Lintas Waktu

Lintas Waktu

”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (Q.S. Al-Qadr [97]:1-5).

 

Malam kemuliaan yang dimaksud adalah lailatulkadar yang merupakan ”parsel/bingkisan” dari Allah untuk hamba-Nya yang lulus menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Bingkisan itu berupa paket usia yang mampu menembus dimensi waktu. Usia manusia dulu sampai kini akan bertemu di malam lailatulkadar ini.

Allah telah memilih Ramadan sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebut di dalam Alquran. ”Beberapa hari yang ditentukan itu (ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)…” (Q.S. Al-Baqoroh [2]:185).

Kejadian-kejadian penting terjadi pada bulan Ramadan, yaitu  diturunkannya kitab suci Alquran, diturunkannya kitab-kitab suci sebelum Alqutan, terjadinya Perang Badr, terbukanya kota Mekah (fathul Makkah), pelaksanaan puasa dan pemindahan arah kiblat, dan bulan yang dipilih Allah untuk turunnya keutamaan lailatulkadar.

Selama bulan Ramadan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yakni lailatulkadar, satu malam yang lebih berharga dari seribu bulan. Mengapa semalam bernilai setara dengan seribu bulan? Umat terdahulu memiliki rata-rata usia yang cukup panjang, ada yang mencapai usia 1.000 tahun bahkan ada yang lebih. Sebagian ulama mengatakan umat dahulu ada yang belum mencapai usia balig (cukup umur) hingga usia 80 tahun.

Sebuah riwayat menjelaskan ada seorang yang meninggal di usia sekitar 200-an tahun. Serentak banyak makhluk yang merasa simpati terhadapnya, karena ia telah meninggal dalam usia yang muda. Juga diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim AS berkhitan ketika usia beliau mencapai 80 tahun, ketika Allah memerintahkan untuk melakukannya. Umat terdahulu juga telah dipanjangkan umurnya seperti Nabi Nuh AS yang berusia lebih dari 1.000 tahun, Luqman bin Ka’ab berumur 400 tahun, dan Ash-habul Kahfi yang hidup di dalam gua selama 309 tahun.

Rasulullah SAW ketika merasakan bahwa usia umatnya terlalu pendek bila dibandingkan dengan usia umat sebelumnya kemudian memohon kepada Allah SWT, mengadukan tentang pendeknya usia umat Islam sehingga tidak cukup waktu bagi mereka untuk memperbanyak ketaatan kepada-Nya, serta untuk menambah amalan bagi akhiratnya. Dari doa Nabi SAW inilah lalu Allah SWT menganugerahkan kepada Nabi dan umat Islam suatu malam yang disebut lailatulkadar yang nilai kebaikannya setara dengan 1.000 bulan.

Semalam setara seribu bulan karena pada malam itu turun para malaikat dan roh dari terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar atau kira-kira 10 jam di sekitar khatulistiwa. Semalam setara seribu bulan, artinya 1 malam=1.000 bulan=30.000 malam=300.000 jam=18.000.000 menit=1.080.000.000 detik, atau 1 malam=83 tahun 4 bulan.

Allah menjelaskan para malaikat dan roh (ditafsirkan Jibril) akan turun ke bumi menuju ke alam kasar semenjak terbenam matahari hingga terbit fajar. Perpindahan malaikat dari alam malakut (dimensi cahaya) menuju ke alam nasut (dimensi partikel) tidak setiap saat dapat terjadi karena untuk berpindah dimensi, dalam teori kuantum malaikat berarti melintasi cermin CP (C=charge conjugation, penolakan muatan, dan P=parity, keseimbangan) dan memperlambat kecepatannya (kecepatan cahaya) mendekati kecepatan partikel.

Malaikat diciptakan oleh Allah dari nur atau cahaya. Malaikat adalah makhluk patuh sehingga tidak mungkin akan mengganggu makhluk lain. Ia terbentuk dari cahaya yang lebih dingin daripada setan yang tercipta dari netrino panas. Cahaya merambat dengan kecepatan 300.000 km/detik.

Pada malam lailatulkadar, bermiliar malaikat turun ke bumi. Malaikat yang mampu menembus dimensi manusia adalah sekelompok malaikat yang cerdas dan kuat (seperti Jibril), dan ia hanya akan tinggal sebentar karena untuk muncul di dimensi kasar memerlukan energi pengerem kecepatan. Inilah rahasia mengapa peristiwa isra’ wal mi’raj terjadi pada malam seperti halnya malam lailatulkadar pada bulan suci Ramadan ini.

Waktu malam sengaja Allah istimewakan bagi hamba-hamba yang ingin lebih bertakarub kepada-Nya, di saat semua makhluk sedang terlelap istirahat. Waktu malam adalah saat di mana cahaya matahari tidak bersinar sehingga manusia tidak akan mampu melihat apa pun kecuali dengan mata hati/batinnya. Waktu malam hari inilah saat bagi hamba Allah yang khusyuk untuk mengoptimalkan potensi rohaninya hingga mampu berkelana ke ufuk alam semesta dan menembus alam lain–mendekat kepada Allah sedekat-dekatnya.

Semalam=1.000 Bulan

Sekarang akan kita hitung usia seorang mukmin yang dikaruniakan Allah lailatulkadar. Kita ambil contoh, bila Fulan telah berusia 30 tahun ia telah menjalankan ibadah Ramadan semenjak usia 15 tahun, berarti ia telah menjumpai lailatulkadar 15 kali. Selanjutnya bila selama 15 tahun itu dikaruniai lailatulkadar oleh Allah 12 kali saja (yang tiga tahun selebihnya bolong-bolong), saat ini Fulan tadi tidak lagi berusia 30 tahun, akan tetapi telah bertambah mengikuti persamaan lailatulkadar sebagai berikut: U=Ui+(n x 83,4). Di mana U=usia Fulan yang mendapatkan lailatulkadar (tahun). Ui=usia Fulan mula-mula (tahun). Sedangkan n=orde lailatulkadar (tanpa satuan). Bilangan 83,4=83 tahun sisa empat bulan.

Jadi usia Fulan saat ini adalah: U=30+(12 x 83,4) tahun=30 tahun+(996 tahun+48 bulan)=30 tahun+996 tahun+4 tahun=1.030 tahun. Sungguh usia yang fantastis untuk ukuran saat ini. Manusia tertua di planet Bumi ini tidak lebih dari 200 tahun, sementara Fulan telah 1.000 tahun lebih. Dan dengan analogi demikian, usia hamba yang taat kepada Allah bisa dipastikan sudah mencapai ribuan tahun. Dari perhitungan sederhana ini, semakin sering kita mendapatkan lailatulkadar, maka usia-U kita akan semakin meningkat menjadi usia-Ui dengan kelipatan 83 tahun empat bulan.

Berapakah usia-U anda selepas Ramadan 1434 H ini? Jawabnya adalah mengetahui berapa orde lailatulkadar, yakni dua faktor berikut. Pertama, istikamah menjalankan amalan Ramadan secara imaniah-ihtisaabiahKedua, amalan selama Ramadan 1434 ini membekas dengan meningkatnya amalan-ibadah selama 11 bulan pasca-Ramadan. Sabda Rasulullah: Sebaik-baik kamu adalah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya (H.R. Tirmidzi). Semoga kita mendapat parsel Lebaran  lailatulkadar tahun ini. Amin…

~~~

Sumber: SoloPos, edisi Jum’at Legi 26 Juli 2013