Suatu hari saya dibuat terheran-heran dengan apa yang dikatakan murid-murid saya. Bukan karena kata-kata tak senonoh dan sejenisnya, tapi hari itu kelas yang saya ajar tak ada bedanya dengan studio acara-acara komedi yang kerap melontarkan kalimat bullying antar para artis.
“hahaha.. iya Bu dia emang nggak bisa jawab, soalnya memorinya cuma 1 GB” seloroh salah satu anak yang mengomentari temannya, seorang anak lelaki tinggi besar yang kebetulan tidak bisa menjawab pertanyaan saya.

Ungkapan itu langsung disambut dengan tawa bergemuruh oleh seisi kelas.
“hahaha.. iya, kalo nggak gitu mungkin baterai otaknya lagi lowbat.. hahaha.. hahaha..” yang lain menimpali tak kalah semangat, derai tawa makin riuh terdengar.
“udah Bu nggak usah ditanya, dia kan emang lemot orangnya.. hahaha.. hahaha..” suara di pojokan tak kalah semangat menyahut.
Saya yang masih bengong mendengar kalimat –kalimat itu spontan bertanya pada mereka,
“apa sih yang lucu? Kenapa seneng banget ngata-ngatain temen sendiri?”
“udah biasa bu, itu bikin kita makin akrab. Hahaha.. hahaha..” jawab salah satu anak sambil masih tertawa hebat. Pandangan seisi kelas masih lekat pada anak tinggi besar yang tak bisa menjawab pertanyaan saya tadi.
Perhatian saya beralih ke anak itu (yang ditertawakan), sama seperti teman-temannya, dia ternyata santai saja ikut tertawa terbahak-bahak. Saya masih agak bengong.
“Le, kamu nggak marah dibilang kayak gitu? Kok kamu malah ikut ketawa?” tanya saya.
Dia berhenti tertawa, nyengir santai sambil garuk-garuk kepala.
“Nggak papa, Bu. Biar Tuhan yang balas!” sekali lagi masih dengan muka innocent.
Bukannya minta maaf atau apa, teman sekelasnya justru makin riuh tertawa.
“ciieeeee.. ngambek cieeee.. hahaha..hahaha..” sama sekali tak merasa bersalah, aksi bullying itu berlanjut sampai beberapa menit dan baru berakhir setelah saya berceramah A sampai Z.

**
Kejadian itu tidak hanya sekali saya alami. Beberapa kali, bahkan sering. Ini semacam tradisi baru, mungkin. Tak jauh beda dengan tayangan televisi kita yang belakangan ini banyak dipenuhi adegan serupa: saling mem-bully bentuk fisik, keterbatasan orang lain, bahkan status sosial dan pekerjaan. Duh, segitu parahkah budaya bullying itu mengakar ke anak-anak negeri ini?
Sayang sekali jawabannya adalah iya. Saya tidak bisa 100 % menyalahkan siaran televisi Indonesia dan fenomena budaya bullying yang hadir di kelas saya, tapi setidaknya itulah hal pertama yang muncul di benak saya ketika melihat seisi kelas tiba-tiba riuh dengan apa yang mereka sebut lucu, padahal sejatinya sama sekali tak lucu itu.
Tidak bisa dipungkiri bahwa memang dalam pergaulan kita butuh joke-joke segar biar obrolan nggak ‘garing’. Tapi entah sejak kapan humor harus identik dengan aksi bullying seperti itu. Saya hanya membayangkan kalau budaya ini memang dianggap sebagai salah satu cara ‘mengakrabkan pertemanan’ oleh beberapa anak (seperti kata murid saya diatas), bagaimana dengan anak-anak yang beranggapan sebaliknya?
Mungkin saja si anak tinggi besar yang jadi korban bullying teman-temannya di kelas saya itu bisa ikut ketawa-ketiwi sambil garuk-garuk kepala diluar, bagaimana kalau di dalam hatinya dia tidak terima dengan semua itu? Menyimpan dendam pada teman-temannya?
Bukankah bukan hal yang mustahil dari candaan-candaan bernada bullying seperti itu seorang anak bisa memendam terlalu banyak kekesalan dan akhirnya suatu hari terlampiaskan pada hal-hal negatif? Ngeriii.
Maka ini menjadi PR besar untuk para pendidik dan orang tua, menurut saya. Bahwa anak-anak perlu tahu bahwa mencela temannya sama sekali bukan hal lucu. Mengatakan seseorang mirip Doraemon (yang lucu) sekalipun, kalau maksudnya adalah orang itu mirip kartun kucing, sama sekali tak lucu, kan?
Hmm.. menulis catatan singkat ini sembari melihat rekan-rekan yang sibuk mengisi aplikasi Padamu Negeri, saya jadi bertanya pada diri sendiri: apa yang sudah kamu lakukan untuk Negerimu? Untuk anak-anak didikmu dan orang tua mereka yang mempercayaimu untuk mendidik anaknya?

by: winwinfaizah