Dan inilah beberapa Quote yang saya ambil dari novel ini :

 “Sejatinya rasa suka tidak perlu diumbar,ditulis apalagi kau pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya,jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya untuk menyugesti ,bertanya pada diri sendiri,apa memang sesuka itu… ”  -428- 
 
 
 ““Kalian tahu, cinta sejati laksana sungai besar. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti, semakin lama semakin besar sungainya, karena semakin lama semakin banyak anak sungai perasaan yang bertemu.Cinta sejati adalah perjalanan.Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung,tujuan,apalagi hanya sekedar muara. 
Air di laut akan menguap,menjadi hujan turun di gunung-gunung tinggi,kembali menjadi ribuan anak sungai perasaan , lantas menyatu menjadi Kapuas. Itu siklus tak pernah berhenti ,begitu pula cinta.
Nah,siklus sungai Kapuas ini jauh lebih abadi dibanding cinta gombal manusia. Beribu tahun tetap ada disini,meski airnya semakin keruh. Sedangkan cinta gombal kita? Jangan bilang kematian ,bahkan jarak dan waktu sudah bisa memutusnya . ”-Pak Tua- -168-
 
 
 “Kau tahu jumlah penduduk bumi saat ini? Tujuh miliar, Borno. Lantas, coba kau bayangkan, setiap hari ada berapa orang yang jatuh cinta dan patah hati? Menurut orang tua ini, setidaknya setiap detik ada tiga orang yang jatuh cinta, tiga orang pula yang patah hati. Dengan demikian, satu jam berarti ada sepuluh ribu, satu hari berarti dua ratus ribu pasangan yang jatuh cinta dan patah hati. Bukan main, Borno. Karena kau bisa jatuh hati serta patah hati berkali-kali, tidak macam mati atau lahir yang cuma sekali seumur hidup, jangan-jangan angkanya lebih banyak lagi. Jangan-jangan setiap hari ada seperempat juta manusia yang jatuh cinta sekaligus patah hati. Kaubayangkan, banyak sekali. Ramai sudah langit-langit bumi dengan kalimat ‘aku cinta kau’ atau ‘aku sayang kau’ atau sebaliknya ‘cukup sampai di sini, kita berpisah’. Seperti empat juta manusia setiap hari, Borno. Bayangkan.” -Pak Tua-
 
 
 “Kau bolak-balik saja sedikit hati kau. Sedikit saja, dari rasa dipaksa menjadi sukarela, dari rasa terhina menjadi dibutuhkan, dari rasa disuruh-suruh menjadi penerimaan. Seketika, wajah kau tak kusut lagi. Dijamin berhasil.” -Pak Tua-
 
 
 “Kalian tahu, cinta itu beda-beda tipis dengan musik yang indah. Ya, cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti.” “Walaupun musik usai, hatimu ‘kan slalu menari” -Pak Tua-
 
 
“Kau tahu, Andi, dari begitu banyak kalimat bijak tentang cinta yang kaucatat berbulan-bulan ini, untuk orang seperti kau, cukup camkan saja kalimat yang satu ini, sisanya lupakan. Camkan cinta adalah perbuatan. Nah, dengan demikian, ingat baik-baik, kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta, Andi. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi.” -Pak Tua-
 
 
“Kau tahu, Borno, untuk orang setua kami, boleh jadi pertemuan tadi adalah pertemuan terakhir . Besok lusa, yang terdengar kabar adalah kepergian untuk selamanya.” -Pak Tua-
 
 
“Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan.” -Pak Tua-
 
 
“Nah, akhirnya kau bertanya, Borno. Banyak orang yang kadang lupa bertanya muasal uang kalau dia terlanjur menikmatinya. Anak lupa bertanya kepada bapak, istri lupa bertanya kepada suami. Tenang, Borno, semua halal. Kau jangan meremehkan orang tua ini. Mentang-mentang rumahnya kayu, bajunya lusuh, berarti dia miskin papa. Enak saja. Anggap saja orang tua ini pandai menabung saat masih muda. Jadi masa tuanya tidak perlu bergantung pada siapapun, apalagi sampai terlantar dan terhina.”  -Pak Tua-
 
 
“Kau lupa, Borno. Kalau hati kau sedang banyak pikiran, gelisah, kau selalu punya teman dekat. Mereka bisa jadi penghiburan, bukan malah sebaliknya kau abaikan. Nah, itulah tips terhebatnya. Habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan terasa lebih ringan.” -Pak Tua-
 
 
“Camkan ini, anakku. Ketika situasi memburuk, ketika semua terasa berat dan membebani, jangan pernah merusak diri sendiri. Orang tua ini tahu persis. Boleh jadi ketika seseorang yang kita sayangi pergi, maka separuh hati kita seolah tercabik ikut pergi. Kautanyakan pada ibu kau, itulah yang dia rasakan saat bapak kau dibelah dadanya, diambil jantungnya dan pergi selamanya. Tapi kau masih memiliki separuh hati yang tersisa, bukan? Maka jangan ikut merusaknya pula. Itulah yang kau punya sekarang.” -Pak Tua- 
 
 
“Sudahlah, mari kita habiskan teh saja, Borno. Urusan perasaan bisa menunggu kapan-kapan, tapi urusan teh, tidak bisa. Sebentar lagi dingin, terlanjur tidak nikmat. Kau tahu, terkadang orang-orang bernasib sama seperti kau ini bahkan tidak mengerti kalimatku tadi.” -Pak Tua-
 
 
“Tentu ada, Borno. Tentu ada. Tapi aku akan membiarkan kau sendiri yang akan menulis cerita hebat itu. Untuk orang-orang seperti kau, yang jujur atas kehidupan, bekerja keras, dan sederhana, maka definisi cinta sejati akan mengambil bentuk yang amat berbeda, amat menakjubkan.” -Pak Tua-
 
 
“Separuh hatiku kuyu mengakui, bagaimana aku mengusirnya jauh-jauh? Perasaan itu mekar begitu saja di hati, tidak kusemai bibitnya.” -Borno- 
 
 
“Aku bukan seperti Pak Tua yang bijak. Aku juga tidak seperti almarhum Bapak yang pahit getir di akhir hidupnya tetap memiliki kebaikan. Aku sekadar Borno, anak muda usia dua puluh dua, tidak berpendidikan tinggi, hanya pengemudi sepit. Apa lagi yang bisa kupikirkan selain sedih, ragu-ragu, bingung, dan entahlah. Kejadian mengantar Mei tadi mempengaruhiku banyak. Membuatku berpikir ulang, menata hati, hingga lelah, lalu jatuh tertidur.” -Borno-
 
 
“Pak Tua selalu benar. Kalaupun dia keliru, atau kenyataannya berbeda dari yang dia tebak, itu biasanya karena kenyataan itu datang terlambat.”
 
 
“Aku punya banyak rencana, Pak Tua. Bukankah Pak Tua sendiri yang pernah bilang, terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus bersabar menunggu rencana terbaik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan?” -Borno-
 
 
“Ibu, usiaku dua puluh dua, selama ini tidak ada yang mengajariku tentang perasaan-perasaan, tentang salah paham, tentang kecemasan, tentang bercakap dengan seseorang yang kaukagumi. Tapi sore ini, meski dengan menyisakan banyak pertanyaan, aku tahu, ada momen penting dalam hidup kita ketika kau merasa ada sesuatu yang terjadi di hati. Sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan. Sayangnya, sore itu juga menjadi sore perpisahanku, persis ketika perasaan itu mulai muncul kecambahnya.” -Borno- 
 
 
“Amboi, kalian tahu? Rasa sedih melihat teman baik menangis ternyata bisa berubah menjadi semangat menggebu tiada tara. Rasa pilu melihat teman baik teraniaya, bahkan konon bisa mengubah seorang pengecut menjadi panglima perang.” -Borno-
 
 
“Aku berjanji akan selalu mencintai kau, Mei. Bahkan, walau aku telah membaca surat dalam angpau merah itu ribuan kali, tahu masa lalu yang menyakitkan, itu tidak akan mengubah apapun.” -Borno- 
 
 
 “Minggu-minggu terakhir ini membingungkan. Bahkan sebenarnya, sejak pertama kali kita bertemu di atas sepit, semua sudah rumit.” -Mei-
 
 
“Berjanjilahm Abang, hingga hari itu tiba, baik atau buruk akhirnya, sesuai atau tidak sesuai dengan harapan, Abang Borno akan terus melanjutkan hari-hari, terus menjadi bujang dengan hati paling lurus di sepanjang tepian Kapuas.” -Mei-
 
 
“Jangan sekali-kali kaubiarkan prasangka jelak, negatif, buruk, apalah namanya itu muncul di hati kau. Dalam urusan ini, selalulah berprasangka positif. Selalulah berharap yang terbaik. Karena dengan berprasangka baik saja, hati kau masih ketar-ketir memendam duga, menyusun harap, apalagi dengan prasangka negatif, tambah kusut lagi perasaan kau. Aku tahu kau kecewa, Borno, tetapi jangan biarkan terlalu. Aku tahu kau sedih, tapi jangan biarkan menganga dalam. Esok lusa boleh jadi ada penjelasan yang lebih baik. Bersabarlah, kau paham?” 
 
~ o ~ 

sumber gambar : renijudhanto.blogspot.com