

Model pembelajaran virtual lain yang dikembangkan adalah Virtual Online Instructional Support System (VOISS).

Keuntungan VOISS:

  • Guru melakukan transfer knowledge kepada peserta didik di mana saja dan kapan saja tanpa membatasi wilayah atau negara.
  • Peserta didik dapat men-download tugas-tugas
  • Peserta didik dapat membaca arahan dari staf pengajar
  • Peserta didik dapat mengikuti quiz secara online
  • Peserta didik dapat melihat jadwal kelas
  • Peserta didik dapat menerima atau mengirim e-mail baik kepada guru maupun sesama peserta didik
  • Peserta didik dapat melihat nilai tes secara online.
  • Membentuk forum diskusi interaktif yang dapat melibatkan peserta didik dan staf pengajar secara virtual.

 

Proses pembelajaran secara fisik di sekolah/tempat kuliah akan menjaga value dari human interaction, sedangkan e-learning akan memberikan akses pada knowledge resource yang sangat kaya dari internet. Dengan demikian, lembaga pendidikan harus melakukan kolaborasi model pembelajan antara e-learning dengan model pembelajaran yang lain. Sehingga motivasi dan hasil belajar siswa semakin meningkat, dan siswa tidak jenuh ketikamengikuti suatu mata pelajaran tertentu.

 

Action Learning

Action Learning dicetuskan oleh Reg Revans tahun 1971 di Amerika Serikat, yang awal mulanya hanya diperuntukkan bagi karyawan perusahaan, kemudian berkembang dan banyak dibutuhkan oleh organisasi-organisasi nonbisnis termasuk organisasi pendidikan. Pendekatan ini merupakan sebuah cara pengembangan intelektual,emosi, maupun fisik seseorang atau kelompok yang terlibat dalam sebuah organisasi. Sasaran yang ingin dicapainya adalah terjadinya partisipasi aktif dari setiap unsur organisasi untuk pemecahan masalah. Diperlukan tiga komponen utama dalam penggunaan Action Learning yaitu (1) orang yang menerima tanggung jawab untuk bertindak mengenai masalah yang dihadapi (pimpinan), (2) tugas yang ditetapkan setiap unsur organisasi (job description), dan (3) tim kerja yang akan merumuskan berbagai permasalahan yang dihadapi organisasi atau lembaga yang saling mendukung agar terjadi sinergi untuk kemajuan oraganisasi.

Pendekatan ini dapat digunakan untuk kebutuhan lembaga pendidikan yang akan dibahas lebih sederhana, jelas, kritis, dan bersifat segera. Misalnya kebutuhan dalam masalah proses pembelajaran, mengidentifikasi peluang penyempurnaan proses pembelajaran, merancang program pembelajaran, dan merealisasikan visi dalam operasional pendidikan. Apabila situasi sebuah lembaga pendidikan yang membutuhkan pendekatan ini telah teridentifikasi, maka langkah selanjutnya adalah dengan mempersiapkan sebuah tim Action Learning untuk menangani permasalahan yang dihadapi. Anggota tim Action Learning  terdiri dari orang  yang memiliki kemampuan dan keterampilan terutama dalam lembaga pendidikan, kreativitas, dapat bekerja sama dalam jangka panjang, dan adanya kepentingan untuk menyempurnakan situasi maupun kondisi yang sedang dihadapi bersama. Action Learning juga membutuhkan seorang fasilitator yang berperan membantu agar tim dapat bekerja sama secara serempak. Sebaiknya fasilitator ini orang luar misalnya konsultan professional di bidang pendidikan agar dapt bersikap lebih objektif dan mendalam. Sebelum bekerja tim ini akan diberikan pengarahan oleh fasiltator yang memuat informasi mengenai isu atau masalah yang dihadapi  dan tidak harus detail. Selanjutnya tim ini bekerja dengan cara mengumpulkan informasi, melakukan diskusi, menyusun srategi solusi, mengimplementasikan solusi dan mengevaluasi untuk disempurnakan sebagaimana mestinya.

 

Sinergi Positif dan Negatif Sistem Informasi dan Strategi Pendidikan

Sinergi positif yang dimaksud adalah sistem informasi mampu menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pihak manajemen lembaga pendidikan dalam proses pembuatan keputusan karena didukung oleh sistem informasi yang ada. Kemampuan sistem informasi untuk menyajikan informasi yang dibutuhkan akan membawa dampak terhadap strategi lembaga pendidikan.Keduanya akan menghasilkan sebuah strategi lembaga pendidikan yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan. Apabila yang terjadi sebaliknya, yaitu ketidakmampuan sistem informasi untuk menyajikan informasi yang dibutuhkan oleh lembaga pendidikan maka akan membawa dampak. Dimana dampak yang dihasilkan adalah strategi lembaga pendidikan yang meragukan pengambil keputusan karena disusun berdasarkan informasi yang terbatas dan inilah sinergi negative yang dihasilkan. Untuk lebih memahaminya dapat melihat gambar matriks sebagai berikut.

 

Masih dimungkinkan terjadinya sinergi positif tetapi harus ada upaya keras untuk mencari berbagai sumber informasi. Konsultan yang dibutuhkan adalah konsultan sistem informasi

KUADRAN II                                                             KUADRAN I

Sinergi positif, kualitas sinergi lembaga pendidikan yang dihasilkan sangat baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Konsultan yang diperlukan sebagai Second Opinion.

 

 

 

 

 

KUADRAN III                                                          KUADRAN IV

 

 

 

KUADRAN III                                                          KUADRAN IV

Sinergi negative, kualitas sinergi yang dihasilkan tidak baik dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bantuan konsultan tidak banyak menolong kecuali untuk pembenahan lembaga pendidikan yang mendasar

Masih dimungkinkan terjadinya sinergi positif, misalnya dengan meminta jasa konsultan bidang pendidikan untuk membantu penyusunan strategi lembaga pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar. Matriks Sinergi Sistem Informasi dengan Strategi Lembaga Pendidikan

 

Pendekatan Human-Centered dalam Manajemen Pendidikan

Pesatnya perkembangan teknologi informasi telah menjadikan banyak lembaga pendidikan menjadi bernilai karena nilai informasi yang dihasilkan memiliki arti strategis dalam pola pengembangan manajemen pendidikan. Berdasarkan hal tersebut teknologi informasi akan menjadi suatu keharusan dalam mengelola suatu lembaga pendidikan agar mampu mengembangkan pola pembelajaran yang lebih berkualitas dan memiliki nilai bagi pelanggannya. Kesiapan sumber daya baik manusia maupun material diperlukan sebagai prasyarat umum untuk mampu menguasai teknologi informasi yang optimal. Salah satu upayanya dengan strategi outsourcing teknologi informasi, yang merupakan strategi penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi oleh lembaga pendidikan melalui pihak ketiga seperti yang dipaparkan oleh Ludigdo, 2007 di dalam Eti Rochaeti. Ternyata, strategi tersebut tidak selalu memberikan manfaat yang optimal dan mengandung risiko sehingga digunakan strategi insourcing dalam pemanfaatan teknologi. Berkaitan hal tersebut akan diuraikan mengenai (1) teknologi informasi dan keunggulan kompetitif, (2) factor manusia dalam manajemen informasi, (3) human-centered apporoaches VS machine-centered approaches.

  1. Teknologi Informasi dan Keunngulan Kompetitif

Lembaga pendidikan perlu mengembangkan kapabilitas teknologi informasi secara efektif dengan biaya untuk investasi teknologi informasi menghasilkan sistem yang tepat guna dan mencapai tujuan pembelajaran dengan implementasi teknologi informasi sehingga meningkatkan daya saingnya. Agar tercapai perlu mempertimbangkan dua pendekatan strategi yang bisa dikombinasikan yaitu (1) mengkonsentrasikan sumberdaya untuk mencapai keunggulan dan memberikan nilai ynag unik bagi pelanggan; (2) mencari sumber daya dari luar yang lebih strategis ( Quinn & Hilmer, 1994, di dalam Eti Rochaety). Harapan atas penguasaan dan pengembangan kapabilitas teknologi informasi sebenarnya berkaitan dengan konsistensinya dalam penyediaan, pengidentifikasian, dan kesempatan untuk mengimplementasikannya dalam memenuhi kebutuhan strategis yang lebih cepat, lebih baik, dan lebih murah dibandingkan pesaing

  1. 2.     Faktor manusia dalam Manajemen Informasi

Penerapan teknologi informasi pada suatu lembaga pendidikan bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan, pengembangan suatu kapabilitas yaitu investasi pada teknologi informasi yang tidak terbatas pada nilai informasi tetapi menyangkut proses penguasannya dapat membantu keberhasilan. Nilai dari kapabilitas teknologi informasi lembaga pendidikan tergantung pada asset manusia, teknologi dan hubungan (relationship) antara teknologi dan dengan manajemen lembaga pendidikan. Aset manusia yang bernilai (valuable) pada suatu lembaga pendidikan mendistribusikan tanggung jawab untuk memecahkan masalah manajemen kepada setiap anggota staf teknologi informasi. Karakteristiknya adalah secara konsisten memecahkan masalah manajeman dan menunjukkan kesempatan perbaikan (improvement) melalui teknologi informasi yang tersedia. Caranya dengan mengkombinasikan pelatihan formal, pengalaman kerja, dan kepemimpinan terfokus. Hubungan antarmanusia sebagai asset lembaga pendidikan dengan asset teknologi dan asset relationship dlam rangka meningkatkan nilai lembaga pendidikan sehingga mampu dan dapat memenangkan persaingan. Namun dalam kenyataannya, tidak jarang pihak manajemen pendidikan dalam upaya meraih keunggulan bersaing telalu mengedepnkan unsur teknologi informasi sedangkan sumber daya manusia terabaikan.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar. Aset teknologi informasi dalam membangun nilai lembaga pendidikan

 

  1. 3.     Human-Centered Approaches Vs Machine-Centered Approaches

Human-Centered Approaches adalah pendekatan yang digubakan dalam manajemen informasi yang menekankan kepada pemikiran-pemikiean orang menggunakan informasi. Yang menekankan bagaimana orang menggunakan mesin (alat) disebut dengan machine-centered approaches (informasi architecture) menurut Dapenvort, 1994 didalam Eti Rochaety. Yang membedakan antara keduanya adalah desain teknologi dan proses, dimana pada human-centered desain disebutkan bahwa teknologi dan proses didesain untuk membuat sistem kerja manusia lebih efektif dan memuaskan. Sedangkan pada machine-centered, teknologi dan proses didesain untuk menyederhanakan apakah yang akan diproses mesin (komputer) dan manusia diharapkan menyesuaikan dengan kelemahan dan keterbatasan komputer. Tetapi pada human-centered tidak dapat dikendalikan secara komprehensif karena informasi lebih kompleks dan sangat luas.

Peranan Teknologi Informasi di Pendidikan

Sebagai komponen sistem informasi, teknologi informasi telah memainkan peran dalam berbagai aspek, diantaranya :

  1. Pengembangan jasa pendidikan sampai kepada dukungan pelayanan kepada pelanggannya;
  2. Penyedia alat untuk analisis proses pengambilan keputusan;
  3. Penendali munculnya berbagai tuntutan dan upaya untuk mengadakan perubahan, baik dalam struktur maupun proses organisasi lembaga pendidikan, seperti reengineering, restructuring, reorganizing atau redesigning, serta perubahan berupa digantinya sistem manual menjadi otomatisasi;
  4. Membantu dalam menentukan strategi untuk mencapai keunggulan kompetitif.
    1. c.    Contoh Sekolah yang Berbasis IT

Contoh lembaga pendidikan baik di dalam maupun di luar negeri yang menerapkan IT, antara lain:

  1. Taman Kanak-kanak Fajar Hidayah di perumahan Kota Wisata Cibubur,

Saat ini banyak lembaga pendidikan yang menawarkan salah satu muatan pendidikan khusus pendidikan komputer multimedia (internet). Salah satu pendidikan prasekolah yaitu Taman Kanak-kanak Fajar Hidayah di perumahan Kota Wisata Cibubur, merupakan salah satu sekolah yang mempelopori pengajaran internet dan multimedia.

Pengembangan sistem pengajaran internet dan multimedia untuk siswa prasekolah, lembaga tersebut tidak mengacu kepada instansi manapun termasuk Departemen Pendidikan Nasional. Hal ini merupakan kreativitas murni dan nilai tambah (value added) yang diprakarsai pihak pengelola. Hal ini bertujuan untuk membiasakan anak sejak dini berinteraksi dengan komputer, multimedia, dan internet.

Program fitur thinkwace educator pada situs www.thinkwace.com. Dengan piranti berupa PC berakses internet yang berhubungan fitur tersebut sudah dipasang kamera web, orang tua bisa memantau setiap aktivitas yang dilakukan anak-anaknya di kelas. Selain kemampuan memantau aktivitas anak, www.thinkwace.com dilengkapi jadwal kehadiran, kalender pendidikan, nilai setiap siswa, dan catatan guru setiap anak. Untuk komunikasi antara guru dan orang tua sebagian dilakukan via e-mail.

  1. SD River Oaks di Oaksville, Ontario, Kanada, merupakan contoh tentang apa yang bakal terjadi di sekolah. SD ini dibangun dengan visi khusus: sekolah harus bisa membuat murid memasuki era informasi instan dengan penuh keyakinan. Setiap murid di setiap kelas berkesempatan untuk berhubungan dengan seluruh jaringan komputer sekolah. CD-ROM adalah fakta tentang kehidupan. Sekolah ini bahkan tidak memiiki ensiklopedia dalam bentuk cetakan. Di seluruh perpustakaan, referensinya disimpan di dalam disket video interktif dan CD-ROM-bisa langsung diakses oleh siapa saja, dan dalam berbagai bentuk: sehingga gambar dan fakta bisa dikombinasikan sebelum dicetak;foto bisa digabungkan dengan informasi.
  2. SMU Lester B. Pearson di Kanada merupakan model lain dari era komputer ini. Sekolah ini memiliki 300 komputer untuk 1200 murid. Dan sekolah ini memiliki angka putus sekolah yang terendah di Kanada: 4% dibandingkan rata-rata nasional sebesar 30%.
  3. Prestasi lebih spektakuler ditunjukkan oleh SMP Christopher Columbus di Union City, New Jersey. Di akhir 1980-an, nilai ujian sekolah ini begitu rendah, dan jumlah murid absen dan putus sekolah begitu tinggi hingga negara bagian memutuskan untuk mengambil alih. Lebih dari 99% murid berasal dari keluarga yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua.

 

 

 

  1. V.   KENDALA PENERAPAN IT DALAM PENDIDIKAN

Beberapa kendala di Indonesia yang menyebabkan IT dan Internet belum dapat digunakan dengan optimal, di antaranya:

  1. Kurangnya ketersediaan sumber daya manusia, dan infrastruktur.

Rata-rata infrastruktur dan SDM di sekolah memang masih minim untuk menangani akselerasi ini. Tidak semua sekolah memiliki laboratorium komputer yang memadai. Selain itu SDM sekolah yang diberi wewenang mengelola IT terkadang tidak cukup, baik dari sisi jumlah maupun kompetensi. Tidak dipungkiri memang ada pihak manajemen sekolah yang patut diacungi jempol karena keinginan dan kepedulian kuatnya, berani ”mengimpor” SDM dari institusi lain untuk menangani IT di lingkungannya. Kondisi ini tentu perlu menjadi perhatian dan pekerjaan rumah bagi instansi terkait.

Selain itu masih terdapat kekurangan pada hal pengadaan infrastruktur teknologi telekomunikasi, multimedia dan informasi yang merupakan prasyarat terselenggaranya IT untuk pendidikan sementara penetrasi komputer (PC) di Indonesia masih rendah. Biaya penggunaan jasa telekomunikasi juga masih mahal bahkan jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia.. Untuk itu perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Sementara itu tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolahan, dan bahkan melalui warung Internet.Hal ini tentunya dihadapkan kembali kepada pihak pemerintah maupun pihak swasta; walaupun pada akhirnya terpulang juga kepada pemerintah. Sebab pemerintahlah yang dapat menciptakan iklim kebijakan dan regulasi yang kondusif bagi investasi swasta di bidang pendidikan. Namun sementara pemerintah sendiri masih demikian pelit untuk mengalokasikan dana untuk kebutuhan pendidikan. Saat ini baru Institut-institut pendidikan unggulan yang memiliki fasilitas untuk mengakses jaringan IT yang memadai. Padahal masih banyak institut-institut pendidikan lainnya yang belum diperlengkapi dengan fasilitas IT.

  1. Kemampuan tingkat manajerial pemerintah yang tidak berbasis teknologi informasi

Kemampuan tingkat manajerial di pemerintah yang sebagian besar tidak memiliki basis teknologi informasi khususnya teknologi Internet, sehingga banyak sekali pekerjaan yang lebih efisien dengan penerapan teknologi informasi tidak dilirik atau bahkan dihindari penerapannya.

Selanjutnya, tidak terdapat komitmen yang kuat dari pemerintah yang mengakibatkan kacaunya penerapan teknologi informasi khususnya teknologi Internet di lingkungan pendidikan. Kalaupun institusi pendidikan ditekan untuk memanfaatkan teknologi informasi, biasanya Kepala atau Pimpinan institusinya tidak mengetahui dengan persis apa yang harus mereka lakukan, sehingga akhirnya mencari konsultan yang berbasis vendor tertentu dan berakibat seluruh proyeknya dikuasai oleh keuntungan semata, bukan menomorsatukan pemanfaatannya.

  1. Sarana sekolah yang tidak mendukung

Masih banyak sarana- sarana di sekolah yang belum memadai untuk penerapan IT. Bagaimana mungkin sebuah sekolah akan menerapkan pembelajaran dengan media IT, jika masalah penyediaan komputer saja masih belum dapat diatasi. Keterbatasan biaya dan tenaga operasional juga menjadi kendala. Untuk bisa memanfaatkan IT tentu perlu adanya tenaga khusus yang mengelola media tersebut, karena tidak setiap guru mampu mengoperasikan media IT. Untuk sekolah yang mempunyai kemampuan baik tenaga maupun biaya tentu tidak akan menjadi masalah, namun bagi sekolah yang miskin dan tenaga gurunya pas-pasan, kondisi ini merupakan masalah baru yang sulit diatasi.

Selanjutnya, mungkin saja kepala sekolah dan guru kurang menyadari pentingnya media pendidikan. Ditambah lagi dengan anggapan sebagian stakeholder bahwa pemanfaatan media pendidikan bagi sekolah terkesan mahal. Biasanya, beban orang tua siswa pun menjadi lebih berat. Sebab untuk memenuhi kebutuhan akan media IT tersebut, salah satu sumber dana sekolah adalah dengan membebankan kepada orang tua siswa.

  1. Persepsi yang salah terhadap media pembelajaran.

Kendala selanjutnya adalah Alasan yang sering didengar, mengapa guru enggan memanfaatkan media pembelajaran karena dengan memanfaatkan media tersebut jam pelajaran siswa menjadi terganggu. Kondisinya memang cukup memperihatinkan. Artinya persepsi guru terhadap media pembelajaran masih salah. Padahal seharusnya justru dengan bantuan media IT, materi yang disampaikan lebih jelas dan konpreherensif karena pemahaman siswa diharapkan hampir sama. Akibatnya guru juga merasa terbebani, karena dituntut harus lebih kreatif dan memiliki persiapan pengajaran yang lebih matang. ada waktunya.

 

Perlu disadari dan dipahami betul bahwa pemerintah punya peran yang sangat penting dalam peningkatan penggunaan teknologi informasi dan komputer untuk kemajuan bangsa Indonesia. Dibutuhkan komitmen dan kesungguhan dari pemerintah untuk menerapakan IT dalam bidang pendidikan. Lembaga pemerintah seperti Pustekkom,  yang mengemban misi untuk berperan serta aktif dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan nasional dan pengembangan sumber daya manusia melalui pengembangan dan pendayagunaan teknologi komunikasi dan informasi, harus lebih dioptimalkan lagi kinerjanya.

Kemudian , perlu diadakan penyuluhan-penyuluhan dan pencerdasan kepada masyarakat tentang manfaat penerapan IT terutama di dalam bidang pendidikan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Indonesia dalam pemanfaatan teknologi informasi. Guru-guru di sekolah hendaknya juga diberikan pelatihan agar dapat mengelola media pendidikan dengan IT, dengan demikian tidak diperlukan lagi tenaga khusus untuk pemeliharaaan media IT dan biaya yang dikeluarkan pihak sekolah pun akan berkurang.

Penting untuk kepala sekolah dan guru untuk menyadari manfaat dari penggunaan media IT dalam pendidikan. Anggapan bahwa pemanfaatan media pendidikan bagi sekolah terkesan mahal harus dihilangkan. Guru –guru pun juga harus dilatih dan terbiasa untuk lebih kreatif dalam memberikan bahan pembelajaran. Untuk kontinuitas apresiasi masyarakat terhadap teknologi informasi, Departemen Pendidikan Nasional harus menerapkan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komputer sejak dini sehingga usia produktif dapat betul-betul memanfaatkan teknologi untuk kemajuan bangsa Indonesia secara menyeluruh.

Untuk masalah infrastruktur yang belum merata di seluruh daerah, tentu sebagian besar merupakan tanggung jawab pemerintah. Namun untuk daerah-daerah yang sulit terjangkau oleh teknologi informasi, perlu diterapkan penggunaan alat-alat teknologi alternatif yang pada saat ini telah banyak ditemukan. Sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar, agar dapat merasakan manfaat dan kemudahan yang diberikan oleh teknologi informasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

Tuntutan pembelajaran di masa yang akan datang harus bersifat terbuka dan dua arah dan kompetitif. Teknologi informasi dan telekomunikasi dengan murah dan mudah akan menghilangkan batasan-batasan ruang dan waktu yang selama ini membatai dunia pendidikan.

Penerapan teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan akan memungkinkan terjadinya sitem pembelajaran elektronik seperti e-Learning, Distance Learning, Virtual University. Dengan pemanfaatan teknolgi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran atau pendidikan memungkinkan hasil pendidikan lebih baik, waktu pendidikan lebih singkat dan biaya yang dikeluarkan lebih rendah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

C, Kenneth. 2007. Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Salemba Empat.

 

Humdiana. 2006. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: Graha Ilmu.

 

Mc Leod, Raymond dan George P. Schell. 2010. Sistem Informasi Manajemen. Edisi Sembilan. Jakarta: Index.

 

Rochaety, Eti. 2010. Sistem Informasi Manajemen Pendidikan. Jakarta: Bumi Akasara.

 

Yulianti, Hani. 2009. Penggunaan IT dalam Pendidikan. http://haniyulianti.blogspot.com.

 

Yustina. 2009. http://yustina.blog.upi.edu

Wardiana, wawan. 2009. Peran Teknologi Informasi Dalam Bidang Pendidikan (e-education). http://www.informatika.lipi.go.id