Suatu hari di sebuah sekolah sedang diadakan pertemuan

internal para pengajar yang dipimpin langsung oleh sang kepala sekolah. Mereka
sedang membahas pengunduran diri seorang wali kelas dari kelas yang mereka sebut
sebagai “kelas anak-anak nakal”. Ini adalah kali kelima dimana wali kelas yang
bertugas di kelas itu mengundurkan diri. Dalam rapat, dibahas tentang
calon-calon pengganti wali kelas itu dan solusi untuk mengelola kelas tersebut.
Saat satu persatu diminta untuk menggantikan menjadi wali kelas, spontan semua
guru dengan tegas menolaknya. Tidak ada satupun yang bersedia untuk menjadi
wali kelas di kelas tersebut. Karena mereka tahu kelas tersebut adalah kelas
yang paling susah diatur, siswanya sering membantah perintah guru, sering
keluar kelas saat jam pelajaran berlangsung, sering membuat gaduh dikelas,
bahkan beberapa kaca sekolah pecah karena mereka bermain sepak bola didalam
kelas. Mereka yang menolak malah memberikan beberapa usulan. Ada yang mengusulkan untuk dilebur dengan
kelas lain, ada yang mengusulkan untuk dititipkan disekolah lain sebagai kelas
titipan, ada yang mengusulkan untuk memindahkan kelas tersebut ke sekolah lain.

Kemudian kepala sekolah menutup rapat hari itu dengan
keputusannya, “Baiklah, usulan rekan-rekan akan saya pertimbangkan, kita
berikan satu kesempatan lagi, kebetulan minggu depan kita akan kedatangan
seorang guru baru, mungkin ia bisa mengelola kelas ini, jika yang terakhir ini
juga tidak bisa maka akan kita pilih salah satu opsi dari usulan rekan-rekan
tadi. Dan untuk mengisi kekosongan, maka dalam satu minggu kedepan biar saya
yang akan menangani langsung kelas ini”. Semua guru menyetujui keputusan itu,
walaupun dalam kondisi keraguan mereka terhadap sang guru baru, mengingat
guru-guru senior disekolah itu saja tidak mampu untuk mengelola kelas tersebut.

Seminggu kemudian datanglah sang guru baru, tanpa
diberitahukan tentang kondisi kelas ia langsung diminta oleh kepala sekolah
untuk menjadi wali kelas di kelas tersebut. Ia hanya diberikan daftar nama dan
absensi siswa di kelas tersebut. Pak Ahmad nama guru baru itu. Ia menerima
tugas tersebut dengan senang hati. Ia mulai mempelajari kondisi kelas,
diperhatikannya daftar nama yang baru ia terima. Abadi Putra 132, Ajat Sudrajat
129, Anwar Sanusi 125, Amelia Santi 137, Budi Baskoro 123, Cahya Arisanti 135.
Ia mengamati satu persatu nama tersebut hingga nama terakhir. “Hmm, semua IQ
nya diatas rata-rata, tidak ada yang rendah, sepertinya akan mudah”, gumamnya
setelah membaca daftar nama siswa.

Pak Ahmad memulai hari dengan gembira, karena mulai hari
ini ia akan belajar dengan siswa-siswi yang cerdas. “Pasti hari ini akan
menyenangkan” ujarnya. Hari pertama mengajar, Pak Ahmad kerepotan dengan
kegaduhan dikelas dan beberapa siswa yang suka membantah. Esoknya ia berpikir,
“Hmm, mungkin anak-anak cerdas memang membutuhkan penyaluran keinginan untuk
berpendapat”. Ia kemudian membuat sebuah forum diskusi santai, dan para siswa
antusias mengikutinya karena mereka tidak dilarang-larang lagi untuk berbicara
di kelas, semua siswa yang sering membuat gaduh dan yang suka membantah dapat
menyampaikan pendapatnya dalam diskusi santai itu.

Beberapa hari berikutnya kembali Pak Ahmad kerepotan. Kali
ini mengenai mereka yang sering keluar saat jam pelajaran berlangsung. Ia mulai
berpikir, “Hmm, mungkin anak-anak cerdas sering jenuh jika terlalu lama di
kelas”. Akhirnya hari itu ia membawa anak-anak ke kebun belakang. “Anak-anak
kali ini kita belajar di luar kelas, selain udaranya lebih segar, belajar
diluar juga bagus untuk menghilangkan kejenuhan” begitu kata Pak Ahmad kepada
para siswa saat memulai pelajaran hari itu. Akhirnya beberapa variasi-variasi
mengajar mulai ia gunakan mengingat kebutuhan anak-anak cerdas pasti akan lebih
variatif. Mulai dari games dalam
ruangan dan luar ruangan, lomba menyanyi dikelas, pengenalan multimedia, liputan
pandangan mata ke sekolah lain, acara-acara sosial ke masyarakat sekitar
sekolah, bahkan ia sering sekali mengubah jadwal pelajaran karena melihat
kebutuhan para siswa saat itu. 

Akhirnya kerja keras Pak Ahmad membuahkan hasil, kelasnya
menjadi kelas terbaik saat hasil evaluasi penilaian siswa dibagikan. Bahkan
beberapa orang siswa dikelasnya menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti
beberapa lomba di wilayah tersebut. 

Kemudian kepala sekolah menghampiri Pak Ahmad, “Selamat ya
Pak Ahmad, meskipun guru baru, tapi Anda bisa membawa kelas ini menjadi yang
terbaik tahun ini”.

Pak Ahmad menjawab dengan rendah hati, “Bukan karena saya
Pak, saya hanya memenuhi kebutuhan mereka, anak-anak dengan IQ tinggi memang
memiliki keinginan yang lebih banyak”. 

Kepala sekolah malah mengernyitkan dahinya, “IQ tinggi..??
darimana Pak Ahmad tahu..?? setahu saya semua siswa disini belum pernah
mengikuti Tes IQ”.

Dengan sedikit heran Pak Ahmad berujar, “Loh bukannya
angka-angka yang ada disamping nama-nama mereka itu adalah nilai IQ mereka Pak..??
Saya dapatkan angka-angka itu dari daftar nama yang Bapak berikan waktu pertama
kali saya datang ke sekolah ini”.

“Hahahaha… Ini yang namanya kesalahpahaman berakibat
positif. Angka-angka yang ada disamping nama mereka itu sesungguhnya adalah
tinggi badan mereka Pak. Kebetulan waktu itu mereka baru saja mengikuti
pengukuran tinggi badan untuk keperluan pengambilan data oleh salah seorang
mahasiswa yang sedang melakukan penelitian tentang hubungan tinggi badan dan
keaktifan siswa”, kepala sekolah tertawa setelah mengetahui kejadian itu.

Menganggap siswa bodoh ataupun nakal hanya akan menjebak
persepsi kita pada kenegatifan, bahkan kecenderungan untuk mengklaim bahwa
mereka tidak akan bisa berkembang. Padahal setiap anak memiliki keistimewaan
masing-masing. Tidak ada anak yang bodoh, melainkan hanya belum tergali potensi
besarnya, galilah potensi mereka, kemudian lihatlah apa yang akan Anda
dapatkan. Untuk menjadi positif, kita tidak memerlukan informasi negatif yang
terlalu hiperbolis. Atau bahkan terkadang kita tidak memerlukan informasi
negatif sama sekali, jika itu malah membuat sudut pandang kita melemahkan
mereka, kecuali jika kita sangat memerlukannya untuk melakukan perbaikan
terhadap mereka. 

Sekarang, masihkah kita menganggap ada siswa bodoh di
kelas kita..??