November 25, 2013 by  | 1 Comment

“Selamat jalan sahabatku, Bapak Xxxxxxxxx, tadi pagi kita sempat bertegur sapa di ruang guru, sore hari saya mendangar Bapak mengalami serangan jantung, dibawa ke rumah sakit tak jauh dari sekolah …. ternyata pagi tadi adalah perjumpaam terakhir kita … Engkau berpulamg menghadap sang Khalik … selamat jalan sahabat, engkau Guru yang rajin, ramah, disukai anak-anak … semoga Allah SWT membalas semua kebaikanmu …”

20131125-155131.jpg

Kutipan di atas adalah tulisan seotang Guru di Facebooknya, gambarkan perasaan merespon kepergian sahabatnya.

Sebagai Guru, coba ingat-ingat …. seberapa anda punya waktu buat diri anda sendiri?
Tuntutan bekerja di Sekolah sejak hari Senin hingga Jumat, kemacetan lalu lintas mambuat anda harus pergi lebih pagi dan pulang larut malam … sering ada tugas tambahan pada hari sabtu dan minggu.

Tuntutan adminstrasi pengajaran tak pernah berhenti membuat seolah waktu sehari 24 jam tak pernah cukup, perubahan kurikulum berkali-kali diikuti pembuatan berkas ini itu menambah panjang tugas guru yang harus diselesaikan. Target belajar di kelas, kelulusan ujian nasional membuat guru tak mementingkan apakah murid atau guru menyukai atau senang dengan interaksi pembelajaran … yang ada adalah pemaksaan target-target yang seolah jadi dewa di sekolah.

Tuntunan, tuntutan Dinas Pendidikan, klaim orang tua murid, penanganan murid bermasalah membuat waktu di sekolah jadi sangat cepat beranjak, guru hampir tak sempat mendiskusikan atau mempelajari metode baru atau info-info terkini yang bisa meningkatkan kualitas diri sebagai guru … makin banyak murid bermasalah yang harus diurus membuat guru tak sempat urus murid yang baik dan pintar, mereka dibiarkan mencari arahnya sendiri.

Perjalanan hari-hari berlangsung sangat cepat, kewajiban memakai seragam berganti setiap hari, tambahan seragam baru sehubungan kegiatan-kegiatan ini itu membuat guru tak bisa memilih apa yang disukai, dalam jangka panjang ini mematikan kreatifitas …. guru-guru jadi seperti robot pelaksana kurikulum & bikin lulus Ujian Nasional serta berbagai target seremonial tampil berseragam …guru tak sempat menikmati waktu buat dirinya, tak sedikit yang tak sempat mendidik anak-anak kandungnya hingga tak punya kehidupan yang layak setelah orang tuanya berpulang.

Bahkan Guru itu tak tahu apa hobinya, tak bisa menyenangkan diri, tak sempat berprestasi hingga tiba-tiba ajal mendekat dan menjemput arwahnya untuk istirahat dari urusan seragam dan target-target atas nama orang tua dan negara … Selamat hati Guru teman-teman pendidik, tak perlu terlalu serius jadi guru, sisihkan waktu buat diri anda sendiri, keluarga dan orang-orang yang anda cintai, kerjakan hobby secara serius hingga mendatangkan penghasilan sebagai aktifitas saat pensiun, didiklah anak-anak kandung anda agar mereka bisa hidup lebih baik dari anda setelah dewasa, gembirakan diri anda dan keluarga, sehatkan badanmu dan keluargamu …. sekolah bukan segala-galanya dalam kehidupanmu, itu cuma lokasi kerja kamu sementara di dunia …. love you all.