Belajar dan Pembelajaran

PERENCANAAN PEMBELAJARAN

Sebelum mengetahui makna dari perencanaan pembelajaran, tentu kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang apa itu perencanaan. Ada beberapa pendapat menurut para ahli, diantaranya :

–          Herbert Simon ( 1996 )

Perencanaan adalah sebuah proses pemecahan masalah, yang bertujuan adanya solusi dalam suatu pilihan.

–          Gordon Rowland ( 1993 )

Perencanaan bukan hanya membantu untuk menciptakan solusi tapi juga membantu untuk lebih memahami permasalahn itu sendiri. Jadi sebuah usulan lebih diutamakan dibandingkan informasi awal. Proses perencanaan menggiring kita untuk berfikir kembali atau merangkai masalah kembali.

–          See Sabon ( 1987 )

Perencanaan membantu kita melihat masalah dalam pemikiran yang baru, pandangan yang berbeda dari yang lain, dan lebih baik dalam memahami masalah yang kompleks menjadi lebih sederhana.

–          Cristoper Clark ( 1995 )

Baginya  guru adalah perencana, jadi guru yang profesional, aktif, siap untuk memberikan pembelajaran dan dengan cara penyampaian yang unik adalah guru yang punya perencanaan baik.

Jadi dari beberapa pendapat ahli  diatas dapat diambil kesimpulan  bahwa perencanaan merupakan suatu proses pemecahan masalah untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Setelah mengetahui definisi dari perencanaan, akan dibahas beberapa definisi tentang perencanaan pembelajaran, yaitu :

–          Branch ( 2002 )

Suatu sistem yang berisi prosedur untuk mengembangkan pendidikan dengan cara yang konsisten dan reliable.

 

 

–          Ritchy

Ilmu yang merancang detail secara spesifik untuk pengembangan, evaluasi dan pemeliharaan situasi dengan fasilitas pengetahuan diantara satuan besar dan kecil persoalan pokok.

–          Smith & Ragan ( 1993 )

Proses sistematis dalam mengartikan prinsip belajar dan pembelajaran kedalam rancangan untuk bahan dan aktifitas pembelajaran.

–          Smith & Ragan ( 1999 )

Proses sistematis dan berfikir dalam mengartikan prinsip belajar dan pembelajaran kedalam rancangan untuk bahan dan aktifitas pembelajaran, sumber informasi dan evaluasi.

–          Zook ( 2000 )

Proses berfikir sistematis untuk membantu pelajar memahami ( belajar ).

Dari beberapa definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perencanaan pembelajaran adalah merupakan suatu kegiatan yang direncanakan dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar atau pembelajaran untuk mengembangkan, evaluasi dan pemeliharaan situasi dengan fasilitas pendidikan guna pencapaian tujuan pembelajaran.

Perencanaan pembelajaran sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar karena ada beberapa alasan yang mendasarinya, yaitu :

–          Perencanaan mempengaruhi apa yang akan dipelajari siswa, karena perencanaan mentransformasikan waktu dan materi kurikulum yang tersedia menajdi kegiatan – kegiatan, pekerjaan – pekerjaan dan tugas – tugas untuk siswa.

–          Dalam perencanaan ada bebrapa tingkat yang harus dilalui, meliputi term, unit, minggu dan hari. Semua tingkat ini harus dikoordinasikan. Semakin bertambah pengalaman mengajar akan semakinmudah untuk mengkoordinasikan tingkat – tingkat perencanaan ini.

–          Perencanaan mengurangi ketidak pastian dalam pengajaran.  Jadi perencanaan pembelajaaran ini dibuat bukan untuk dilanggar tetapi harus ada fleksibitas sesuai dengan  konteks apa yang akan diajarkan.

–          Perencanaan merupakan proses problem solving kreatif bagi para guru. Dengan perencanaan akan diketahui bagaimana cara menyelesaikan banyak peleajran dan mengajarkan segmen – segmen pelajaran secara efektif.

Dalam tahapan perencanaan pembelajaran harus menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, tujuan ini sebagai pedoman  pengajaran yang potensial .

Menurut Norman Gronlund ( 2004 ) tujuan instruksional atau tujuan pengajaran adalah hasil belajar yang akan dicapai. Objektivitas ( tujuan ) adalah performa / kinerja yang diharapkan untuk didemonstrasikan anak setelah pengajaran untuk menunjukkan bahwa mereka telah  mempelajari apa yang diharapkan untuk mereka pelajari.  Tujuan behavioral adalah tujuan yang difokuskan pada perubahan – perubahan yang dapat diobservasi dan dapat diukur pada diri pembelajar. Tujuan kognitif menekankan pada berpikir dan pemahaman.

Menurut Robert Mager ( 1975 ) tujuan instruksiional mendeskripsikan sesuatu yang akan dilakukan siswa saat mendemonstrasikan prestasi / pencapaiannya dan bagaimana guru akan tahu bahwa mereka sedang melakukan itu atau disebut tujuan behavioral. Menurut Mager ada tiga bagian dalam tujuan yang baik, yaitu : mendeskripsikan perilaku siswa yang dimaksudkan, menyebutkan kondisi yang menunjukkan bahwa perilaku itu akan terjadi dan memberikan kriteria untuk performa / kinerja yang diterima dalam tes.

Fungsi Perencanaan Pengajaran

  1. Memberi guru pemahaman yg jelas tentang tujuan pendidikan
  2. Membantu guru memperjelas pemikirannya terhadap tujuan pendidikan
  3. Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai dan prosedur yg digunakan
  4. Membantu guru dalam mengenal kebutuhan murid
  5. Mengurangi kegiatan yang bersifat trial and error dalam mengajar
  6. Murid akan menghormati guru yang telah mempersiapkan diri
  7. Memberikan kesempatan bagi guru utk mengembangkan profesionalnya
  8. Membantu guru memiliki perasaan percaya diri
  9. Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan memberikan bahan up to date

 

Prinsip Perencanaan Pembelajaran

  1. Pembelajaran yg disiapkan secara cermat dan sistematis akandapat membantu perkembangan siswa secara maksimal.
  2. Perencanaan yg cermat dan sistematis dikembangkan dg mempertimbangkan berbagai aspek seperti teori belajar dan karakteristik siswa.
  3. Hendaknya diarahkan utk membantu proses belajar siswa secara individual.
  4. Hendaknya dikembangkan dg pendekatan sistem. Menggunakan langkah-langkah dlm proses pengembangan
  5. Harus mempertimbangkan pemanfaatan berbagai sumber danalat bantu belajar

RENCANA YANG FLEKSIBEL DAN KREATIF MENGGUNAKAN TAKSONOMI

Benjamin Bloom mengembangkan sebuah taksonomi atau sistem klasifikasi untuk tujuan – tujuan pendidikan. Tujuan ini dibagi menjadi tiga  ranah, yaitu : kognitif, afektif dan psikomotor.

  1. a.    Ranah Kognitif

Enam tujuan dasar disebutkan dalam taksonomi pemikiran  terdiri dari :

–          Knowledge ( pengetahuan ) : mengingat atau mengenali sesuatu tanpa harus memahami, menggunakan atau mengubahnya.

–          Comprehension ( pemahaman ) ; memahami materi yangs edang dikomunikasikan tanpa harus menghubungkannya dengan hal lain.

–          Aplication ( aplikasii / penerapan ) : menggunakan sebuah konsep umum untuk menyelesaikan masalah tertentu.

–          Analysis ( analisis ) : membagi sesuatu menjadi bagian – bagian.

–          Synthesis ( sintesis ) : menciptakan sesuatu yang baru dengan mengombinasikan berbagai macam ide.

–          Evaluation ( evaluasi ) : mengukur nilai materi atau metode bila diterapkan dalam situasi tertentu.

  1. b.    Ranah Afektif

Dalam ranah afektif, ditingkat paling tinggi siswa akan mengadopsi sebuah ide atau nilai dan bertindak dengan cara yang konsisten dengan ide itu. Ada lima tujuan dasar dalam ranah afektif, yaitu :

–          Receiving ( menerima ) : menyadari atau memerhatikan sesuatu di lingkungan.

–          Responding ( merespon ) : memperlihatkan perilaku baru sebagai hasil pengalaman.

–          Valuing ( menghargai ) : menunjukkan keterlibatan atau komitmen yang jelas.

–          Organization ( organisasi ) : mengintegrasikan nilai baru ke dalam perangkat nilai seseorang secara umum, memberinya peringkat tertentu diantara prioritas – prioritas orang itu secara umum.

–          Characterization by value ( karakterisasi berdasarkan nilai )  : bertindak dengan cara yang konsisten dengan nilai baru itu.

  1. c.    Ranah Psikomotor

Ranah psikomotor merupakan tujuan kemampuan fisik. Ada beberapa taksonomi dalam ranah ini, harro w( 1972 ) mengungkapkan  secara umum bergerak mulai dari persepsi dasar dan tindakan refleks ke gerakan yang terampil dan kreatif. James Cangelosi ( 1990 )  memberikan cara yang  berguna untuk memikirkan tentang tujuan – tujuan di ranah psikomotor, yaitu : kapabilitas otot yang disengaja yang membutuhkan ketahanan, kekuatan, fleksibilitas, agilitas / ketangkasan atau kecepatan dan kemampuan untuk melakukan ketrampilan tertentu. Menurut Terry Tenbrink ( 2006 ) ada beberapa tujuan instruksional bagi siswa, yaitu :

–          Berorientasi siswa : menekankan pada apa yang diharapkan untuk dilakukan siswa

–          Deskriptif tentang hasil belajar yang tepat : tepat secara perkembangan dan urutannya, dimana tujuan yang lebih kompleks mengikuti tujuan – tujuan prasyarat.

–          Jelas dan dapat dipahami : tidak terlalu umum atau terlalu spesifik.

–          Dapat diobservasi : hindari hasil yang tidak dapat dilihat seperti mengapresiasi atau menyadari.

 

 

 

 

PANDANGAN PERENCANAAN DARI PERSPEKTIF KONSTRUKTIVIS

Dalam pendekatan konstruktivis , perencanaan dilakukan bersama dan dinegosiasikan. Guru dan siswa secara bersama – sama mengambil keputusan tentang isi, kegiatan dan pendekatan. Guru memiliki overarching goals ( tujuan yang meliputi banyak hal ) yang akan menjadi pedoman perencanaan. Tujuan ini berupa pemahaman atau kemampuan dikembalikan oleh guru secara berulang –ulang.

Contoh perencanaan konstruktivis oleh Vito Perrone ( 1994 ) memiliki tujuan untuk siswa, dengan harapan siswa mampu untuk :

–          Menggunakan sumber primer, memformulasikan hipotesis, dan telibat dalam kajian sistematis.

–          Menangani suudut pandang majemuk

–          Menjadi pembaca yang teliti dan penulis aktif

–          Menyodorkan dan mengatasi masalah.

Proses perencanaan adalah menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan siswa untuk bergerak menuju tujuan dengan cara – cara yabng menghormati interes dan kemampuan individual mereka.

GURU EFEKTIF

Guru yang efektif adalah guru yang bisa  memotivasi peserta didik untuuk belajar dan meningkatkan  semangat belajar yang tumbuh dari kesadaran diri peserta didik, bukan karena takut pada gurunya. Guru yang punya komitmen dan termotivasi bisa menjadi guru yang efektif.

Ciri guru yang efektif :

  1. Berfikir, bertutur dan berbuat secara positif.
  2. Berkomunikasi dengan minat dan antusias.
  3. Perhatian terhadap peserta didik yang diajak bicara.
  4. Mengungkapkan pertanyaan, arahan, dan pernyataan dengan jelas.
  5. Memberikan perhatian pada peserta didik dengan penuh empati.
  6. Mengidentifikasi sumber amsalah.
  7. Memahami kapasitas peserta didik dalam menerima informasi dengan memberikan informasi sesuai dengan kapasitas peserta didik.
  8. Menje;askan dan memberi ilustrasi sebuah konsep secara abstrak maupun dengan contoh nyata.
  9. Mengajar secara urut dan runtut dan meliputi semua aspek yang harus diajarkan

10. Mengundang pendapat peserta didik dengan pertanyaan yang kritis, tetapi bertanya dengan suasana rileks.

11. Menggunakan berbagai metode pengajaran

12. Mengantisipasi apa yang akan terjadi di kelas.

13. Mengenal perilaku peserta didik yang tidak sesuai dengan aktivitas yang sedang berlangsung di kelas.

14. Memanfaatkan humor agar suasana kelas menarik

15. Memiliki kepekaan atas kebutuhan peserta didik dan mampu menasehati dengan tepat.

16. Tahu bagaimana cara mencapai tujuan kelas

17. Tenang dalam mengahdapi masalah

18. Menghindari perilaku marah yang berlebihan

19. Memanfaatkan ruangan kelas secara optimal dalam mengajar tidak hanya berdiri di depan kelas saja

Makmun, Abin Syamsudin, M.A, Prof. DR. H. Psikologi Kependidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2005

Hal – hal yang berhubungan dengan proses belajar mengakar pada:

  1. siswa, yang terus berusaha mengembangkan dirinya seoptimal mungkin melalui berbagai kegiatan (belajar) guna mencapai tujuannya sesuai dengan tahapan perkembangan yang dijalaninya.
  2. tujuan. Yang dimaksud dengan tujuan adalah sesuatu yang diharapkan setelah adanya kegiatan belajar mengajar, yang merupakan seperangkat tugas atau tuntutan atau kebutuhan yang harus dipenuhi atau sistem nilai yang harus tampak dalam perilaku dan merupakan karakteristik kepribadian siswa (seperti yang ditetapkan oleh siswa sendiri, guru atau masyarakat) yang semestinya diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk kegiatan yang berencana dan dapat dievaluasi (terukur)
  3. guru. Guru adalah orang dewasa yang karena jabatannya secara formal selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat (mengajar) sehingga memungkinkan terjadinya proses pengalaman belajar pada diri siswa sengan mengarahkan segala sumber dan menggunakan strategi belajar mengajar yang tepat.

Secara skematik interelasi antara ketiga komponen dasar itu dalam suatu model proses belajar mengajar yang elementer dapat digambarkan sebagai berikut:

TUJUAN

SISWA

GURU

Belajar

Mengajar

Rencana

Evaluasi

 

  1. Pengertian Belajar

Di kalangan ahli psikologi terdapat keragaman dalam cara menjelaskan dan mendefinisikan makna belajar. Namun, baik secara eksplisit maupun implisit pada akhirnya terdapat kesamaan maknanya bahwa definisi konsep belajar selalu menunjukkan kepada sesuatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu.

  1. Beberapa Karakteristik Perilaku Belajar

Beberapa ciri perubahan perilaku belajar:

    1. bahwa perubahan itu intensional, dalam arti pengalaman atau praktik atau latihan itu dengan sengaja dan disadari dilakukannya dan bukan secara kebetulan, dengan demikian perubahan karena kemantapan dan kematangan atau keletihan atau karena penyakit tidak dapat dipandang sebagai perubahan hasil belajar.
    2. bahwa perubahan itu positif, dalam arti sesuai seperti yang diharapkan (normative) atau kriteria keberhasilan baik dipandang dari segi siswa (tingkat kemampuan dan bakat khusus, tugas perkembangan, dan sebagainya) maupun dari segi guru (tuntutan masyarakat sesuai dengan tingkatan standar kulturalnya)
    3. bahwa perubahan itu efektif, dalam arti membawa pengaruh dan makna tertentu bagi pelajar relatif tetap dan setiap saat diperlukan dapat direproduksi dan dipergunakan seperti dalam pemecahan masalah, baik dalam ujian, ulangan dan sebagainya maupun dalam penyesuaian diri dalam kehidupan sehari – hari dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya.
  1. Makna Manifestasi Perbuatan Belajar.
    1. Belajar merupakan perubahan fungsional. Pendapat ini dikemukakan oleh penganut paham teori daya atau paham Nativisme. Paham ini berpendirian bahwa jiwa manusia itu terdiri atas sejumlah fungsi – fungsi yang memiliki daya atau kemampuan tertentu (misalnya daya mengingat, daya berfikir, dan sebagainya). Agar daya – daya itu berlaku secara fungsional, harus terlebih dahulu terlatih. Oleh karena itu dalam konteks ini belajar berarti melatih daya agar tajam sehingga berguna untuk memecahkan persoalan – persoalan.

Jadi, hasil belajar dalam bidang tertentu akan data ditransfer ke bidang – bidang lain. Teori ini dapat ditemukan dalam Teori Kognitif Piaget, dalam teori keseimbangannya (accommodation) dijelasan bahwa struktur fungsi kognitif itu dapat berubah kalau individu berhadapan dengan hal – hal baru yang tidak dapat diorganisasikan ke dalam struktur yang telah ada (association) dengan demikian, belajar dalam hal ini dapat mengandung makna sebagai perubahan struktural.

    1. Belajar merupakan perkayaan materi pengetahuan (perkayaan pola – pola responses dan behaviour) pendapat ini dikemukakan oleh penganut paham Asosiasi atau dikenal sebagai paham Empirisme yang dipelopori oleh Jhon Locke dan Herbart. Teori yang terkenal dari paham ini adalah teori Tabularasa. Oleh karena itu, dalam konteks ini belajar dapat diartikan sebagai satu proses pengisian jiwa dengan pengetahuan dan pengalaman yang sebanyak – banyaknya melalui proses menghafal. Pelajar tidak perlu selalu mengerti apa yang dihafalkannya yang penting diperolehnya tanggapan dan pengalaman sebanyak mungkin. Yang nantinya akan berfungsi dengan melalui hukum – hukum asosiasi.

Secara esensial, di sisi tidak dikenal transfer dalam belajar, karena pelajar harus menguasai materi sebanyak mungkin. Dalam paham behaviorisme yang ekstrim diakui adanya prinsip atau hukum asosiasi meskipun tidak menerima proses kejiwaan yang abstrak. Paham ini lebih berpendirian bahwa apa yang diamati dan diukur lebih penting dalam wujud perilaku. Dengan demikian, belajar dalam konteks ini dapat diartikan sebagai proses memperoleh pengetahuan dalam pengalaman bentuk pola – pola respons perilaku kognitif, afektif dan psikomotor.

    1. Belajar merupakan perubahan perilaku dan pribadi secara keseluruhan. Pandapat ini dikemukakan oleh para penganut Gestalt yang dikenal dengan paham organismic psychology. Dalam konteks teori ini, belajar bukan hanya bersifat mekanis dalam kaitan stimulus respons, melainkan perilaku organisme sebagai totalitas yang bertujuan. Keseluruhan itu lebih penting daripada hanya sebagian. Dengan kata lain, meskipun yang dipelajarinya itu hal yang bersifat khusus, mempunyai makna bagi totalitas pribadi individu yang bersangkutan. Dalam teori ini terimplikasi bahwa tidak semua hal yang kita pelajari itu selalu dapat diamati dalam wujud perilaku atau bersifat tangible, di samping itu ada yang bersifat intangible (pada waktu tertentu hanya individu tersebut yang dapat memahami)

Dari ketiga pandangan di atas dapat kita simpulkan bahwa perbuatan dan hasil belajar itu mungkin dapat dimanifestasikan dalam wujud:

–          pertambahan materi pengetahuan yang berupa fakta, informasi, prinsip, hukum, kaidah, prosedur atau pola kerja, teori sistem nilai – nilai dan sebagainya.

–          Penguasaan pola – pola perilaku kognitif, proses berfikir, mangingat atau mereview, perilaku afektif, perilaku psikomotorik bersifat ekspresif.

–          Perubahan dalam sifat – sifat kepribadian baik yang tangible maupun yang intangible.

 

Proses belajar dalam konteks S – O – R (Stimulus – Object – Response)

 

Ow

 

S                  r                                              e                           R

 

Dengan menggunakan skema di atas, mekanisme proses belajar dari diri siswa dapat diterangkan sebagai berikut:

  1. tahap pertama (S – r – Ow) penerimaan input informasi (S) sampai dan diterima oleh reseptor (r : panca indra), kemudian dibaca dan diseleksi atau diperhatikan oleh siswa (Ow) lalu disimpan dalam daya memori.
  2. tahap kedua (Ow) : pengolahan informasi.

Pada tahap ini siswa (Ow) mentransfer informasi yang telah ada dalam memorinya ke dalam bahasa berfikirnya kemudian menafsirkan informasi dan selanjutnya memecahkan  masalah dengan mengasosiasikan, mendiferensiasikan, mengkomparasikan dan mensubtitusikan informasi yang ada sehingga menghasilkan kesimpulan, generalisasi, interpretasi dan keputusan – keputusan tertentu.

  1. tahap ketiga (Ow – e – R) : ekpreasi hasil pengolahan informasi.

Pada tahap ini siswa memiliki, menggunakan, dan menggerakkan instruman (e : mulut, tangan, kaki dan sebagainya) untuk mengekspresikan hasil pengolahan dan tafsirannya sehingga menghidupkan seperangkat pola – pola respons atau perilaku (R) sebagai jawaban atau respons terhadap informasi (S). pola – pola respons ini dapat berupa lisan, tulisan maupun tindakan tertentu bergantung pada informasinya.

Alur proses belajar dalam konteks S – O – R ini dikatakan dengan proses belajar mengajar sebagai suatu keseluruhan proses, selanjutnya cukup ditambahkan satu komponen lagi ke dalam skema yakni komponeen guru yang berperan mengkondosikan komponeen S, memonitor R dan O. sehingga skema dapat ditambahkan menjadi: W – S – Ow – R – W.

Dalam hal ini W melambangkan komponen guru.

Proses belajar dalam konteks: What – Why- How?

Kebutuhan

Motivasi

Perilaku

Belajar

Insentif

Tujuan

Dari skema di atas tampak bahwa dalam konteks ini, prose belajar berlangsung dalam tiga tahapan:

  1. Pertama, siswa merasakan adanya kebutuhan. Misalnya ingin meningkatkan atau mempertahankan prestasi, baik karena timbul dari dalam dirinya sendiri atau dorongan dari luar.
  2. kedua, siswa menyadari bahwa cara – cara belajar yag selama ini biasanya digunakan atau keterampilan – keterampilan yang telah dimilikinya ternyata tidak memadai lagi digunakan untuk meningkatkan atau mempertahankan prestasinya, sehingga siswa membutuhkan perilaku baru.
  3. ketiga, mencoba melakukan cara – cara yang telah diketahui dan dipilihnya itu di dalam praktek. Ada kemungkinan gagal dan ada kemungkinan berhasil. Jika ternyata berhasil sesuai dengan insentif dan tujuannya maka siswa cenderung akan menggunakan cara tersebut kembali dalam menghadapi tantangan atau situasi yang serupa.

Kalau dikaitkan dengan proses belajar mengajar sebagai suatu keseluruhan proses, dapat dikatakan bahwa siswa akan mulai belajar jika diawali dengan menciptakan situasi yang dapat menimbulkan keinginan atau kebutuhan dalam dirinya; untuk memperoleh kecakapan, sikap atau keterampilan baru. Kemudian siswa mencoba melakukannya, akhirnya siswa dan terutama guru dapat mengevaluasi apakah benar hasil pekerjaannnya itu dapat memenuhi kebutuhannya.

Faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku belajar.

Menurut Loree ada tiga komponen utama dari proes belajar mengajar yang perlu diperhatikan, yakni Stimulus, Organismic dan Responses. Berikut penjabarannya dalam bentuk bagan:

Stimulus

Organismic

Responses

  1. Pengalaman Belajar
    1. Pemberian motivasi
    2. Bimbingan guru
  1. Metode:

c.Praktek

  1. Pemberian dukungan
  1. Penugasan (durasi, tingkat kesulitan dan kebermaknaan)

 

  1. Konteks Lingkungan (fisik, sosial budaya, dll)
A. Karakteristik siswa (aspek fisik dan psikis)

 

B. Proses mediasi (berfikir, merasakan dan berharap)

A. Kognitif

 

B. Afektif

 

C. Psikomotorik

 

 

 

 

 

 

 

 

Secara visual komponen – komponen yang terlihat dalam Proses Belajar mengajar adalah sebagai berikut:

P-B-M

Input:

Bahan sumber

Instrumen

Sarana

Guru

– Metode

 

– Tehnik

 

– Media

Hasil belajar yang diharapkan:

–    kognitif

–    afektif

–    psikomotorik

Input:

–    IQ

–    Bakat

–    Minat

–    Motivasi

–    Kesiapan

–    Sikap

–    Kebiasaan,dll

Faktor lingkungan:

–    sosial

–    fisik

–    budaya, dll.

 

Dari skema di atas tampak bahwa secara sistematik keempat komponen utama dari PBM akan mempengaruhi performance dan outputnya:

  1. the expected output, menunjukkan kepada tingkat kualifikasi ukuran baku akan menjadi daya penarik (insentif) dan motivasi, jadi akan merupakan faktor stimulan (S) di samping termasuk ke dalam faktor respons (R).
  2. karakteristik siswa (input), menunjukkan kepada faktor – faktor yang terdapat dalam diri individu  mungkin akan memberikan fasilitas atau pembatas sebagai faktor organismik (Ow) di samping pula mungkin menjadi motivasi dan faktor stimulan.
  3. Sarana, menunjukkan kepada kualitas serta kelengkapan sarana yang diperlukan untuk dapat berlangsungnya PBM. Jadi, jelas peranannya sebagai faktor fasilitatif.
  4. Faktor lingkungan, menunjukkan situasi dan keadaan fisik, hubungan antar manusia (antar siswa, antar guru, antara guru dan siswa); hal – hal ini juga mungkin menjadi faktor – faktor penunjang atau penghambat (S) faktor.

 

Hasil belajar dan kemungkinan – kemungkinan pengukurannya.

  1. Pengungkapan dan pengukuran hasil belajar.
Jenis Hasil Belajar Indikator – Indikator Cara Pengukuran
  1. kognitif

–    pengamatan / perceptual

 

–    hafalan / ingatan

 

–    pengertian / pemahaman

 

–    aplikasi / penggunaan

 

–    analisis

 

–    sintesis

 

 

–    evaluasi

 

–      dapat menunjukkan / membandingkan / menghubungkan

–      dapat menyebutkan / menunjukkan kembali

–      dapat menjelaskan / mendefinisikan dengan kata – kata sendiri

–      dapat memberikan contoh / menggunakan dengan tepat / memecahkan masalah

–      dapat menguraikan / mengklasifikasikan

–      dapat menghubungkan / menyimpulkan / menggeneralisasikan

–      dapat menginterpretasikan / memberikan kritik / memberikan pertimbangan / penilaian

 

–      tugas / tes / observasi

 

–      pertanyaan / tugas / tes

–      pertanyaan / soal / tes / tugas

 

–      tugas / persoalan / tes / tugas

 

–      tugas / persoalan / tes

–      tugas / persoalan / tes

 

–      tugas/persoalan/tes

  1. Afektif

–    Penerimaan

 

 

–    Sambutan

 

 

 

–    Penghargaan / apresiasi

 

–    Internalisasi / pendalaman

–    Karakterisasi / penghayatan

 

–      bersikap menerima / menyetujui atau sebaliknya.

–      Bersedia terlibat / berpartisipasi / memanfaatkan atau sebaliknya

–      Menilai penting / bernilai / bermanfaat / kagum atau sebaliknya.

–      Mengakui / mempercayai / meyakini atau sebaliknya

–      Membiasakan / mewujudkan dalam kehidupan pribadi.

 

–      Pertanyaan / tes / skala sikap

 

–      Tugas / observasi / tes

 

 

–      skala penilaian / tugas / observasi

 

–      skala sikap / tugas ekspresif / proyektif

–      observasi / tugas ekspresif / proyektif

 

  1. Psikomotorik

–    keterampilan gerak

–    keterampilan ekspresi verbal dan non verbal

 

 

–      koordinasi mata, tangan dan kaki.

–      Gerak, ekspresi wajah dan ucapan

 

–      Tugas / observasi / tes praktek

–      Tugas / observasi / tes praktek

 

  1. Masalah lupa, ingat dan kejenuhan dalam belajar.

Dalam kenyataannya, memang banyak hal yang telah dipelajari sukar sekali bahkan tidak dapat lagi direproduksikan dari daya ingatan kita. Peristiwa ini yang disebut lupa. Ada hal yang begitu cepat dilupakan adapula hal yang baru setelah beberapa lama muncul kembali dalam ingatan kita. Whiterington (1952) melaporkan secara singkat beberapa hasil studi yang manunjukkan bahwa hal – hal yang bersifat hafalan mudah dilupakan dibandingkan hasil proses mental yang lebih tinggi, atau hasil – hasil pengalaman praktek yang berarti. Sedangkan hal – hal yang kurang berarti mudah terlupakan.

Faktor – faktor yang dapat membawa gangguan dalam daya ingatan atau kelupaan, antara lain:

(a). Jika hasil belajar yang baru mengganggu dalam proses me-recall hasil belajar yang terdahulu. (retroactive inhibition).

(b). Jika hasil belajar yang terdahulu mengganggu dalam proses me-recall hasil belajar yang baru (associative inhibition)

(c). Jika menghafal sesuatu secara mendadak dan harus direproduksi secara cepat, misalnya menghafal beberapa saat sebelum ujian (recency effect)

Peristiwa lainnya ialah seakan – akan tidak merasakan kemajuan hasil belajar untuk beberapa waktu tertentu. Hal ini disebut kejenuhan dalam belajar, hal ini disebabkan tidak mampunya daya ingatan untuk mengakomodasikan informasi atau pengalaman baru. Jika digambarkan dalam sebuah kurva hasil kemajuan belajar, akan tampak sebagai garis mendatar, yang disebut learning plateu. Kejenuhan dalam belajar ini terjadi biasanya bersumber pada faktor keletihan, batas kemampuan fisik atau kebosanan.

 

Dasar – dasar strategi belajar – mengajar.

Terdapat empat unsur dalam konteks pendidikan yang menjadi strategi dasar dalam tahapan langkah utama dari pola dasar Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Keempat unsur tersebut ialah:

    1. menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku dan pribadi siswa yang menjadi sasaran dari kegiatan dalam belajar mengajar berdasarkan tuntutan lingkungan untuk nantinya dapat digunakan dalam mengidentifikasi entering behavior siswa.
    2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar yang dipandang paling efektif guna mencapai sasaran tersebut, sehingga dapat dijadikan pedoman bagi guru dalam merencanakan dan menggorganisasikan KBM atau pengalaman belajar siswa.
    3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan tehnik belajar mengajar yang dipandang paling efektif dan efisien serta produktif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh para guru dalam melakasanakan KBM.
    4. Menerapkan norma – norma dan batas minimum ukuran baku keberhasilan, sehingga dapat dijadikan pegangan oleh para guru dalam melakukan pengukuran dan evaluasi hasil KBM yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik bagi upaya penyempurnaan sistem instruksional secara keseluruhan.

 

  1. Menetapkan sasaran kegiatan belajar mengajar dalam rangka mengidentifkasi entering behavior siswa.

Entering behavior adalah tingkat dan jenis karakteristik perilaku siswa yang telah dimilikinya pada saat akan memasuki kegiatan belajar mengajar. Dengan diketahuinya gambaran tentang entering behavior siswa, akan memberikan bantuan kepada guru antara lain mengenai:

    1. Untuk mengetahui seberapa jauh kesamaan antar individual dalam taraf kesiapannya, kematangan serta tingkat penguasaan dari pengetahuan dan keterampilan dasar sebagai landasan penyajian materi pengajaran yang baru.
    2. Dengan diketahuinya disposisi kemampuan siswa tersebut akan dapat dipertimbangkan dan dipilih bahan, prosedur, metode, tehnik dan alat bantu pembelajaran yang sesuai.
    3. Dengan membandingkan nilai dari pre-test dan post-test, guru akan memperoleh indicator perubahan perilaku yang terjadi pada siswa. Perbedaan selisih antara nilai pre-test dan post-test, baik secara rata – rata kelompoknya maupun nilai individual, merupakan indikator preatasi atau hasil pencapaian yang nyata sebagai pengaruh dari proses KBM yang dilaksanakan.

Adapun dimensi dari entering behavior yakni:

  1. Batas – batas cakupan ruang lingkup materi atau pengetahuan yang telah dimiliki dan dikuasai siswa.
  2. Tingkatan dan tahapan materi pengetahuan dan terutama kawasan domain kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang telah dicapai dan dikuasai siswa.
  3. Kesiapan dan kematangan fungsi – fungsi psikomotorik, proses – proses kognitif, pengalaman, daya ingat, berfikir, faktor afektif, emosional, motivasi dan kebiasaan.

 

 

  1. Pola – pola belajar siswa.

Dengan memperhatikan entering behavior terutama yang bersangkutan dengan aspek – aspek kognitifnya. Gagne mengkategorikan pola – pola belajar siswa ke dalam 8 (delapan) tipe/tahapan, dimana tahapa pertama merupakan prasyarat bagi tahapan selanjutnya. Kedelapan tahapan belajar itu ialah:

  1. Signal learning. Tahap belajar ini menduduki tahapan hirearki yang paling dasar. Signal learning dapat didefinisikan sebagai proses penguasaan pola dasar perilaku yang bersifat involunter (tidak disengaja). Dalam pola ini terlibat aspek – aspek emosional. Pengkondisian pada tahap ini adalah pemberian stimulus yang berulang – ulang.
  2. Stimulus Response learning. Disebut juga trial and error leraning. Pengkondisian pada tahap ini ialah diperlukannya faktor reinforcement. Jarak waktu antara stimukus pertama dan berikutnya amat penting. Semakin singkat stimulus respons yang pertama dan berikutnya maka semakin baik terbentuknya reinforcement.
  3. Chaining (menghubungkan)
  4. Verbal association. Tahap ketiga dan keempat setaraf. Tahap III berkenaan dengan aspek – aspek perilaku psikomotorik sedangkan tipe IV berkenaan dengan aspek – aspek belajar verbal. Pengkondisian bagi tahap ini antara lain secara internal pada diri siswa harus sudah terkuasai sejumlah stimulus – respons baik yang psikomotorik atau yang verbal.
  5. Discrimination learning (membedakan). Pada tahap ini siswa membedakan di antara dua atau lebih stimulus kemudian memilih pola – pola respons yang dianggapnya paling sesuai. Pengkondisian pada tahap ini ialah siswa telah mempunyai kemahiran melakukan chaining dan association serta memiliki pengalaman.
  6. Concept learning (belajar tentang konsep atau pengertian). Berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri dari sekumpulan stimulus maka dibentuklah sebuah konsep atau pengertian. Pengkondisian pada tahap ini ialah terkuasainya kemampuan membedakan dan proses kognitif sebelumnya.
  7. Rule learning(menggeneralisir). Pada tahap ini siswa belajar mengadakan kombinasi dari berbagai konsep dengan menggunakan kaidah – kaidah logika formal (induktif, deduktif, analisis, sintesis, asosiasi, diferensiasi, komparasi dan kausalitas) sehingga siswa dapat membuat kesimpulan yang selanjutnya dapat dipandang sebagai prinsip, aturan atau hukum. Pengkondisian dalam tahap ini menurut Gagne ialah:
    1. Kepada siswa diberitahukan tentang bentuk performance yang diharapkan setelah siswa mengalami proses belajar.
    2. Kepada siswa diberikan sejumlah pertanyaan yang mengingatkan kembali terhadap konsep – konsep yang telah dipelajari.
    3. Kepada siswa diberikan kata kunci untuk mengarahkan siswa ke arah pembentukkan prinsip tertentu yang diharapkan.
    4. Diberikan kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan dan menyatakan prinsip dengan kata – katanya sendiri.
    5. Siswa diberikan kesempatan untuk membuat rumusan aturan / prinsipnya sendiri dalam bentuk pernyataan formal.
    6. Problem solving(memecahkan masalah). Menurut Jhon Dewey, proses belajar pemecahan masalah itu berlangsung dalam tahapan:
      1. Menyadari adanya masalah.
      2. Merumuskan masalahnya.
      3. Mencari fakta pendukung dan merumuskan hipotesis.
      4. Mengevaluasi alternatif pemecahan masalah.
      5. Mengadakan uji coba atau verifikasi secara ekperimental.

 

 

 

  1. Menetapkan strategi evaluasi belajar mengajar.

Berdasarkan maksud atau fungsinya terdapat beberapa model desain pelaksanaan evaluasi KBM. Di antaranya adalah evaluasi sumatif, formatif, reflektif dan kombinasi dari ketiganya.

  1. evaluasi Sumatif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan setelah berakhirnya KBM atau sering juga dikenal dengan istilah post test. Pola evaluasi ini dilakukan dengan maksud mengetahui perkembangan terkahir dari tingkat pengetauhan atau penguasaan belajar yang telah dilampaui oleh siswa. Hasil penilaian ini akan merupakan indikator mengenai taraf keberhasian proses KBM. Bersasarkan hasil tersebut dapat ditentukan apakah dapat dilanjutkan ke dalam program baru atau harus diadakan pengulangan.
  2. Evaluasi formatif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan selama masih berjalannya proses KBM. Tujuannya ialah apabila guru menghendaki umpan balik dari siswa sehingga kelemahan- kelemahan dari proses belajar dapat segera diperbaiki sebelum program berakhir. Dengan kata lain, evaluasi formatif lebih bersifat diagnostik dan lebih informatif bagi pengambilan keputsan seperti pemberian remedial.
  3. Evaluasi reflektif ialah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan sebelum proses KBM dilaksanakan, atau bisa disebut pre test. Sasaran utama dari evaluasi ini adalah untuk mendapatkan indikator atau informasi awal tentang kesiapan, pengauasaan atau pola – pola perilaku siswa sebagai dasar penyusunan persiapan rencana KBM dan tingkat keberhasilan yang mungkin dicapai setelah menjalani proses KBM. Sehingga evaluasi reflektif ini bersifat prediktif.
  4. Penggunaan kombinasi tenik evaluasi bertujuan apabila guru ingin mengetahui taraf efektivitas proses KBM siswa. Dengan demikian, guru akan mendeteksi seberapa jauh kontribusi dari komponen – komponen yang terlibat dalam proses KBM tersebut. Adapun tipe evaluasi ini bersifat diagnostik tetapi lebih komprehensif.

 

Santrock, Jhon.W. Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2008.

Cara mengajar yang efektif.

Karena mengajar adalah hal yang kompleks dan karena murid – murid itu bervariasi, maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal. Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikannya secara fleksibel. Hal ini membutuhkan dua hal utama:

  1. pengetahuan dan keahlian professional.
  2. komitmen dan motivasi.
  3. Pengetahuan dan keahlian professional

Guru yang efektif menguasai materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan mengajar yang baik. Guru yang efektif memiliki strategi pengajaran yang baik dan didukung oleh metode penetapan tujuan, rancangan pengajaran, dan manajeman kelas. Guru tahu bagaimana memotivasi, berkomunikasi dan berhubungan secara efektif dengan murid – murid dari beragam latar belakang kultural. Mereka juga memahami cara menggunakan teknologi yan tepat guna di dalam kelas.

  1. Penguasaan materi pelajaran. Guru yang efektif harus berpengetahuan, fleskibel dan memahami materi.
  2. Strategi pengajaran. Prinsip konstruktivisme adalah inti dari filsafat pendidikan. Menurut pandangan konstruktivis, guru bukan sekedar memberi informasi ke pikiran murid, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berfikir secara kritis.
  3. Penetapan tujuan dan keahlian perencanaan instruksional. Guru yang efektif tidak sekedar mengajar di kelas, entah menggunakan perspektif tradisonal atau konstruktivis. Guru harus menentukan tujuan pengajaran dan menyususn rencana untuk mencapai tujuan itu.
  4. Keahlian manajemen kelas. Aspek penting lain untuk menjedi guru yang efektif adalah mampu menjaga kelas tetap aktif bersama dan mengorientasikan kelas ke tugas – tugas. Guru yang efektif membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif. Agar lingkngan ini optimal, guru perlu senantiasa meninjau ulang strategi penataan dan prosedur pengajaran, pengorgansasian kelompok, monitoring dan mengaktifkan kelas serta menangani tindakan murid yang mengganggu kelas.
  5. Keahlian motivasonal. Guru yang efektif punya strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar. Para ahli psikologi pendidikan semakin percaya bahwa motivasi yang paling baik ialah dengan memberi kesempatan murid untuk belajar di dunia nyata, agar setiap murid berkesempatan menemui sesuatu yang baru dan sulit. Guru yang efektif tahu bahwa murid akan termotivasi saat mereka bisa memilih sesuatu yang sesuai dengan minatnya. Guru yang baik akan memberi kesempatan murid untuk berfikir kreatif dan mendalam untuk proyek mereka sendiri.
  6. Keahlian komunikasi. Yang juga amat diperlukan untuk mengajar adalah keahlian dalam berbicara, mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal, memahani komunikasi non verbal dari murid dan mampu memecahkan konflik secara konstruktif. Keahlian komunikasi bukan hanya penting untuk mengajar, tetapi juga untuk berinteraksi dengan orangtua murid. Guru yang efektif menggunakan keahlian komunikasi yang baik saat mereka berbicara dengan murid, orangtua dan yang lainnya, dan tidak terlalu banyak mengkritik, serta memiliki gaya komunikasi yang asertif. Guru yang efektif juga belajar untuk meningkatkan keahlian komunikasi para murid. Ini secara khusus penting karena keahlian berkomunikasi dianggap sebagai keahlian yang paling banyak dicari saat ini.
  7. Bekerja secara efektif dengan murid dari latar belakang kultural yang berlainan. Di dunia yang saling berhubungan secara kultural ini, guru yang efektif harus mengetahui dan memahami anak dengan latar belakang kultural yang berbeda – beda, dan sensitif terhadap kebutuhan mereka.
  8. Keahlian teknologi. Teknologi itu sendiri tidak selalu meningkatkan kemampuan belajar murid. Dibutuhkan syarat atau kondisi lain untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung proses belajar murid. Kondisi ini antara lain; visi dan dukungan dari tokoh pendidikan; guru yang menguasai teknologi untuk pengajaran; standar dan isi kurikulum; penilaian efektivitas teknologi untuk pembelajaran; dan memandang anak sebagai pembelajar yang aktif dan konstruktif. Guru yang efektif mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrasikan komputer ke dalam proses belajar di kelas. Integrasi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid, termasuk kebutuhan mempersiapkan murid untuk mencari pekerjaan di masa depan, yang akan sangat membutuhkan keahlian teknologi dan keahlian berbasis komputer. Guru yang efektif tahu cara menggunakan komputer dan cara mengajar murid untuk menggunakan komputer untuk menulis dan berkreasi. Guru yang efektif bisa mengevaluasi efektivitas  instruksional dan simulasi komputer, tahu cara menggunakan dan mengajar murid untuk menggunakan alat komunikasi melalui komputer seperti internet. Dan guru yang efektif memahami dengan baik berbagai perangkat penting lainnya untuk mendukung pembelajaran murid yang normal atau pun yang berkebutuhan khusus.
  9. Komitmen dan motivasi.

Adalah penting untuk menyadari masa ketika guru membuat perubahan dalam kehidupan murid. Semakin baik kita menjadi guru, semakin berharga pekerjaan kita sebagai guru. Dan jika guru semakin dihormati dan sukses di mata murid, maka kita akan merasa komitmen kita semakin bertambah.

Apa inti pembelajaran?

Pembelajaran adalah fokus utama dalam psikologi pendidikan. Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan dan keterampilan berfikir yang diperoleh melalui pengalaman.

Pendekatan untuk pembelajaran.

Telah ada pandangan tentang pendekatan untuk pembelajaran, di antaranya pendekatan kognitif dan behavioral.

Behavioral. Behaviorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Proses mental didefinisikan sebagai pikiran, perasaan dan motif yang kita alami namun tdak bisa dilihat oleh orang lain. Menurut behavioris, pemikiran, perasan dan motif ini bukan subyek yang tepat untuk ilmu perilaku sebab semuanya itu tidak bisa diobservasi secara langsung. Pengkondisian klasik dan operan, yang merupakan dua pandangan behavioral menganut pandangan ini. Kedua pandangan ini menekankan pembelajaran asosiatif yang terdiri dari pembelajaran bahwa dua kejadian saling terkait.

Kognitif. Pendekatan kognitif menjadi basis bagi banyak pendekatan untuk pembelajaran. Terdapat empat pendekatan kognitif utama untuk pembelajaran, yakni:

  1. Kognitf sosial yang menekankan bagaimana faktor perilaku, lingkungan dan orang (kognitif) saling berinteraksi mempengaruhi proses pembelajaran.
  2. Pemrosesan informasi kognitif yang menitikberatkan pada bagaimana anak memproses inforamasi melalui perhatian, ingatan, pemikiran dan proses kognitif lainnya.
  3. Konstruktivis kognitf yang menekankan konstruksi kognitif terhadap pengetahuan dan pemahaman.
  4. Konstruktivis sosial yang berfokus pada kolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan pemahaman.

Perencanaan dan instruksi pelajaran teacher-centered.

Perencaaan pelajaran Teacher-centered

Tiga alat umum di sekolah yang berguna dalam perencaan teachercentered adalah menciptakan sasaran behavioral (perilaku), menganalisis tugas dan menyusun taksonomi (klasifikasi) instruksional.

Menciptakan sasaran behavioral. Sasaran behavioral (behavioral objectives) adalah pernyataan tentang perubahan yang diharapkan oleh guru akan terjadi dalam kinerja murid. Menurut Robert Mager (1962), sasaran behavioral harus spesifik. Mager percaya bahwa sasaran behavioral harus mengandung tiga bagian:

–          Perilaku murid. Fokus pada apa yang akan dipelajari atau dilakukan murid.

–          Kondisi dimana perilaku terjadi. Menyatakan bagaimana perilaku akan dievaluasi.

–          Kriteria kinerja. Menentukan level kinerja yang dapat diterima.

Menganalisis tugas, yang difokuskan pada pemecahan suatu tugas kompleks yang dipelajari murid menjadi komponen – komponen (Alberto & Troutman, 1999). Analisis ini dapat melalui tiga langkah dasar (Moyer & Dardig, 1978):

–          Menentukan keahlian atau konsep yang diperlihatkan murid untuk mempelajari tugas.

–          Mendaftar materi yang dibutuhkan untuk melakukan tugas, seperti kertas, pensil, kalkulator dan sebagainya.

–          Mendaftar semua komponen tugas yang harus dilakukan.

Menyusun taksonomi instruksional. Taksonomi yang terkenal adalah taksonomi Bloom yang dikembangakan oleh Benjamin Bloom. Taksonomi ini mengklasifikasikan sasaran pendidikan menjadi tiga domain: kognitif, afektif dan psikomotor.

Ketika Bloom pertama kali menyajikan taksonomi ini, dia mendeskripsikan enam sasaran kognitif yang diurutkan secara hierarkis dari level rendah (pengetahuan, pemahaman) ke level tinggi (aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi) dengan sasaran level tinggi dibangun di atas sasaran level rendah. Akan tetapi, para pendidik sering kali mengabaikan level ini dan hanya menggunakannya sebagai cara komprehensif untuk mengkaji tujuan kognitif yang berbeda.

Sasaran kognitif Bloom dapat dipakai saat penilaian perencanaan. Soal Benar-Salah, pilinan berganda dan jawaban singkat seringkali dipakai untuk menilai pengetahuan dan pemahaman. Pertanyaan esai, diskusi kelas, proyek dan portofolio adalah cara yang bagus untuk menilai aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.

Tabel: Domain Bloom dan daftar kata kerja yang terkait yang dapat digunakan untuk menciptakan sasaran selama perencanaan instruksional.

Domain Kognitif
Kategori Kata kerja terkait
Pengetahuan Mendaftar, membaca, mengidentifikasi, mendefinisikan, menunjukkan, menamai, mengutip, menggarisbawahi.
Komprehensif Menerjemahkan, mengubah, meringkas, menyusun kalimat, mengilustrasikan, menginterpretasikan, memperkirakan, menginterpolasikan, mengekstrapolasikan, mengklasifikasi, mengkategorisasi, mereorganisasi, menjelaskan, memprediksi.
Aplikasi Mengaplikasikan, menggeneralisasikan, menghubungkan, menggunakan, memanfaatkan, mentransfer, membuat grafik, mencontohkan, mengilutrasikan, mentabulasikan, mengkalkulasikan, menghitung, menurunkan, menambahkan.
Analisis Menganalisis, membandingkan, membedakan, mendeteksi, mengedit, mendiskriminasi.
Sintesis Memproduksi, menyusun, memodifikasi, menemukan, mengusulkan, merencanakan, mendesain, mengkombinasikan, mengorganisasikan, mensintesiskan, mengembangkan, merumuskan.
Evaluasi Menilai, membuat argumen, memvalidasi, memprediksi, menilai, memutuskan, meninjau, menyimpulkan, mengevaluasi, menjelaskan, mengkritik.
Domain Afektif
Kategori Kata kerja terkait
Penerimaan Menerima, membedakan, mendengarkan, memisahkan, memilih, membagi, menyetujui.
Respons Menyetujui, memuji, mendukung, mengikuti, mendiskusikan, membantu, latihan, meluangkan waktu, menyusun kalimat.
Penilaian Berargumen, berdebat, menolak, mendukung, memprotes, berpartisipasi, menyokong, memuji.
Pengaturan Mendiskusikan, membandingkan, menyeimbangkan, mendefinisikan, mengabstraksi, merumuskan, membuat teori, menata.
Karakterisasi Nilai Mengubah, menghindari, melengkapi, mengelola, memecahkan, merevisi, menentang, meminta.
Domain Psikomotor
Kategori Kata kerja terkait
Gerak refleks Berkedip, menggeliat, santai, menyentak, merenggangkan.
Fundamental dasar Berjalan, lari, melompat, mendorong, menarik, memanipulasi, menangkap, merenggut, berdiri.
Kemampuan persepsi Mengikuti, menjaga, memelihara, mengidentifikasi, membaca, menulis, mendaftar, menyeimbangkan, melacak, menyikat, mencetak, melafalkan.
Kemampaun fisik Berjingkat, melonjak, melompat, berlari, menyentuh, mengangkat, mendorong, menarik, menepuk, menjejak, melayang, memukul, melempar, melontar, mengguncang.
Gerak terlatih Menggambar, menari, bermaian ski, bermain skate, melukis, membangung, voli, balap,  bersiul,  gerak jalan, jungkir balik, memalu, menatah, mensketsa.
Perilaku nondiskusif Pantomim, mimik, mengatur, menampilkan, berkomunikasi, memberi isyarat, menggunakan gerak tubuh.

 

Instruksi langsung (direct instruction) adalah pendekatan teachercentered yang terstruktur yang dicirikan oleh arahan dan kontrol guru, ekpesktasi guru yang tinggi atas kemajuan murid, maksimalisasi waktu yang dihabiskan murid untuk tugas – tugas akademik, dan usaha oleh guru untuk meminimalkan pengaruh negatif terhadap murid (Joyce & Weil, 1996).

Strategi Instruksional Teacher Centered.

  1. Mengorientasikan. Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, susunlah kerangka pelajaran dan orientasikan murid ke materi tersebut:
  • review aktivitas sehari sebelumnya
  • diskusikan sasaran pelajaran
  • beri instruksi yang jelas dan ekplisit tentang tugas yang harus dilakukan
  • beri ulasan terhadap pelajaran.

Advance organizer adalah aktivitas dan tehnik pengajaran dengan membuat kerangka pelajaran dan mengorientasikan murid pada materi sebelum materi itu diajarkan. Advance organizer terdiri dari dua bentuk, yakni: expository advance organizer dan comparative advance organizer. Expository advance organizer memberi murid pengetahuan baru yang akan mengorientasikan mereka ke pelajaran yang akan datang. Comparative advance organizer memperkenalkan materi baru dengan mengkaitkannya dengan apa yang sudah diketahui murid.

  1. Pengajaran, penjelasan (ceramah) dan demonstrasi. Pengajaran dengan paparan/ ceramah (lecturing), penjelasan dan demonstrasi adalah aktivitas yang biasa dilakukan guru dalam pendekatan instruksi langsung. Beberapa pedoman untuk memberi pengajaran yang efektif:
  • menyajikan informasi dan memotivasi minat anak terhadap suatu pelajaran
  • memperkenalkan satu topik sebelum murid membacanya, atau memberi instruksi tentang cara melakukan suatu tugas.
  • meringkas atau mensintesiskan informasi setelah diskusi atau penelitian.
  • memberi sudut pandang alternatif atau menjelaskan isu sebelum diskusi dimulai.
  • menjelaskan materi yang sulit dipahami murid.
  1. Pertanyaan dan diskusi. Diskusi dan pertanyaan perlu diintergasikan ke dalam pendekatan instruksi teacher-centered. Dalam menggunakan strategi ini, adalah penting untuk merenspon setiap kebutuhan pembelajaran murid sekaligus menjaga minat dan perhatian kelompok. Juga penting untuk mendistribusikan partispasi luas sekaligus mempertahankan semangat belajar. Tantangan lainnya adalah mengajak murid memberi kontribusi sambil mempertahankan fokus pada pelajaran.
  2. Mastery learning. Adalah pembelajaran satu konsep atau topik secara menyeluruh sebelum pindah ke topik yang lebih sulit. Pendekatan pembelajaran penguasaan materi yang baik harus mengikuti prosedur sebagai berikut:
  • menyebutkan tugas atau pelajaran. Kembangkan sasaran instruksional yang tepat. Buat standar penguasaannya.
  • bagilah pelajaran menjadi unit – unit pembelajaran yang berhubungan dengan sasaran instruksional.
  • rancanglah prosedur instruksional dengan memasukkan umpan balik korektif ke murid jika mereka gagal menguasai materi pada level yang dapat diterima, misalnya 90% benar. Umpan balik korektif bisa diberikan melalui materi pelengkap, tutoring atau instruksi kelompok kecil.
  • beri tes pada akhir unit pelajaran dan akhir pelajaran untuk mengevaluasi apakah murid sudah menguasai semua materi pada level yang dapat diterima.
  1. Seatwork (tugas di bangkuk kelas) adalah meminta semua murid untuk belajar sendri – sendiri di bangku mereka. Berikut ini beberapa pedoman yang baik untuk meminimalkan masalah yang dihadapi dalam seatwork:
  • Periksa kertas kerja yang digunakan untuk seatwork untuk mengetahui kejelasan, kebermaknaan dan ketepatan pekerjaan siswa. Kertas kerja seatwork harus atraktif dan fungsional.
  • deskrispsikan dengan jelas tugas – tugas seatwork.
  • pantau perilaku dan pemahaman murid.
  • ajari murid apa yang harus mereka lakukan jika mereka menemui kesulitan.
  • Beri tahu murid apa yang harus mereka lakukan jika sudah selesai.
  • cari alternatif selain buku tugas.
  1. Pekerjaan rumah. Keputusan instrusksional penting lainnya adalah seberapa banyak dan apa jenis pekerjaan rumah yang harus diberikan kepada murid. Guru dan orangtua dapat menggunakan pekerjaan rumah untuk membantu anak dalam berlatih menentukan suatu tujuan dan kegiatan untuk mencapai tujuan itu. Cooper (1989; Cooper & Valentine, 2001) juga menemukan bahwa:
  • PR memberi efek lebih positif jika didistribusikan selama periode waktu tertentu, ketimbang jika diberikan sekaligus dalam satu waktu.
  • PR berefek lebih besar pada mata pelajaran matematika, membaca dan bahasa ketimbang pada pelajaran Sains dan IPS.
  • untuk murid sekolah menengah, optimalnya adalah satu atau dua jam pekerjaan rumah dalam semalam.

Mengevaluasi Instruksi Teacher – Centered.

Riset terhadap instruksi teacher – centered telah memberikan banyak saran berharga untuk pengajaran, antara lain:

–          Jadilah perencana yang rapi dan ciptakan sasaran instruksional.

–          Selalu berharap agar murid mendapatkan kemajuan dan memastikan agar murid mendapatkan waktu pembelajaran akademik yang memadai.

–          Luangkan waktu untuk memberikan orientasi pelajaran

–          Gunakan metode lecturing, penjelasan dan demonstrasi guna membantu beberapa aspek dari pembelajaran murid.

–          Libatkan murid dalam pembelajaran dengan mengembangkan keterampilan mengajukan pertanyaan yang baik dan meminta mereka ikut dalam diskusi kelas.

–          Minta murid mengerjakan seatwork atau tugas lainnya dan gunakan instruksi tersendiri untuk murid tertentu atau kelompok kecil tertentu.

–          Beri pekerjaan rumah kepada murid untuk meningkatkan waktu pembelajaran akademik dan libatkan orangtua untuk membantu pembelajaran anak.

 

Perencanaan dan instruksi pelajaran Learner-Centered

Prisnip learner-centered.

Instruksi dan perencanaan learner-centered adalah pada siswa, bukan guru. Dalam sebuah studi, persepsi murid terhadap lingkungan pembelajaran yang positif dan hubungan interpersonal dengan guru merupakan faktor paling penting yang memperkuat motivasi dan prestasi murid (McCombs, 2001; Mc Combs & Quiat, 2001).

Meningkatnya minat terhadap prinsip learner-centered dalam perencanaan dan instruksi ini telah menghasilkan satu set pedoman yang diberi nama Learner-Centered Psychological Principles: A Framework for School Reform and Redesign. Pedoman ini disusun dan direvisi secara periodik oleh sekelompok ilmuwan dan pendidik yang ternama dari berbagai bidang ilmu. Prinsip – prinsip ini mengandung implikasi penting bagi cara guru merancang dan mengajar, karena prinsip – prinsip tersebut didasarkan pada riset tentang cara belajar paling efektif bagi murid.

Prinsip learner-centered yang dikembangkan oleh American Phsychological Association (APA) dapat diklasifikasikan berdasarkan empat faktor: kognitif dan metakognitif, motvasi dan emosional, perkembanngan dan sosial, dan perbedaan individual.

 

 

Factor kognitif dan metakognitif.

Ada enam prinsip, yakni sifat proses pembelajaran, tujuan proses pembelajaran, konstruksi pengetahuan, pemikiran strategis, metakognisi dan konteks pembelajaran.

  1. Sifat proses pembelajaran. Pembelajaran subyek materi yang kompleks akan sangat efektif jika dilakukan dengan melalui proses pengkonstruksian makna dari informasi dan pengalaman.
  2. Tujuan proses pembelajaran. Murid perlu menciptakan dan mengajar tujuan yang relevan secara personal yang bisa mensukseskan pelajar itu sendiri.
  3. Konstruksi pengetahuan. Pengetahuan akan bertambah luas dan makin mendalam jika murid terus membangun hubungan antar informasi baru dengan pengalaman dalam pengetahuan mereka yang sudah ada.
  4. Pemikiran strategis. Murid terus – menerus mengembangkan ketrampilan strategis mereka dengan mendalami ulang strategi yang sukses, dengan menerima petunjuk dan tanggapan dan dengan mengobservasi atau berinteraksi dengan model yang tepat.
  5. Memikirkan tentang pemikiran (metakognisis). Murid merenungkan cara mereka belajar dan berfikir, menentukan tujuan pembelajaran yang reasonable, memilih strategi yang tepat, dan memantau kemajuan mereka menuju tujuan pembelajaran. Selain itu, pelajar yang suskes tahu apa yang harus dilakukan jika muncul masalah atau jika mereka tidak bisa membuat kemajuan yang berarti. Mereka bisa membuat metode alternatif untuk mencapai tujuan atau menilai kembali ketepatan tujuan tersebut.
  6. Konteks pembelajaran. Pembelajaran tidak terjadi di ruang hampa. Pembelajaran dipengaruhi oleh faktor – faktor lingkungan seperti budaya, teknologi dan praktik instruksional. Guru memainkan peran penting dalam pembelajaran siswa. Budaya bisa mempengaruhi banyak aspek pembelajaran dan pendidikan, seperti motivasi, proses belajar dan cara berfikir. Teknologi dan praktek instruksional harus disesuaikan dengan tingkat pengetahuan, kemampuan dan strategi pembelajaran. Lingkungan kelas akan sangat berpengaruh terhadap pembelajaran murid.

 

 

Faktor motivasi dan emosional.

Motivasi dan emosi adalah aspek penting dari pembelajaran, yang akan kita deskripsikan dalam dua prinsip learnercentered berikutnya.

  1. Pengaruh motivasi dan emosi terhadap pembelajaran. Apa dan seberapa banyak hal – hal yang dipelajari akan dipengaruhi oleh motivasi pelajar. Keyakinan dan ekspektasi pelajar dapat memperkuat atau melemahkan kualitas pemikiran dan pemrosesan informasi pelajar. Emosi positif, seperti rasa ingin tahu, biasanya akan memperlancar proses belajar. Kecemasan yang moderat seringkali bisa memperbaiki pembelajaran. Namun, emosi negatif seperti kecemasan yang besar, panik, kemarahan, dan pemikiran yang terkait dengan emosi negatif seperti takut berlebihan, takut gagal, dan takut hukuman, dapat melemahkan pembelajaran.
  2. Motivasi instrinsik untuk belajar. Motivasi instrinsik dapat menguat jika murid menganggap tugas sebagai sesuatu yang menarik, elemen secara personal, bermakna dan pada level yang sesuai dengan kemampuan murid sehingga mereka beranggapan dapat berhasil dalam meneyelasikan tugas itu.
  3. Efek motivasi terhadap usaha. Pembelajaran yang efektif membutuhkan banyak waktu, energi dan ketekunan.

 

Faktor sosial dan developmental.

Faktor developmental dan sosial yang mendasari dua prinsip learner-center selanjutnya.

  1. Pengaruh perkembangan pada pembelajaran. Kesadaran dan pemahaman akan variasi perkembangan dalam murid dapat membantu penciptaan konteks pembelajaran yang optimal.
  1. Pengaruh sosial terhadap pembelajaran. Hubungan interpersonal yang berkualitas dapat menghasilkan rasa percaya dan perhatian sehingga meningkatkan rasa memiliki, penghargaan diri, penerimaan diri, dan menghasilkan iklim pembelajaran yang positif.

 

 

Faktor perbedaan individual.

Pertimbangan perbedaan individual murid merupakan salah satu landasan pendidikan yang efektif. Tiga prinsip learner-centered terakhir adalah fokus individual pada pembelajaran, diversitas serta standar dan penilaian.

  1. Perbedaan individual dalam pembelajaran. Murid memiliki strategi yang berbeda, pendekatan berbeda dan kemampuan berbeda untuk belajar. Perbedaan ini adalah akibat dari pengalaman dan hereditas. Anak dilahirkan dengan kemampuan dan bakat yang bisa dikembangkan. Dan, melalui pengalaman, mereka akan memlih cara sendiri untuk belajar dan langkah yang diambil dalam belajar. Akan tetapi, preferensi ini tidak selalu bermanfaat bagi anak untuk mencapai tujuan pembelajaran murid. Guru perlu mengkaji preferensi belajar anak dan mengembangkan atau memodifikasinya.
  2. Pembelajaran dan diversitas. Pembelajaran akan lebih efektif jika perbedaan bahasa, kultural dan latar belakang sosial murid ikut dipertimbangkan. Prinsip dasar yang sama dari pembelajaran, motivasi dan instruksi, berlaku untuk semua anak. Akan tetapi, bahasa, etnis dan status sosioekonomi dapat mempengaruhi pembelajaran anak. Guru perlu sensitif terhadap keragaman ini dan menciptakan lingkungan belajar yang mempertimbangkan keragaman tersebut. Ketika murid menganggap bahwa perbedaan individual dalam hal kemampuan dan latar belakang mereka dihargai dan diakomodasi, maka motivasi dan prestasi murid biasanya bertambah.
  3. Standar dan penilaian. Menentukan standar yang tinggi dan menantang, dan menilai kemajuan pembelajaran dan siswa adalah bagian integral dari proses pembelajaran. Pembelajaran yang efektif terjadi ketika murid ditantang untuk bekerja meraih tujuan yang tinggi dan tepat. Jadi, penilaian kekuatan dan kelemahan kognitif murid, serta keterampilannya, adalah aspek penting dalam memilih materi instruksional yag optimal. Penilaian terhadap pemahman anak atas materi akan berguna bagi pembelajaran anak. Penilaian standar terhadap kemajuan dan hasil belajar murid hanya memberi satu tipe informasi tentang prestasi. Penilaian kinerja -seperti kinerja akses dan latihan- merupakan penilaian lain atas kemajuan dan hasil belajar. Penilaian diri atas kemajuan pembelajaran juga dapat membantu meningkatkan keahlian murid dalam menilai diri sendiri dan meningkatkan motivasi dan keinginan untuk belajar mandiri.

 

Beberapa strategi instruksional learner-centered.

Pembelajaran berbasis problem.

Pembelajaran berbasis problem menekankan pada pemecahan problem kehidupan nyata. Kurikulum berbasis problem akan memberi problem riil kepada murid, yakni problem yang muncul dalam kehidupan sehari – hari (Jones, Rasmussen, & Moffitt, 1997). Murid mengidentifkasi problem atau isu yang ingin mereka kaji, kemudian mencari materi dan sumber bahan lain yang mereka butuhkan untuk menangani isu atau problem tersebut. Guru bertindak sebagai pembimbing, membantu murid memonitor upaya pemecahan masalah yang sedang dikerjakan oleh mereka.

Pertanyaan esensial.

Pertanyaan esensial adalah pertanyaan yang merefleksikan inti dari kurikulum, hal yang paling penting yang harus diekplorasi dan dipelajari oleh murid (Jacobs, 1997). Misalnya pertanyaan “apa arti dari terbang?”. Pertanyaan esensial seperti ini akan membuat murid bingung, menyebabkan mereka berfikir, dan memotivasi rasa ingin tahu mereka. Pertanyaan esensial adalah pilihan kreatif.

Pembelajaran penemuan atau discovery learning.

Adalah pembelajaran di mana murid menyusun pemahaman sendiri. Pembelajaran penemuan berbeda dengan pendekatan instruksi langsung, di mana guru menjelaskan secara langsung informasi kepada murid. Dalam pembelajaran penemuan, murid harus mencari tahu sendiri. Guru memfasilitasi pembelajaran penemuan ini dengan memberi aktivitas yang merangsang murid untuk mencari tahu. Setelah guru memberi aktivitas ini, peran guru adalah sebagai penjawab pertanyaan murid.

 

 

Mengevaluasi Instruksi learner-centered.

Pendekatan learner-centered untuk perencanaan dan instruksi pelajaran memberikan banyak hal positif. Empat belas prinsip learner-centered yang disusun oleh American Psychological Association dapat membantu dalam membimbing murid. Prinsip tersebut mendorong guru untuk membantu murid secara aktif mengkonstruksi pemahaman mereka, menentukan tujuan dan renacana, berfikir mendalam dan kreatif, memantau pembelajaran mereka, memecahkan problem dunia nyata, mengembangkan rasa percaya diri yang positif dan mengontrol emosi, memotivasi diri sendiri, belajar sesuai dengan level perkembangan, bekerjasama secara efektif dengan orang lain (termasuk orang yang berbeda latar belakang), mengevaluasi preferensi mereka dan memenuhi standar.

Pengkritik pendekatan ini mengatakan bahwa pendekatan ini terlalu banyak memperhatikan proses pembelajaran (seperti belajar secara kretaif dan kolaboratif) tetapi tidak cukup memperhatikan kandungan akademiknya. Beberapa kritikus mengatakan bahwa instruksi learner-centered akan lebih baik untuk beberapa pelajaran dibandingkan pelajaran lainnya. Mereka mengatakan bahwa dalam area dengan banyak problem yang tidak didefinisikan dengan rapi, seprti ilmu sosial dan kemanusiaan, instruksi learner-centered dapat bekerja dengan efektif. Namun, mereka percaya bahwa dalam domain yang sudah terstruktur baik, seperti matemetika dan sains, pendekatan teacher-centerred lebih baik. Krikikus juga mengatakan bahwa instruksi learner-centered kurang efektif di level pengejaran awal untuk suatu pelajaran karena murid belum punya pengetahuan memadai untuk membuat keputusan tentang bagaimana dan apa yang harus mereka pelajari. Dan para pengkritik menekankan bahwa ada gap antara level teoritis dari pembelajaran yang berpusat pada murid dengan aplikasi aktualnya (Airasian & walsh, 1997). Konsekuensi implementasi strategi learner-centered di kelas sering kali jauh lebih menyulitkan daripada yang diperkirakan.