1. A.  Definisi Kebudayaan

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia (http://m.www.yahoo.com/). Sementara itu menurut Prof. Dr. Jalaludin, MA. yang disampaikan pada perkuliahan Program Studi Teknologi Pendidikan Pascasarjana UNSRI menyatakan bahwa kebudayaan berasal dari kata Cultura Dei yang artinya pengabdian kepada Tuhan.

Pengertian budaya menurut para ilmuan antara lain (http://exalute.wordpress.com)

1. Edward B. Taylor

Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.

 

2. M. Jacobs dan B.J. Stern

Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi social, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan social.

 

3. Koentjaraningrat

Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan relajar.

 

 

 

4. Dr. K. Kupper

Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.

 

5. William H. Haviland

Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di tarima ole semua masyarakat.

6. Ki Hajar Dewantara

Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

 

7. Francis Merill

  1. Pola-pola perilaku yang di hasilkan oleh interaksi social
  2. Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh sesorang sebagai anggota suatu masyarakat yang di temukan melalui interaksi simbolis.

8. Bounded et.al

Kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat.

 

9. Ashley Montagu

Kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya.

 

10. Maslow

Kebudayaan adalah cara hidup manusia.

 

Dari berbagai definisi di atas, dapat diperoleh kesimpulan mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide gagasan yang terdapat di dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi social, religi seni dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Namun pada hakikatnya kebudayaan harus bersumber dari nilai-nilai ilahiah agar kebudayaan tersebut tidak mengalami pergeseran makna dan aplikasi.

Nilai – nilai budaya ini adalah jiwa dari kebudayaan dan menjadi dasar dari segenap wujud kebudayaan. Di samping nilai – nilai budaya ini kebudayaan diwujudkan dalam bentuk tata hidup yang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yang dikandungnya. Pada dasarnya tata hidup merupakan pencerminan yang konkret dari nilai budaya yang bersifat abstrak: kegiatan manusia dapat ditangkap oleh panca indera sedangkan nilai budaya hanya tertangguk oleh budi manusia. Di samping itu maka nilai budaya dan tata hidup manusia ditopang oleh perwujudan kebudayaan yang berupa sarana kebudayaan. Sarana kebudayaan ini pada dasarnya merupakan perwujudan yang bersifat fisik yang merupakan produk dari kebudayaan atau alat yang memberikan kemudahan dalam berkehidupan.

Keseluruhan dari kebudayaan tersebut di atas sangat erat hubungannya dengan pendidikan sebab semua materi yang terkandung dalam suatu kebudayaan diperoleh manusia secara sadar lewat proses belajar. Lewat kegiatan belajar inilah diteruskan kebudayaan dari generasi yang satu kepada generasi selanjutnya. Dengan demikian maka kebudayaan diteruskan dari waktu ke waktu: kebudayaan yang telah lalu bereksistensi pada masa kini dan kebudayaan masa kini disampaikan ke masa yang akan datang.

 

B. Kebudayaan dan Pendidikan

Menurut Prof Dr Rustono salah satu Guru Besar di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, mangatakan bahwa tidak dapat disangkal bahwa kebudayaan itu kompleks. Ia merupakan keseluruhan kompleks itu sendiri. Di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Konfigurasi tingkah laku dan hasil perilaku juga merupakan salah satu bentuk kebudayaan. Unsur-unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu.

Cara hidup bersama juga menjadi bagian kebudayaan. Dari sisi internal ia merupakan cetusan jiwa manusia yang beraneka ragam dan berlaku dalam suatu masyarakat tertentu. Semua itu merupakan hasil belajar dan tersusun dalam kehidupan masyarakat. Manifestasi cara berpikir dan ciptaan hidup suatu bangsa juga wujud kebudayaan yang nyata.

Kesatuan sosial menjadi wahana hasil kerja jiwa manusia dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, ciptaan manusia, perilaku dan kelakuan manusia, adanya pengaturan tata kelakuan yang diperoleh melalui belajar yang tersusun dalam kehidupan masyarakat menjadi pilar penyangga kebudayaan.

Dalam wujud yang spesifik kebudayaan dipandang sebagai sosok umum seni. Seni sastra, musik, pahat, rupa, pengetahuan filsafat atau bagian indah dari kehidupan manusia menjadi penopangnya.

Tulang punggung kebudayaan adalah daya atau kemampuan budi, yang meliputi cipta, karsa, dan rasa. Cipta berwujud kerinduan manusia untuk mengetahui segala rahasia yang ada dalam pengalamannya, baik lahir maupun batin. Hasil kerja cipta itu tidak lain adalah ilmu pengetahuan.

Kerinduan manusia untuk menginsafi tentang sangkan paran manusia menjadi wujud kerja karsa. Dari mana manusia berasal (sangkan) dan ke mana manusia sesudah mati (paran) menjadi pertanyaan utama realisasi adanya karsa. Hasil kerja karsa adalah normanorma keagamaan termasuk di dalamnya kepercayaan. Adanya bermacammacam agama itu menjadi indikator bahwa karsa manusia pun bermacammacam pula.

Daya jenis ketiga penyangga kebudayaan adalah rasa. Kerinduan manusia akan keindahan yang mendorong dirinya menikmati keindahan menjadi realitas adanya rasa. Manusia merindukan keindahan dan menolak kejelekan atau keburukan. Manusia yang menghalalkan kejahatan menjadi indikator bahwa daya rasa pada dirinya telah mati. Hasil kerja rasa berupa norma- norma keindahan yang menghasilkan seni.

Pendidikan itu inheren kebudayaan. Kebudayaan juga inheren pendidikan. Dengan demikian, pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia tidak dapat melepaskan diri dari kebudayaan. Kebudayaan juga tidak dapat melepaskan diri dari pendidikan.

Tujuan yang hendak dicapai dengan pendidikan adalah manusia yang manusiawi sesuai dengan potensinya. Tidak diharapkan pendidikan yang menjadikan manusia lebih dari manusia atau kurang dari manusia. Proses yang menyebabkan binatang dapat berperilaku manusia juga bukan pendidikan, melainkan merupakan penjajahan. Tidak ada keselarasan antara kognisi (memang tidak punya) dan psikomotorik yang terjadi pada binatang yang berperilaku manusia.

Kebudayaan tidak diwariskan secara generatif atau biologis. Bisa saja hasil kerja cipta, karsa, dan rasa orang tua tidak dimiliki oleh anak-anaknya. Anak-anak juga bisa menghasilkan kerja cipta, karsa, dan rasa yang bisa jauh melebihi apa yang dapat dihasilkan orang tuanya. Penyebab utamanya adalah karena kebudayaan hanya dapat dimiliki atau dihasilkan melalui proses belajar.

Proses belajar dalam menghasilkan kebudayaan itulah yang merupakan inti pendidikan. Pendidikan menghasilkan kebudayaan. Pada giliran lain, kebudayaan menghasilkan pendidikan. Pendidikan yang berkualitas menghasilkan kebudayaan yang berkualitas juga. Sebaliknya, kebudayaan luhurlah yang dapat menghasilkan pendidikan yang luhur pula. Pendidikan buruk, kebudayaan juga buruk. Kebudayaan buruk, pendidikan juga buruk. Lihatlah kebudayaan primitif menghasilkan pendidikan primitif atau sebaliknya pendidikan primitif menghasilkan kebudayaan primitif.

Kebudayaan itu mencakupi pendidikan. Pendidikan yang menyeluruh juga meliputi kebudayaan. Pendidikan itu timpang apabila tidak mencakupi kebudayaan. Dengan demikian, mau tidak mau pendidikan itu harus memperhitungkan kebudayaan; bahkan pendidikan itu sendiri diselenggarakan dengan dasar kebudayaan.

Jika kebudayaan itu dapat dikategorisasi menjadi kebudayaan material dan nonmaterial, pendidikan tergolong kebudayaan nonmaterial. Pendidikan tidak memiliki sifat material seperti benda-benda (alat kesenian, alat perlengkapan hidup, dan benda apa saja). Religi, bahasa, adat istiadat, dan ilmu pengetahuan berada dalam satu kategori kebudayaan nonmaterial pendidikan.

Dua kategori kebudayaan itu diperoleh atau dihasilkan melalui proses belajar. Proses belajar itu sendiri merupakan hakikat pendidikan. Objek belajar adalah semua yang dapat dipahami dan disadari sebagai kebutuhan hidup. Dalam dunia pendidikan formal ilmu tentang keperluan hidup itu meliputi lima, yaitu pendidikan agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan. Bahasa, Matematika, IPA, IPS, Teknologi Informasi dan Komunikasi termasuk dalam cakupan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pendidikan sebagai kebudayaan nonmaterial itu sendiri ditujukan untuk mencapai posisi manusia berkebudayaan tinggi. Untuk mencapai kebudayaan tinggi, pendidikan harus berkualitas tinggi. Pendidikan yang alakadarnya menjadi identitas kebudayaan alakadarnya. Jadi, pendidikan suatu bangsa itu dapat diidentifikasi juga dari kebudayaan bangsa itu.

Proses pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Lingkungan, ekonomi, sarana dan prasarana, sumber daya manusia menjadi bagian penting pendidikan. Dengan lingkungan, ekonomi, sarana dan prasarana, sumber daya manusia yang baik; pendidikan juga menjadi baik. Akan tetapi, faktor-faktor pendidikan itu juga produk kebudayaan. Dengan demikian, pendidikan sebagai bagian kebudayaan itu dipengaruhi oleh produk lain kebudayaan.

Pendidikan sebagai aktivitas kebudayaan dilaksanakan dalam rangka membentuk manusia berbudaya (humanus). Sensitif dan kritis terhadap masalah manusia dan budaya serta sadar terhadap nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat menjadi bagian ciri manusia halus. Untuk mencapai status itu manusia perlu memahami cinta kasih, keindahan, penderitaan, keadilan, pandahan hidup, tanggung jawab, kegelisahan, dan harapan.

Tampak bahwa pembentukan manusia berbudaya juga harus melalui kebudayaan. Hal itu terjadi karena cinta kasih, keindahan, penderitaan, keadilan, pandahan hidup, tanggung jawab, kegelisahan, dan harapan juga merupakan bagian kebudayaan. Tiap-tiap bagian kebudayaan itu memberikan kontribusi terhadap pendidikan dalam rangka pembentukan manusia berbudaya. Dengan demikian, jelaslah bahwa kebudayaan dengan segala unsurnya menjadi penopang fundamental bagi terlaksananya pendidikan yang baik dalam arti seluas-luasnya.

Menurut Allport, Vernon dan Lindzey (1951) ada enam nilai dasar dalam kebudayaan, yakni:

  1. Nilai Teori
  2. Nilai Ekonomi
  3. Nilai Estetika
  4. Nilai Sosial
  5. Nilai Politik
  6. Nilai Agama

Nilai Teori adalah hakikat penemuan kebenaran lewat berbagai metode seperti rasionalisme, empirisme dan metode ilmiah.

Nilai Ekonomi mencakup kegunaan dar berbagai benda dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Nilai Estetika berhubungan dengan keindahan dan segi – segi artistic yang menyangkut antara lain bentuk, harmoni dan wujud kesenian lainnya.

Nilai Sosial berorientasi kepada hubungan antar manusia dan penekanan segi – segi kemanusiaan yang luhur.

Nilai Politik berpusat kepada kekuasaan dan pengaruh baik dalam kehidupan bermasayrakat maupun dunia politik.

Nilai Agama merengkuh penghayatan yang bersifat mistik dan transedental dalam usaha manusia untuk mengerti dan memberi arti bagi kehadirannya di muka bumi.

Berdasarkan penggolongan di atas maka masalah pertama yang dihadapi oleh pendidikan ialah menetapkan nilai – nilai budaya apa saja yang harus dikembangkan dalam diri peserta didik. Hal ini harus dilakukan disebabkan oleh dua hal, yakni pertama, nilai – nilai budaya yang harus dikembangkan dalam diri peserta didik haruslah relevan dengan perkembangan zaman, kedua usaha pendidikan yang sadar dan sistematis mengharuskan pendidikan lebih eksplisit dan definitif tentang hakikat nilai – nilai budaya tersebut.

Untuk menentukan nilai – nilai mana yang patut mendapatkan perhatian kita sekarang ini maka pertama kali kita harus dapat memperkirakan skenario dari masyarakat kita di masa yang akan datang. Skenario masyarakat Indonesia di masa yang akan datang tersebut, memperhatikan indikator dan perkembangan yang sekarang ada, cenderung untuk mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  1. memperhatikan tujuan dan strategi pembangunan nasional kita maka masyarakat Indonesia akan beralih dari masyarakat tradisional yang rural agraris menjadi masyarakat modern yang urban dan bersifat industri.
  2. pengembangan kebudayaan kita ditujukan ke arah perwujudan peradaban yang bersifat khas berdasarkan filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia, yakni Pancasila.

Secara bertahap masyarakat tradisional yang berorientasi kepada status akan beralih menjadi masyarakat modern yang berorientasi kepada prestasi. Persaingan akan lebih tampak dan hubungan antar manusia akan lebih bersifat individual dimana survival seseorang ditentukan oleh kemampuannya untuk bersaing secara produktif dalam masyarakat yang menekankan kepada prestasi.

Untuk meredam persaingan dan individualitas maka nilai agama berfungsi sebagai sumber moral bagi segenap kegiatan. Hakikatnya, semua upaya manusia dalam lingkup kebudayaan haruslah ditujukan untuk meningkatkan martabat manusia. Sebab kalau tidak maka hal ini bukanlah proses pembudayaan melainkan dekadensi atau keruntuhan peradaban. Dalam hal ini agama memberikan kompas dan tujuan: sebuah makna yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Kemajuan pesat di bidang ilmu dan tekhnologi yang ternyata tidak memberikan kebahagiaan yang hakiki menyebabkan manusia berpaling kembali kepada nilai – nilai agama.

Adalah kewajiban kita bersama untuk mempersiapkan peserta didik untuk hidup pada zamannya yakni manusia yang bertaqwa, terdidik, bermoral luhur dan estetik; makhluk yang berusaha maju dengan kerja keras dan usaha sendiri.

 

C. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan Nasional.

Kebudayaan tidak hidup dan berkembang dalam ruang kosong. Budaya adalah hasil kreasi suatu masyarakat yang ditujukan kepada kepentingan kehidupan masyarakat tersebut agar tetap eksis dan berkembang. Kreasi kebudayaan sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup masyarakat yang memiliki kebudayaan itu. Bangsa Indonesia sebagai negara kebangsaan perlu terus menerus menghayati dan mengembangkan kebudayaan asli Indonesia. Apalagi di dalam menghadapi dunia yang semakin terbuka. Kesadaran kita sebagai suatu bangsa merupakan salah satu syarat keberadaan kita. Oleh karena itu, nilai wawasan kebangsaan tidak dapat kita terima sebagai taken for granted, tetapi sebagai suatu wawasan yang terus menerus harus menjiwai aktivitas kita untuk hidup sebagai bangsa. Karena, keberhasilan pembangunan bangsa yang kurang diimbangi dengan pembangunan karakter bangsa, telah mengakibatkan goncangan dan krisis budaya, yang kemudian berujung pada lemahnya ketahanan budaya.

Proses globalisasi telah mendorong berbagai negara mengembangkan ketahanan budaya agar dapat bertahan dari terpaan globalisasi. Karena, kebudayaan menjadi alat perjuangan untuk mendapatkan pengakuan kesetaraan dalam pergaulan antarbangsa yang sesungguhnya. Setiap negara akan berusaha tampil dengan kelengkapan budayanya sebagai jati diri yang membedakan dengan negara lainnya.

T. Jacob memaparkan bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu institusi kebudayaan, suatu kegiatan manusia untuk mengetahui tentang diri sendiri dan alam sekitarnya dengan tujuan untuk mengenal manusia sendiri, perubahan-perubahan yang dialami dan cara mencegahnya, mendorong atau mengarahkannya, serta mengenal lingkungan yang dekat dan jauh darinya, perubahan-perubahan lingkungan dan variasinya, untuk memanfaatkan,menghindari dan mengendalikan ilmu itu sendiri.

Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. Dalam rangka pengembangan kebudayan nasional, ilmu mempunyai peranan ganda. Pertama, ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaan nasional. Kedua, ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.

Untuk itu maka pengkajian kita akan difokuskan pada usaha untuk meningkatkan peran ilmu sebagai sumber nilai yang mendukung pengembangan kebudayaan nasional. Dalam hal ini maka pertama akan dikaji hakikat ilmu dan nilai – nilai yang dikandungnya serta pengaruhnya terhadap pengembangan kebudayan nasional.

 

D. Ilmu sebagai suatu cara berfikir.

Beberapa pendapat filsuf /ilmuwan tentang ilmu:

1. Jean Ladriere 1975

Ilmu dapat dipandang sebagai keseluruhan pengetahuan kita dewasa ini, atau sebagai suatu aktivitas penelitian, atau sebagai metode untuk memperoleh pengetahuan.

 

 

 

 

2. Adriano Buzzati-Traverso 1977

Ilmu sebagaimana kita lihat, tidak dapat lagi dipandang sebagai suatu kumpulan pengetahuan atau suatu metode khusus untuk memperoleh pengetahuan, ilmu harus dilihat sebagai suatu aktivitas kemasyarakatan pula.

 

3. Norman Campbell (tahun 50 an )

Menyebutkan tiga hal , yaitu pengetahuan, metode dan studi (suatu jenis aktivitas-penelaahan). Hanya sayang logika pemikirannya kurang cermat dengan mengelompokkan pengertian metode ke dalam pengetahuan.

 

4. Melvin Marx dan William Hillix (tahun 60 an)

Mereka menuliskan tenteng tiga sifat dasar ilmu, yaitu ilmu sebagai sikap ilmiah, metode ilmiah, kumpulan pengetahuan. Kelemahannya ialah kurang tegas menekankan pengertian aktivitas ilmiah dan terlampau menonjolkan sikap ilmiah.

 

Ilmu merupakan suatu cara berfikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan. Ilmu merupakan produk dari proses berfikir menurut langkah – langkah tertentu yang disebut dengan berfikir llmiah.

Berfikir ilmiah merupakan kegiatan berfikir yang memenuhi persyaratan – persyaratan tertentu. Pertama, berfikir ilmiah harus mempunyai alur jalan pikiran yang logis dan kedua harus didukung oleh fakta empiris. Dengan berfikir ilmiah menghasilkan kebenaran ilmiah yang sifatnya tidak mutlak. Sebab mungkin saja pernyataan yang sekarang logis kemudian akan bertentangan dengan pengetahuan ilmiah baru atau pernyataan yang sekarang didukung oleh fakta ternyata kemudian ditentang oleh penemuan baru. Kebenaran ilmah terbuka bagi koreksi dan penyempurnaan.

Di lingkungan pendidikan terutama pendidikan tinggi, boleh dikatakan setiap waktu istilah “ilmu” diucapkan dan sesuatu ilmu diajarkan. Tampaknya telah menjadi kelaziman bahwa sebutan yang dipergunakan ialah “ilmu pengetahuan”. Walaupun setiap saat diucapkan dan dari waktu ke waktu diajarkan, nampaknya tidak banyak dilakukan pembahasan mengenai ilmu itu sendiri. Apa pengertian ilmu dengan sendirinya dipahami tanpa memerlukan keterangan lebih lanjut. Tetapi ,apabila harus memberikan rumusan yang tepat dan cermat mengenai pengertian ilmu barulah orang akan merasa bahwa hal itu tidaklah begitu mudah.

Hal ini terlihat dalam penyebutan istilah “ilmu pengetahuan” yang begitu lazim dalam masyarakat demikian juga dunia perguruan tinggi yang merupakan penyebutan yang kurang tepat dan tidak cermat. Istilah ilmu atau science merupakan suatu perkataan yang bermakna ganda, karena itu dalam memakai istilah seseorang harus menegaskan atau menyadari arti makna yang dimaksud. Menurut cakupannya pertama ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai satu kebulatan, jadi ilmu mengacu pada ilmu seumumnya (science in general ). Yang kedua ilmu menunjuk kepada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari sesuatu pokok tertentu, dalam hal ini cabang ilmu khusus sepaerti antropologi, biologi, geografi dan sebagainya.

Pengertian ilmu adalah merupakan suatu cara berfikir dalam menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Ilmu merupakan produk dari proses berfikir menurut langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat disebut sebagai berfikir ilmiah. Berfikir ilmiah merupakan kegiatan berfikir yang memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, yaitu :

1. Logis yaitu pikiran kita harus konsisten dengan pengetahuan ilmiah yang telah ada.

2. Harus didukung fakta empiris, yaitu telah teruji kebenarannya yang kemudian memperkaya khasanah pengetahuan ilmiah yang disusun secara sistematik dan kumulatif.

Kebenaran ilmiah tidak bersifat mutlak, tetapi terbuka bagi koreksi dan penyempurnaan, mungkin saja pernyataan sekarang logis kemudian bertentangan dengan pengetahuan ilmiah baru.

Dari hakekat berfikir ilmiah tersebut dapat disimpulkan beberapa karakteristik dari ilmu, yaitu :

1. mempercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar

2. alur jalan pikiran yang logis dan konsisten dengan pengetahuan yang telahada

3. pengujian empiris sebagai kriteria kebenaran objektif

4. mekanisme yang terbuka terhadap koreksi

Dari segi maknanya, pengertian ilmu sepanjang yang terbaca dalam pustaka menunjuk sekurang-kurangnya tiga hal, yakni : pengetahuan, aktivitas dan metode.

Secara umum ilmu adalah pengetahuan, diantara para filsuf dari berbagai aliran terdapat pemahaman umum bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan atau pengetahuan yang dihimpun dengan perantara metode ilmiah. Pengetahuan hanyalah produk/hasil dari suatu kegiatan yang dilakukan manusia.

Pengertian ilmu sebagai pengetahuan, aktivitas atau metode bila ditinjau lebih dalam sesungguhnya tidak saling bertentangan, tetapi merupakan kesatuan logis yang mesti ada secara berurutan.

Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu dan akhirnya aktivitas metode itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis. Dengan demikian, pengertian ilmu selengkapnya berarti aktivitas penelitian, metode ilmiah dan pengetahuan sistematis. Ketiga pengertian ilmu itu saling bertautan logis dan berpangkal pada satu kenyataan yang sama bahwa ilmu hanya terdapat dalam masyarakat manusia, dimulai dari segi pada manusia yang menjadi pelaku fenomenon yang disebut ilmu. Hanyalah manusia (dalam hal ini ilmuan) yang memiliki kemampuan rasional, melakukan aktivitas kognitif dan mendambakan berbagai tujuan yang berkaitan dengan ilmu. Keterkaitan dari pengertian ilmu tersebut dijelaskan dalam pendapat The liang Gie (2004:93) berikut ini:

”Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang systematik mengenai kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan atau melakukan penerapan”

 

 

Pemahaman ilmu sebagai aktivitas, metode dan pengetahuan itu dapat diringkas menjadi :

  • Sebagai proses : Aktivitas penelitian Pengertian
  • Ilmu Sebagai prosedur : Metode ilmiah
  • Sebagai produk : Pengetahuan sistematis

 

E. Ilmu sebagai Asas Moral

Dari awal perkembangan ilmu selalu dikaitkan dengan masalah moral. Copernicus (1473-1543) yang menyatakan bumi berputar mengelilingi matahari, yang kemudian diperkuat oleh Galileo (1564-1642) yang menyatakan bumi bukan merupakan pusat tata surya yang akhirnya harus berakhir di pengadilan. Kondisi ini selama 2 abad mempengaruhi proses perkembangan berpikir di Eropa. Moral reasioning adalah proses dimana tingkah laku manusia, institusi atau kebijakan dinilai apakah sesuai atau menyalahi standar moral. Kriterianya: Logis, bukti nyata yang digunakan untuk mendukung penilaian haruslah tepat, konsisten dengan lainnya (http://scribd.com.FilsafatIlmu_dan_MetodeRiset).

Dua karakteristik yang merupakan asas moral bagi ilmuan antara lain:

  1.                a.     Meninggikan kebenaraan

Ilmu merupakan kegiatan berpikir untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, atau secara lebih sederhana, ilmu bertujuan untuk mendapatkan kebenaran. Kriteria kebenaran ini pada hakikatnya bersifat otonom dan terbebas dari struktur kekuasaan diluar bidang keilmuan. Ini artinya, untuk mendapatkan suatu pernyataan benar atau salah seorang ilmuan harus terbebas dari intervensi pihak lain diluar bidang keilmuan

  1.              b.     Pengabdian secara universal

Seorang ilmuan tidak mengabdi pada golongan tertentu, penguasa, partai politik ataupun yang lainnya. Akan tetapi seorang ilmuan harus mengabdi untuk kepentingan khalayak ramai.

Dari karakteristik ilmuan diatas, dapat kita ketahui bahwa ilmu yang merupakan kegiatan untuk mendapatkan pengetahuan yang benar haruslah terlepas dari pengaruh asing diluar bidang keilmuan (bebas nilai) dan harus memiliki manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas bukan golongan tertentu. Namun dalam hal ini para ilmuan dalam rangka untuk melakukan penelitian tidak dapat terlepas dari nilai-nilai ilahiyah, norma yang berlaku dalam masyarakat dan kondisi budaya agar hasil dari penelitian tersebut tidak mendatangkan kerusakan yang berakibat fatal, baik bagi manusia itu sendiri maupun alam semesata.

 

F. Nilai – Nilai Ilmiah dan Pengembangan Kebudayaan Nasional.

7 nilai hakikat keilmuan, yakni kritis, rasional, logis, obyektif, terbuka, menjunjung kebenaran dan pengabdian universal. Peranan ketujuh nilai tersebut dalam pengembangan kebudayaan nasional adalah dalam pembentukkan karakter bangsa. Sekiranya bangsa Indonesia bertujuan menjadi bangsa yang modern, maka ketujuh nilai tersebut akan konsisten sekali. Bangsa yang modern akan menghadapi berbagai permasalahan dalam bidang politik, ekonomi, kemasyarakatan, Iptek, pendididkan dan lain – lain yang membutuhkan cara pemecahan masalah secara kritis, rasional, logis, obyektif dan terbuka. Sedangkan nilai menjunjung kebenaran dan pengabdian universal akan merupakan faktor yang penting dalam pembinaan bangsa.

 

G. Ke arah peningkatan peranan Keilmuan

Berikut adalah langkah – langkah untuk meningkatkan peranan keilmuan dalam pengembangan kebudayaan nasional:

  1. Ilmu merupakan bagian dari kebudayaan dan oleh sebab itu langkah –langkah ke arah peningkatan peranan dan kegiatan keilmuan harus memperhatikan situasi kebudayaan masyarakat.
  2. Ilmu merupakan salah satu cara dalam menemukan kebenaran dan bukan menjadi satu – satunya cara.
  3. Asumsi dasar dari semua kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah rasa percaya terhadap metode yang dipergunakan dalam kegiatan tersebut.
  4. Pendidikan keilmuan harus sekaligus dikaitkan dengan pendidikan moral. Makin pandai seseorang dalam bidang keilmuan maka harus makin luhur landasan moralnya.
  5. Pengembangan bidang keilmuan harus disertai dengan pengembangan dalam bidang filsafat terutama yang menyangkut keilmuan. Pengembangan yang seimbang antara ilmu dan filsafat akan bersifat saling menunjang dan saling mengonrol terutama terhadap landasan epistemologi dan aksiologi keilmuan.
  6. Kegiatan ilmiah haruslah bersifat otonom yang terbebas dari kekangan struktur kekuasaan. Walaupun demikian tidak berarti bahwa kegiatan keilmuan harus terlepas sama sekali dari control pemerintah dan masyarakat.

 

H. Dua Pola Kebudayaan

CP.Snow dalam bukunya The Two Culture mengingatkan negara – negara barat akan adanya dua pola kebudayaan dalam tubuh mereka yakni masyarakat ilmuwan dan non ilmuwan yang sejatinya mengahambat kemajuan di bidang ilmu dan teknologi. Polarisasi ini didasarkan kepada kecenderungan beberapa kalangan tertentu untuk memisahkan ilmu ke dalam dua golongan, yakni ilmu alam dan ilmu sosial. Terdapat pranata – pranata sosial, bahkan pranata – pranata pendidikan, yang masing – masing mendukung kebudayaan tersebut, yang makin memperluas perbedaan antara keduanya. Padahal perbedaan antara kedua ilmu tersebut hanyalah bersifat tekhnis yang tidak menjurus kepada perbedaan yang fundamental.

Perbedaan tersebut tidaklah mengubah apa yang menjadi tujuan penelaahan ilmiah. Tujuan ilmu adalah mencari penjelasan dari gejala – gejala yang ditemukan dan dimungkinkan diketahui sepenuhnya hakikat obyek yang dihadapi.

Adanya kebudayaan yang terbagi ke dalam Ilmu Alam dan Ilmu Sosial ini juga terdapat di Indonesia. Hal ini dicerminkan dengan adanya Jurusan IPA dan IPS di SMA. Adanya pembagian jurusan ini merupakan hambatan psikologis dan intelektual bagi pengembangan keilmuan di negara kita. Sudah merupakan rahasia umum bahwa jurusan IPA  dianggap lebih memiliki prestise dibandingkan jurusan IPS. Hal ini akan menyebabkan mereka yang mempunyai minat dan bakat baik di bidang sosial akan terbujuk memilih jurusan IPA karena alasan sosial psikologis.

Argumentasi yang sering dikemukakan dalam pembagian jurusan ini didasarkan pada dua asumsi. Asumsi yang pertama mengemukakan bahwa manusia mempunyai bakat yang berbeda dalam pendidikan matematika yang mengaruskan kita mengembangkan pola pendidikan yang berbeda pula. Asumsi yang kedua menganggap ilmu – ilmu sosial kurang memerlukan pengetahuan metematika. Asumsi yang ke dua ini sudah ketinggalan zaman dan tidak dapat dipertahankan lagi. Pengembangan ilmu sosial membutuhkan bakat – bakat matematika yang baik untuk menjadikannya pengetahuan yang bersifat kuantitatif.

Suatu usaha fundamental dan sistematis dalam menghadapi masalah ini perlu diusahakan. Adanya dua pola kebudayan dalam bidang keilmuan kita bukan saja  sesuatu yang regresif melainkan juga destruktif, bukan saja bagi kemajuan ilmu itu sendiri tapi juga bagi pengembangan peradaban scara keseluruhan.

A. Ilmu, ilmu pengetahuan atau sains?

Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge.  Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa difinisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief).

Sedangkan secara terminologi definisi pengetahuan ada beberapa definisi.

  1. Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu.  Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai.  Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran. Dengan demikian pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
  2. Pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam hal ini yang mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif.
  3. Pengetahuan adalah segenap apa yang kita ketahui tentang  suatu objek tertentu, termasuk didalamnya ilmu, seni dan agama. Pengetahuan ini merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung dan tak langsung memperkaya kehidupan kita.

Pada dasarnya pengetahuan merupakan hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Pengetahuan dapat berwujud barang-barang baik lewat indera maupun lewat akal, dapat pula objek yang dipahami oleh manusia berbentuk ideal, atau yang bersangkutan dengan masalah kejiwaan.

Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense,  tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu.  Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka

Ruang Lingkup pengetahuan secara ontologi, epistomologi dan aksiologi ada tiga yaitu Ilmu, Agama dan Seni pada skema berikut :

 

 

Ilmu

Pada prinsipnya ilmu merupakan usaha untuk mengorganisir dan mensitematisasikan sesuatu. Sesuatu tersebut dapat diperoleh dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Namun sesuatu itu dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.

Ilmu dapat merupakan suatu metode berfikir secara objektif (objective thinking), tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia faktual. Ini diperoleh melalui observasi, eksperimen, dan klasifikasi. Analisisnya merupakan hal yang objektif dengan menyampingkan unsur pribadi, mengedepankan pemikiran logika, netral (tidak dipengaruhi oleh kedirian atau subjektif). Ilmu sebagai milik manusia secara komprehensif yang merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia.

Ilmu adalah kumpulan pengetahuan. Namun bukan sebaliknya kumpulan ilmu adalah pengetahuan. Kumpulan pengetahuan agar dapat dikatakan ilmu harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang dimaksudkan adalah objek material dan objek formal. Setiap bidang ilmu baik itu ilmu khusus maupun ilmu filsafat harus memenuhi ke dua objek tersebut. Ilmu merupakan suatu bentuk aktiva yang dengan melakukannya umat manusia memperoleh suatu lebih lengkap dan lebih cermat tentang alam di masa lampau, sekarang dan kemudian serta suatu kemampuan yang meningkat untuk menyesuaikan dirinya.

Ada tiga dasar ilmu yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dasar ontologi ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Jadi masih dalam jangkauan pengalaman manusia atau bersifat empiris. Objek empiris dapat berupa objek material seperti ide-ide, nilai-nilai, tumbuhan, binatang, batu-batuan dan manusia itu sendiri.

Pada umumnya metodologi yang digunakan dalam ilmu kealaman disebut siklus-empirik. Ini menunjukkan pada dua macam hal yang pokok, yaitu siklus yang mengandaikan adanya suatu kegiatan yang dilaksanakan berulang-ulang, dan empirik yang menunjukkan pada sifat bahan yang diselidiki, yaitu hal-hal yang dalam tingkatan pertama dapat diregistrasi secara indrawi. Metode siklus-empirik mencakup lima tahapan yang disebut observasi, induksi, deduksi, eksperimen, dan evaluasi. Sifat ilmiahnya terletak pada kelangsungan proses yang runut dari segenap tahapan prosedur ilmiah tersebut, meskipun pada prakteknya tahap-tahap kerja tersebut sering kali dilakukan secara bersamaan (Soeprapto, 2003).

Ilmu dalam usahanya untuk menyingkap rahasia-rahasia alam haruslah mengetahui anggapan-anggapan kefilsafatan mengenai alam tersebut. Penegasan ilmu diletakkan pada tolok ukur dari sisi fenomenal dan struktural.

Dimensi Fenomenal.

Dalam dimensi fenomenal ilmu menampakkan diri pada hal-hal berikut :

  1. Masyarakat yaitu suatu masyarakat yang elit yang dalam hidup kesehariannya sangat konsern pada kaidah-kaidah universaI, komunalisme, disinterestedness, dan skeptisme yang terarah dan teratur
  2. Proses yaitu olah krida aktivitas masyarakat elit yang melalui refleksi, kontemplasi, imajinasi, observasi, eksperimentasi, komparasi, dan sebagainya tidak pernah mengenal titik henti untuk mencari dan menemukan kebenaran ilmiah.
  3. Produk yaitu hasil dari aktivitas tadi berupa dalil-dalil, teori, dan paradigma-paradigma beserta hasil penerapannya, baik yang bersifat fisik, maupun non fisik.

Dimensi Struktural

Dalam dimensi struktural ilmu tersusun atas komponen-komponen berikut

  1. Objek sasaran yang ingin diketahui
  2. Objek sasaran terus menerus dipertanyakan tanpa mengenal titik henti
  3. Ada alasan dan dengan sarana dan cara tertentu objek sasaran tadi terus menerus dipertanyakan
  4. Temuan-temuan yang diperoleh selangkah demi selangkah disusun kembali dalam satu kesatuan sistem.

Ilmu dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu Ilmu Pengetahuan Abstrak, Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Humanis.

Secara rinci seperti skema di bawah ini.

 

Berdasarkan skema di atas terlihat bahwa ilmu melingkupi tiga bidang poko yaitu ilmu pengetahuan abstrak, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan humanis. Ilmu pengetahuan abstrak meliputi metafisika, logika, dan matematika. Ilmu pengetahuan alam meliputi Fisika, kimia, biologi, kedokteran, geografi, dan lain sebagainya. Ilmu pengetahuan humanis meliputi psikologi, sosiologi, antropologi, hukum dan lain sebagainya.

Membicarakan masalah ilmu pengetahuan beserta definisinya ternyata tidak semudah dengan yang diperkirakan. Adanya berbagai definisi tentang ilmu pengetahuan ternyata belum dapat menolong untuk memahami hakikat ilmu pengetahuan itu. Sekarang orang lebih berkepentingan dengan mengadakan penggolongan (klasifikasi) sehingga garis demarkasi antara (cabang) ilmu yang satu dengan yang lainnya menjadi lebih diperhatikan.

Pengertian ilmu       yang terdapat dalam kamus Bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu (Admojo, 1998). Mulyadhi Kartanegara mengatakan ilmu adalah any organized knowledge. Ilmu dan sains menurutnya tidak berbeda, terutama sebelum abad ke-19, tetapi setelah itu sains lebih terbatas pada bidang-bidang fisik atau inderawi, sedangkan ilmu melampauinya pada bidang-bidang non fisik, seperti metafisika.

Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli seperti yang dikutip diantaranya  adalah :

  • Mohamad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam.
  • Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan ke empatnya serentak.
  • Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sederhana.
  • Ashley Montagu, menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji.
  • Harsojo menerangkan bahwa ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistemasikan dan suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indera manusia. Lebih lanjut ilmu didefinisikan sebagai suatu cara menganalisis yang mengijinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk : “ jika …. maka “.
  • Afanasyef, menyatakan ilmu adalah manusia tentang alam, masyarakat dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep, katagori dan hukum-hukum, yang ketetapannya dan kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis.

Berdasarkan definisi di atas terlihat jelas ada hal prinsip yang berbeda antara ilmu dengan pengetahuan. Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense,  tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu

Pembuktian kebenaran pengetahuan berdasarkan penalaran akal atau rasional atau menggunakan logika deduktif. Premis dan proposisi sebelumnya menjadi acuan berpikir rasionalisme. Kelemahan logika deduktif ini sering pengetahuan yang diperoleh tidak sesuai dengan fakta.

Secara lebih jelas ilmu seperti sapu lidi, yakni sebagian lidi yang sudah diraut dan dipotong ujung dan pangkalnya kemudian diikat, sehingga menjadi sapu lidi. Sedangkan pengetahuan adalah lidi-lidi yang masih berserakan di pohon kelapa, di pasar, dan tempat lainnya yang belum tersusun dengan baik.

Ilmu pengetahuan (science) mempunyai pengertian yang berbeda dengan pengetahuan (knowledge atau dapat juga disebut common sense). Orang awam tidak memahami atau tidak menyadari bahwa ilmu pengetahuan itu berbeda dengan pengetahuan. Bahkan mugkin mereka menyamakan dua pengertian tersebut. Tentang perbedaan antara ilmu pengetahuan dan pengetahuan akan dicoba dibahas disini.

Mempelajari apa itu ilmu pengetahuan itu berarti mempelajari atau membahas esensi atau hakekat ilmu pengetahuan. Demikian pula membahas pengetahuan itu juga berarti membahas hakekat pengetahuan. Untuk itu kita perlu memahami serba sedikit Filsafat Ilmu Pengetahuan. Dengan mempelajari Filsafat Ilmu Pengetahuan di samping akan diketahui hakekat ilmu pengetahuan dan hakekat pengetahuan, kita tidak akan terbenam dalam suatu ilmu yang spesifik sehingga makin menyempit dan eksklusif. Dengan mempelajari filsafat ilmu pengetahuan akan membuka perspektif (wawasan) yang luas, sehingga kita dapat menghargai ilmu-ilmu lain, dapat berkomunikasi dengan ilmu-ilmu lain. Dengan demikian kita dapat mengembangkan ilmu pengetahuan secara interdisipliner. Sebelum kita membahas hakekat ilmu pengetahuan dan perbedaannya dengan pengetahuan, terlebih dahulu akan dikemukakan serba sedikit tentang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Mempelajari sejarah ilmu pengetahuan itu penting, karena dengan mempelajari hal tersebut kita dapat mengetahui tahap-tahap perkembangannya. Ilmu pengetahuan tidak langsung terbentuk begitu saja, tetapi melalui proses, melalui tahap-tahap atau periode-periode perkembangan.

a)    Periode Pertama (abad 4 sebelum Masehi)

Perintisan “Ilmu pengetahuan” dianggap dimulai pada abad 4 sebelum Masehi, karena peninggalan-peninggalan yang menggambarkan ilmu pengetahuan diketemukan mulai abad 4 sebelum Masehi. Abad 4 sebelum Masehi merupakan abad terjadinya pergeseran dari persepsi mitos ke persepsi logos, dari dongeng-dongeng ke analisis rasional. Contoh persepsi mitos adalah pandangan yang beranggapan bahwa kejadian-kejadian misalnya adanya penyakit atau gempa bumi disebabkan perbuatan dewa-dewa. Jadi pandangan tersebut tidak bersifat rasional, sebaliknya persepsi logos adalah pandangan yang bersifat rasional. Dalam persepsi mitos, dunia atau kosmos dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan magis, mistis. Atau dengan kata lain, dunia dijelaskan oleh faktor-faktor luar (eksternal). Sedang dalam persepsi rasional, dunia dianalisis dari faktor-faktor dalam (internal). Atau dengan kata lain, dunia dianalisis dengan argumentasi yang dapat diterima secara rasional atau akal sehat. Analisis rasional ini merupakan perintisan analisis secara ilmiah, tetapi belum dapat dikatakan ilmiah.

Pada periode ini tokoh yang terkenal adalah Aristoteles. Persepsi Aristoteles tentang dunia adalah sebagai berikut: dunia adalah ontologis atau ada (eksis). Sebelum Aristoteles dunia dipersepsikan tidak eksis, dunia hanya menumpang keberadaan dewa-dewa. Dunia bukan dunia riil, yang riil adalah dunia ide. Menurut Aristoteles, dunia merupakan substansi, dan ada hirarki substansi-substansi. Substansi adalah sesuatu yang mandiri, dengan demikian dunia itu mandiri. Setiap substansi mempunyai struktur ontologis. Dalam struktur ontologis terdapat 2 prinsip, yaitu: 1) Akt: menunjukkan prinsip kesempurnaan (realis); 2) Potensi: menunjukkan prinsip kemampuannya, kemungkinannya (relatif). Setiap benda sempurna dalam dirinya dan mempunyai kemungkinan untuk mempunyai kesempurnaan. Perubahan terjadi bila potensi berubah, dan perubahan tersebut direalisasikan.

Pandangan Aristoteles yang dapat dikatakan sebagai awal dari perintisan “ilmu pengetahuan” adalah hal-hal sebagai berikut:

1)    Hal Pengenalan

Menurut Aristoteles terdapat dua macam pengenalan, yaitu:                 (1) pengenalan inderawi; (2) pengenalan rasional. Menurut Aristoteles, pengenalan inderawi memberi pengetahuan tentang hal-hal yang kongkrit dari suatu benda. Sedang pengenalan rasional dapat mencapai hakekat sesuatu, melalui jalan abstraksi.

 

 

2)    Hal Metode

Selanjutnya, menurut Aristoteles, “ilmu pengetahuan” adalah pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau hukum-hukum bukan objek-objek eksternal atau fakta. Penggunaan prinsip atau hukum berarti berargumentasi (reasoning). Menurut Aristoteles, mengembangkan “ilmu pengetahuan” berarti mengembangkan prinsip-prinsip, mengembangkan “ilmu pengetahuan” (teori) tidak terletak pada akumulasi data tetapi peningkatan kualitas teori dan metode. Selanjutnya, menurut Aristoteles, metode untuk mengembangkan “ilmu pengetahuan” ada dua, yaitu: (1) induksi intuitif yaitu mulai dari fakta untuk menyusun hukum (pengetahuan universal); (2) deduksi (silogisme) yaitu mulai dari pengetahuan universal menuju fakta-fakta.

b)    Periode Kedua (abad 17 sesudah Masehi)

Pada periode yang kedua ini terjadi revolusi ilmu pengetahuan karena adanya perombakan total dalam cara berpikir. Perombakan total tersebut adalah sebagai berikut:

Apabila Aristoteles cara berpikirnya bersifat ontologis rasional, Gallileo Gallilei (tokoh pada awal abad 17 sesudah Masehi) cara berpikirnya bersifat analisis yang dituangkan dalam bentuk kuantitatif atau matematis. Yang dimunculkan dalam berfikir ilmiah Aristoteles adalah berpikir tentang hakekat, jadi berpikir metafisis (apa yang berada di balik yang nampak atau apa yang berada di balik fenomena).

Abad 17 meninggalkan cara berpikir metafisis dan beralih ke elemen-elemen yang terdapat pada sutau benda, jadi tidak mempersoalkan hakikat. Dengan demikian bukan substansi tetapi elemen-elemen yang merupakan kesatuan sistem. Cara berpikir abad 17 mengkonstruksi suatu model yaitu memasukkan unsur makro menjadi mikro, mengkonstruksi suatu model yang dapat diuji coba secara empiris, sehingga memerlukan adanya laboratorium. Uji coba penting, untuk itu harus membuat eksperimen. Ini berarti mempergunakan pendekatan matematis dan pendekatan eksperimental. Selanjutnya apabila pada jaman Aristoteles ilmu pengetahuan bersifat ontologis, maka sejak abad 17, ilmu pengetahuan berpijak pada prinsip-prinsip yang kuat yaitu jelas dan terpilah-pilah (clearly and distinctly) serta disatu pihak berpikir pada kesadaran, dan pihak lain berpihak pada materi. Prinsip jelas dan terpilah-pilah dapat dilihat dari pandangan Rene Descartes (1596-1650) dengan ungkapan yang terkenal, yaitu Cogito Ergo Sum, yang artinya karena aku berpikir maka aku ada. Ungkapan Cogito Ergo Sum adalah sesuatu yang pasti, karena berpikir bukan merupakan khayalan. Suatu yang pasti adalah jelas dan terpilah-pilah. Menurut Descartes pengetahuan tentang sesuatu bukan hasil pengamatan melainkan hasil pemeriksaan rasio (dalam Hadiwijono, 1981). Pengamatan merupakan hasil kerja dari indera (mata, telinga, hidung, dan lain sebagainya), oleh karena itu hasilnya kabur, karena ini sama dengan pengamatan binatang. Untuk mencapai sesuatu yang pasti menurut Descartes kita harus meragukan apa yang kita amati dan kita ketahui sehari-hari. Pangkal pemikiran yang pasti menurut Descartes dikemukakan melalui keragu-raguan. Keragu-raguan menimbulkan kesadaran, kesadaran ini berada di samping materi. Prinsip ilmu pengetahuan satu pihak berpikir pada kesadaran dan pihak lain berpijak pada materi juga dapat dilihat dari pandangan Immanuel Kant (1724-1808). Menurut Immanuel Kant ilmu pengetahuan itu bukan merupakan pangalaman terhadap fakta saja, tetapi merupakan hasil konstruksi oleh rasio.

Agar dapat memahami pandangan Immanuel Kant tersebut perlu terlebih dahulu mengenal pandangan rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur-unsur apriori dalam pengenalan, berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman. Sedangkan empirisme menekankan unsur-unsur aposteriori, berarti unsur-unsur yang berasal dari pengalaman. Menurut Immanuel Kant, baik rasionalisme maupun empirisme dua-duanya berat sebelah. Ia berusaha menjelaskan bahwa pengenalan manusia merupakan keterpaduan atau sintesa antara unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori. Oleh karena itu Kant berpendapat bahwa pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada objek. Sehingga dapat dikatakan menurut Kant ilmu pengetahuan bukan hasil pengalaman saja, tetapi hasil konstruksi oleh rasio.

Inilah pandangan Rene Descartes dan Immanuel Kant yang menolak pandangan Aristoteles yang bersifat ontologis dan metafisis. Banyak tokoh lain yang meninggalkan pandangan Aristoteles, namun dalam makalah ini cukup mengajukan dua tokoh tersebut, kiranya cukup untuk menggambarkan adanya pemikiran yang revolusioner dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

 

a.    Perbedaan Ilmu Pengetahuan dengan Pengetahuan

Terdapat beberapa definisi ilmu pengetahuan, di antaranya adalah:

a)    Ilmu pengetahuan adalah penguasaan lingkungan hidup manusia.

Definisi ini tidak diterima karena mencampuradukkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

b)    Ilmu pengetahuan adalah kajian tentang dunia material.

Definisi ini tidak dapat diterima karena ilmu pengetahuan tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat materi.

c)    Ilmu pengetahuan adalah definisi eksperimental.

Definisi ini tidak dapat diterima karena ilmu pengetahuan tidak hanya hasil/metode eksperimental semata, tetapi juga hasil pengamatan, wawancara. Atau dapat dikatakan definisi ini tidak memberikan tali pengikat yang kuat untuk menyatukan hasil eksperimen dan hasil pengamatan (Ziman J. dalam Qadir C.A., 1995).

d)    Ilmu pengetahuan dapat sampai pada kebenaran melalui kesimpulan logis dari pengamatan empiris.

Definisi ini mempergunakan metode induksi yaitu membangun prinsip-prinsip umum berdasarkan berbagai hasil pengamatan. Definisi ini memberikan tempat adanya hipotesa, sebagai ramalan akan hasil pengamatan yang akan datang. Definisi ini juga mengakui pentingnya pemikiran spekulatif atau metafisik selama ada kesesuaian dengan hasil pengamatan. Namun demikian, definisi ini tidak bersifat hitam atau putih. Definisi ini tidak memberi tempat pada pengujian pengamatan dengan penelitian lebih lanjut.

Kebenaran yang disimpulkan dari hasil pengamatan empiris hanya berdasarkan kesimpulan logis berarti hanya berdasarkan kesimpulan akal sehat. Apabila kesimpulan tersebut hanya merupakan akal sehat, walaupun itu berdasarkan pengamatan empiris, tetap belum dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan tetapi masih pada taraf pengetahuan. Ilmu pengetahuan bukanlah hasil dari kesimpulan logis dari hasil pengamatan, namun haruslah merupakan kerangka konseptual atau teori yang memberi tempat bagi pengkajian dan pengujian secara kritis oleh ahli-ahli lain dalam bidang yang sama, dengan demikian diterima secara universal. Ini berarti terdapat adanya kesepakatan di antara para ahli terhadap kerangka konseptual yang telah dikaji dan diuji secara kritis atau telah dilakukan penelitian atau percobaan terhadap kerangka konseptual tersebut.

Berdasarkan pemahaman tersebut maka pandangan yang bersifat statis ekstrim, maupun yang bersifat dinamis ekstrim harus kita tolak. Pandangan yang bersifat statis ekstrim menyatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan cara menjelaskan alam semesta di mana kita hidup. Ini berarti ilmu pengetahuan dianggap sebagai pabrik pengetahuan. Sementara pandangan yang bersifat dinamis ekstrim menyatakan ilmu pengetahuan merupakan kegiatan yang menjadi dasar munculnya kegiatan lebih lanjut. Jadi ilmu pengetahuan dapat diibaratkan dengan suatu laboratorium. Bila kedua pandangan ekstrim tersebut diterima, maka ilmu pengetahuan akan hilang musnah, ketika pabrik dan laboratorium tersebut ditutup.

Ilmu pengetahuan bukanlah kumpulan pengetahuan semesta alam atau kegiatan yang dapat dijadikan dasar bagi kegiatan yang lain, tetapi merupakan teori, prinsip, atau dalil yang berguna bagi pengembangan teori, prinsip, atau dalil lebih lanjut, atau dengan kata lain untuk menemukan teori, prinsip, atau dalil baru. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dapat didefinisikan sebagai berikut:

Ilmu pengetahuan adalah rangkaian konsep dan kerangka konseptual yang saling berkaitan dan telah berkembang sebagai hasil percobaan dan pengamatan yang bermanfaat untuk percobaan lebih lanjut (Ziman J. dalam Qadir C.A., 1995). Pengertian percobaan di sini adalah pengkajian atau pengujian terhadap kerangka konseptual, ini dapat dilakukan dengan penelitian (pengamatan dan wawancara) atau dengan percobaan (eksperimen).

Selanjutnya John Ziman menjelaskan bahwa definisi tersebut memberi tekanan pada makna manfaat, mengapa? Kesahihan gagasan baru dan makna penemuan eksperimen baru atau juga penemuan penelitian baru (menurut penulis) akan diukur hasilnya yaitu hasil dalam kaitan dengan gagasan lain dan eksperimen lain. Dengan demikian ilmu pengetahuan tidak dipahami sebagai pencarian kepastian, melainkan sebagai penyelidikan yang berhasil hanya sampai pada tingkat yang bersinambungan (Ziman J. dalam Qadir C.A., 1995).

Bila kita analisis lebih lanjut perlu dipertanyakan mengapa definisi ilmu pengetahuan di atas menekankan kemampuannya untuk menghasilkan percobaan baru, berarti juga menghasilkan penelitian baru yang pada gilirannya menghasilkan teori baru dan seterusnya – berlangsung tanpa berhenti. Mengapa ilmu pengetahuan tidak menekankan penerapannya? Seperti yang dilakukan para ahli fisika dan kimia yang hanya menekankan pada penerapannya yaitu dengan mempertanyakan bagaimana alam semesta dibentuk dan berfungsi? Bila hanya itu yang menjadi penekanan ilmu pengetahuan, maka apabila pertanyaan itu sudah terjawab, ilmu pengetahuan itu akan berhenti. Oleh karena itu, definisi ilmu pengetahuan tidak berorientasi pada penerapannya melainkan pada kemampuannya untuk menghasilkan percobaan baru atau penelitian baru, dan pada gilirannya menghasilkan teori baru.

Para ahli fisika dan kimia yang menekankan penerapannya pada hakikatnya bukan merupakan ilmu pengetahuan, tetapi merupakan akal sehat (common sense). Selanjutnya untuk membedakan hasil akal sehat dengan ilmu pengetahuan William James yang menyatakan hasil akal sehat adalah sistem perseptual, sedang hasil ilmu pengetahuan adalah sistem konseptual). Kemudian bagaimana cara untuk memantapkan atau mengembangkan ilmu pengetahuan? Berdasarkan definisi ilmu pengetahuan tersebut di atas maka pemantapan dilakukan dengan penelitian-penelitian dan percobaan-percobaan.

Perlu dipertanyakan pula bagaimana hubungan antara akal sehat yang menghasilkan perseptual dengan ilmu pengetahuan sebagai konseptual. Jawabannya adalah akal sehat yang menghasilkan pengetahuan merupakan premis bagi pengetahuan eksperimental. Ini berarti pengetahuan merupakan masukan bagi ilmu pengetahuan, masukan tersebut selanjutnya diterima sebagai masalah untuk diteliti lebih lanjut. Hasil penelitian dapat berbentuk teori baru.

Sedangkan Ernest Nagel secara rinci membedakan pengetahuan (common sense) dengan ilmu pengetahuan (science).

Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:

1)    Dalam common sense informasi tentang suatu fakta jarang disertai penjelasan tentang mengapa dan bagaimana. Common sense tidak melakukan pengujian kritis hubungan sebab-akibat antara fakta yang satu dengan fakta lain. Sedang dalam science di samping diperlukan uraian yang sistematik, juga dapat dikontrol dengan sejumlah fakta sehingga dapat dilakukan pengorganisasian dan pengklarifikasian berdasarkan prinsip-prinsip atau dalil-dalil yang berlaku.

 

2)    Ilmu pengetahuan menekankan ciri sistematik.

Penelitian ilmiah bertujuan untuk mendapatkan prinsip-prinsip yang mendasar dan berlaku umum tentang suatu hal. Artinya dengan berpedoman pada teori-teori yang dihasilkan dalam penelitian-penelitian terdahulu, penelitian baru bertujuan untuk menyempurnakan teori yang telah ada yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Sedang common sense tidak memberikan penjelasan (eksplanasi) yang sistematis dari berbagai fakta yang terjalin. Di samping itu, dalam common sense cara pengumpulan data  bersifat subjektif, karena common sense sarat dengan muatan-muatan emosi dan perasaan.

3)    Dalam menghadapi konflik dalam kehidupan, ilmu pengetahuan menjadikan konflik sebagai pendorong untuk kemajuan ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan berusaha untuk mencari, dan mengintroduksi pola-pola eksplanasi sistematik sejumlah fakta untuk mempertegas aturan-aturan. Dengan menunjukkan hubungan logis dari proposisi yang satu dengan lainnya, ilmu pengetahuan tampil mengatasi konflik.

4)    Kebenaran yang diakui oleh common sense bersifat tetap, sedang kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu diusik oleh pengujian kritis. Kebenaran dalam ilmu pengetahuan selalu dihadapkan pada pengujian melalui observasi maupun eksperimen dan sewaktu-waktu dapat diperbaharui atau diganti.

5)    Perbedaan selanjutnya terletak pada segi bahasa yang digunakan untuk memberikan penjelasan pengungkapan fakta. Istilah dalam common sense biasanya mengandung pengertian ganda dan samar-samar. Sedang ilmu pengetahuan merupakan konsep-konsep yang tajam yang harus dapat diverifikasi secara empirik.

6)    Perbedaan yang mendasar terletak pada prosedur.

Ilmu pengetahuan berdasar pada metode ilmiah. Dalam ilmu pengetahuan alam (sains), metoda yang dipergunakan adalah metoda pengamatan, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Sedang ilmu sosial dan budaya juga menggunakan metode pengamatan, wawancara, eksperimen, generalisasi, dan verifikasi. Dalam common sense cara mendapatkan pengetahuan hanya melalui pengamatan dengan panca indera.

Dari berbagai uraian berdasarkan pandangan tokoh-tokoh tersebut dapatlah dikatakan: ilmu pengetahuan adalah kerangka konseptual atau teori uang saling berkaitan yang memberi tempat pengkajian dan pengujian secara kritis dengan metode ilmiah oleh ahli-ahli lain dalam bidang yang sama, dengan demikian bersifat sistematik, objektif, dan universal.

Sedang pengetahuan adalah hasil pengamatan yang bersifat tetap, karena tidak memberikan tempat bagi pengkajian dan pengujian secara kritis oleh orang lain, dengan demikian tidak bersifat sistematik dan tidak objektif serta tidak universal.

 

 

  1. B.   Quo vadis?

Quo vadis adalah kalimat dalam bahasa Latin yang terjemahannya secara harafiah adalah, “Kemana engkaupergi?” Kalimat ini adalah terjemahan Latin dari petikan Kitab Perjanjian Baru, Injil Yohanes, bab 16 ayat 5,

Bahasa berubah/berkembang sebagaimana juga manusia, hanya saja perubahan-perubahan yang terjadi melalui beberapa abad dan tidak terjadi hanya beberapa tahun. Kecuali pada waktu-waktu tertentu, perubahannya hampir-hampir tidak terasa bagi pemakainya. Ini sama halnya jika kita melihat diri kita ke cermin, kita tidak sadar bahwa kita telah berubah dari keadaan kita sebelumnya. Namun akan datang waktunya kita bukanlah lagi anak-anak melainkan telah menjadi dewasa. Bahasa juga dapat mati seperti orang, mereka dapat lebur menjadi debu, atau menjadi setumpukan tulang yang tidak mudah untuk menyusunnya kembali sesuai susunan organ yang telah ada. Bahasa dapat diawetkan dan disimpan bagi generasi yang akan datang, hal ini yang membuatnya bersifat statis dan tak berubah- ubah , tetapi selama masih hidup bahasa akan selalu berubah.

Di dalam perkembangan bahasa banyak ditemukan kata-kata yang bersinonim, ini menunjukkan bahwa bahasa itu berkembang sehingga banyak ditemui kata-kata yang bersinonim. Begitu juga, akibat perkembangan bahasa itu timbul kata-kata baru yang singkat, tepat dan mewakili kata-kata yang panjang, seperti kata canggih, dahulu kata canggih belum ada, sekarang timbul dan mewakili kata-kata yang panjang. Selanjutnya kata Rekayasa, dahulu kata Rekayasa tidak ditemukan, sekarang timbul untuk mewakili kata-kata yang panjang yaitu penerapan kaidah-kaidah ilmu seperti perancangan, membangun dan membuat kontruksi. Selanjutnya kata Monitor atau Memantau, dahulu kata Monitor atau Memantau tidak ditemukan, sekarang timbul untuk mewakili kata-kata yang panjang yaitu mengawasi, mengontrol, mengamati, mencek dengan cermat, terutama untuk tujuan khusus.

Struktur kalimat juga berkembang sesuai dengan ilmu pengetahuan yang meningkat.

Contoh : Dahulu struktur kalimat mempunyai pokok, sebutan dan objek sekarang timbul subjek, predikat, keterangan dan ada lagi frase benda, kerja dan keterangan.

Begitu juga singkatan-singkatan atau akronim sering terjadi pada masyarakat masa kini. Contoh :

OTISTA         : Obrolan Artis dalam Berita

KISS               : Kisah Seputar Selebritis

Selanjutnya masalah hukum DM (Diterangkan, Menerangkan)

Bahasa Indonesia mempunyai hukum DM

Contoh : Rumah      Putih

D                M

Bahasa Inggris mempunyai hukum MD

Contoh : White         House

M    D

 

 

 

 

  1. C.   Politik bahasa nsional

               Bahasa sebagai alat komunikasi lingual manusia, baik secara terlisan maupun tertulis. Ini adalah fungsi dasar bahasa yang tidak dihubungkan dengan status dan nilai-nilai sosial. Setelah dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, yang di dalamnya selalu ada nilai-nilai dan status, bahasa tidak dapat ditinggalkan. Ia selalu mengikuti kehidupan manusia sehari-hari, baik sebagai manusia anggota suku maupun anggota bangsa. Karena kondisi dan pentingnya bahasa itulah, maka ia diberi ‘label’ secara eksplisit oleh pemakainya yang berupa kedudukan dan fungsi tertentu.

Kedudukan dan fungsi bahasa yang dipakai oleh pemakainya perlu dirumuskan secara eksplisit, sebab kejelasan ‘label’ yang diberikan akan mempengaruhi masa depan bahasa yang bersangkutan. Pemakainya akan menyikapinya secara jelas terhadapnya. Pemakaiannya akan memperlakukannya sesuai dengan ‘label’ yang dikenakan padanya.

Di pihak lain, bagi masyarakat yang dwi bahasa (dwilingual), akan dapat ‘memilah-milahkan’ sikap dan pemakaian kedua atau lebih bahasa yang digunakannya. Mereka tidak akan memakai secara sembarangan. Mereka bisa mengetahui kapan dan dalam situasi apa bahasa yang satu dipakai, dan kapan dan dalam situasi apa pula bahasa yang lainnya dipakai. Dengan demikian perkembangan bahasa itu akan menjadi terarah. Pemakainya akan berusaha mempertahankan kedudukan dan fungsi bahasa yang telah disepakatinya dengan, antara lain, menyeleksi unsur-unsur bahasa lain yang ‘masuk’ ke dalamnya. Unsur-unsur yang dianggap menguntungkannya akan diterima, sedangkan unsur-unsur yang dianggap merugikannya akan ditolak.

Sehubungan dengan itulah maka perlu adanya aturan untuk menentukan kapan, misalnya, suatu unsur lain yang mempengaruhinya layak diterima, dan kapan seharusnya ditolak. Semuanya itu dituangkan dalam bentuk kebijaksanaan pemerintah yang bersangkutan. Di negara kita itu disebut Politik Bahasa Nasional, yaitu kebijaksanaan nasional yang berisi perencanaan, pengarahan, dan ketentuan-ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar bagi pemecahan keseluruhan masalah bahasa.

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional

               Bangsa Indonesia mempunyai bahasa Indonesia ini bagaikan anak kecil yang menemukan kelereng di tengah jalan. Kehadiran bahasa Indonesia mengikuti perjalanan sejarah yang panjang. (Untuk meyakinkan pernyataan ini, silahkan dipahami sekali lagi Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia.) Perjalanan itu dimulai sebelum kolonial masuk ke bumi Nusantara, dengan bukti-bukti prasasti yang ada, misalnya yang didapatkan di Bukit Talang Tuwo dan Karang Brahi serta batu nisan di Aceh, sampai dengan tercetusnya inpirasi persatuan pemuda-pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928.

Kita tahu bahwa saat itu, sebelum tercetusnya Sumpah Pemuda, bahasa Melayu dipakai sebagai lingua franca di seluruh kawasan tanah air kita. Hal itu terjadi sudah berabad-abad sebelumnya. Dengan adanya kondisi yang semacam itu, masyarakat kita sama sekali tidak merasa bahwa bahasa daerahnya disaingi. Di balik itu, mereka telah menyadari bahwa bahasa daerahnya tidak mungkin dapat dipakai sebagai alat perhubungan antar suku, sebab yang diajak komunikasi juga mempunyai bahasa daerah tersendiri. Adanya bahasa Melayu yang dipakai sebagai lingua franca ini pun tidak akan mengurangi fungsi bahasa daerah. Bahasa daerah tetap dipakai dalam situasi kedaerahan dan tetap berkembang. Kesadaran masyarakat yang semacam itulah, khusunya pemuda-pemudanya yang mendukung lancarnya inspirasi sakti di atas.

 

Apakah ada bedanya bahasa Melayu pada tanggal 27 Oktober 1928 dan bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928? Perbedaan ujud, baik struktur, sistem, maupun kosakata jelas tidak ada. Jadi, kerangkanya sama. Yang berbeda adalah semangat dan jiwa barunya. Sebelum Sumpah Pemuda, semangat dan jiwa bahasa Melayu masih bersifat kedaerahan atau jiwa Melayu. Akan tetapi, setelah Sumpah Pemuda semangat dan jiwa bahsa Melayu sudah bersifat nasional atau jiwa Indonesia. Pada saat itulah, bahasa Melayu yang berjiwa semangat baru diganti dengan nama bahasa Indonesia.

“Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional” yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28 Februari 1975 antara lain menegaskan bahwa dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional Bahasa Indonesia berfungsi sebagai;

(1) lambang kebanggaan nasional,

Sebagai lambang kebanggaan nasional, bahasa Indonesia ‘memancarkan’ nilai-nilai sosial budaya luhur bangsa Indonesia. Dengan keluhuran nilai yang dicerminkan bangsa Indonesia, kita harus bangga dengannya; kita harus menjunjungnya; dan kita harus mempertahankannya. Sebagai realisasi kebanggaan kita terhadap bahasa Indonesia, kita harus memakainya tanpa ada rasa rendah diri, malu, dan acuh tak acuh. Kita harus bngga memakainya dengan memelihara dan mengembangkannya.

(2) lambang identitas nasional

Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia merupakan ‘lambang’ bangsa Indonesia. Ini beratri, dengan bahasa Indonesia akan dapat diketahui siapa kita, yaitu sifat, perangai, dan watak kita sebagai bangsa Indonesia. Karena fungsinya yang demikian itu, maka kita harus menjaganya jangan sampai ciri kepribadian kita tidak tercermin di dalamnya. Jangan sampai bahasa Indonesia tidak menunjukkan gambaran bangsa Indonesia yang sebenarnya.

(3) alat pemersatu berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang

sosial budaya dan bahasanya, dan

 

Memungkinkan masyarakat Indonesia yang beragam latar belakang sosial budaya dan berbeda-beda bahasanya dapat menyatu dan bersatu dalam kebangsaan, cita-cita, dan rasa nasib yang sama. Dengan bahasa Indonesia, bangsa Indonesia merasa aman dan serasi hidupnya, sebab mereka tidak merasa bersaing dan tidak merasa lagi ‘dijajah’ oleh masyarakat suku lain. Apalagi dengan adanya kenyataan bahwa dengan menggunakan bahasa Indonesia, identitas suku dan nilai-nilai sosial budaya daerah masih tercermin dalam bahasa daerah masing-masing. Kedudukan dan fungsi bahasa daerah masih tegar dan tidak bergoyah sedikit pun. Bahkan, bahasa daerah diharapkan dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia.

(4) alat perhubungan antarbudaya antardaerah.

Bahasa Indonesia sering kita rasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan saja apabila kita ingin berkomunikasi dengan seseorang yang berasal dari suku lain yang berlatar belakang bahasa berbeda, mungkinkah kita dapat bertukar pikiran dan saling memberikan informasi? Bagaimana cara kita seandainya kita tersesat jalan di daerah yang masyarakatnya tidak mengenal bahasa Indonesia? Bahasa Indonesialah yang dapat menanggulangi semuanya itu. Dengan bahasa Indonesia kita dapat saling berhubungan untuk segala aspek kehidupan. Bagi pemerintah, segala kebijakan dan strategi yang berhubungan dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan kemanan (disingkat: ipoleksosbudhankam) mudah diinformasikan kepada warganya. Akhirnya, apabila arus informasi antarkita meningkat berarti akan mempercepat peningkatan pengetahuan kita. Apabila pengetahuan kita meningkat berarti tujuan pembangunan akan cepat tercapai.

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara/Resmi

Sebagaimana kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia sebagai bahasa negara/resmi pun mengalami perjalanan sejarah yang panjang. Hal ini terbukti pada uraian berikut.

Secara resmi adanya bahasa Indonesia dimulai sejak Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Ini tidak berarti sebelumnya tidak ada. Ia merupakan sambungan yang tidak langsung dari bahasa Melayu. Dikatakan demikian, sebab pada waktu itu bahasa Melayu masih juga digunakan dalam lapangan atau ranah pemakaian yang berbeda. Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa resmi kedua oleh pemerintah jajahan Hindia Belanda, sedangkan bahasa Indonesia digunakan di luar situasi pemerintahan tersebut oleh pemerintah yang mendambakan persatuan Indonesia dan yang menginginkan kemerdekaan Indonesia. Demikianlah, pada saat itu terjadi dualisme pemakaian bahasa yang sama tubuhnya, tetapi berbeda jiwanya: jiwa kolonial dan jiwa nasional.

               Bersamaan dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, diangkat pulalah bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Hal itu dinyatakan dalam Uud 1945, Bab XV, Pasal 36. Pemilihan bahasa sebagai bahasa negara bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan. Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan. Salah timbang akan mengakibatkan tidak stabilnya suatu negara. Sebagai contoh konkret, negara tetangga kita Malaysia, Singapura, Filipina, dan India, masih tetap menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi di negaranya, walaupun sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjadikan bahasanya sendiri sebagai bahasa resmi.

Hal-hal yang merupakan penentu keberhasilan pemilihan suatu bahasa sebagai bahasa negara apabila

(1) bahasa tersebut dikenal dan dikuasai oleh sebagian besar penduduk negara itu,

(2) secara geografis, bahasa tersebut lebih menyeluruh penyebarannya, dan

(3) bahasa tersebut diterima oleh seluruh penduduk negara itu.

Bahasa-bahasa yang terdapat di Malaysia, Singapura, Filipina, dan India tidak mempunyai ketiga faktor di atas, terutama faktor yang nomor (3). Masyarakat multilingual yang terdapat di negara itu saling ingin mencalonkan bahasa daerahnya sebagai bahasa negara. Mereka saling menolak untuk menerima bahasa daerah lain sebagai bahasa resmi kenegaraan. Tidak demikian halnya dengan negara Indonesia. Ketig faktor di atas sudah dimiliki bahasa Indonesia sejak tahun 1928. Bahkan, tidak hanya itu. Sebelumnya bahasa Indonesia sudah menjalankan tugasnya sebagai bahasa nasional, bahasa pemersatu bangsa Indonesia. Dengan demikian, hal yang dianggap berat bagi negara-negara lain, bagi kita tidak merupakan persoalan. Oleh sebab itu, kita patut bersyukur kepada Tuhan atas anugerah besar ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

 

Penulis memaparkan hubungan bahasa, budaya dan pendidikan, termasuk pembahasan keberadaan manusia sebagai makhluk budaya berbeda dengan hewan, menerangkan sejajarnya perkembangan pendidikan dan kebudayaan serta penulis memaparkan beberapa definisi kebudayaan dari para tokoh.

Aspek-aspek pendidikan merupakan gejala kebudayaan, ini dinyatakan dengan definisi pendidikan sebagai tingkah laku sampai pembentukan jiwa nasionalisme pada manusia.

Ilmu merupakan bagian terpenting dalam membangun dan mengembangkan kebudayaan nasional. Ilmu dan kebudayaan saling memiliki ketergantungan. Kebudayaan yang merupakan seperangkat nilai yang berlaku dalam masyarakat harus di dasari oleh ilmu, agar kebudayaan tersebut dapat selalu berkembang sesuai dengan jalurnya. Sementara ilmu tidak dapat berkembang jika tidak di iringi oleh kebudayaan, dalam hal ini adalah kebudayaan ilmiah. Agar kebudayaan tersebut senantiasa berdiri diatas ilmu dan nilai-nilai normative yang bermuara pada nilai-nilai ilahiyah maka dibutuhkan pendidikan untuk melestarikan kebudayaan tersebut agar tetap berada pada jalurnya.

Negara kita telah mengalami polarisasi dan membentuk kebudayaan sendiri. Polarisasi ini didasarkan kepada kecenderungan beberapa kalangan tertentu untuk memisahkan ilmu kedalam dua golongan yakni ilum-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Dalam pengembangan kebudayaan nasional, ilmu tidak boleh dikotomi karena dengan adanya pembagian jurusan ini merupakan hambatan psikologis dan intelektual bagi pengembangan keilmuan di Negara kita. Dualisme kebudayaan mengenai ilmu yang berada di nagara ini (ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial) harus segera dihindari dan dicari sosulusi yang terbaik, agar tidak menghambat perkembangan kebudayaan nasional kita.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

S. Suriasumantri, Jujun. 1982. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Pustaka

Sinar Harapan : Jakarta.

 

Soetriono. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. ANDI : Yogyakarta

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Quo_vadis

 

http://jurnal.filsafat.ugm.ac.id/index.php/jf/article/viewFile/36/32

http://sosial-budaya.blogspot.com/2009/05/manusia-dan-kebudayaan.html

 

http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=17500&Itemid=62

 

http://blog.unsri.ac.id/heru_09/welcome/ilmu-dan-kebudayaan/mrdetail/12649/

http://hilda08.wordpress.com/ilmu_dan_budaya/

 

http://nonidhajo.blogspot.com/2010/04/mendorong-pengembangan-kebudayaan.html