This the first..

Tulisan pertama saya yang waras dan berhasil #yayy# lets reading..

Aku masih tersesat dalam langkahku menelusuri hidup. Terlebih masalah cinta. Namun, aku masih memiliki keyakinan akan cinta yang kurajut hingga kini. Dia Rifa, ia dua tahun lebih muda dariku. Dia gadis yang baik, sederhana dan yang terpenting ia bisa menerimaku apa adanya. Kami belajar di Universitas yang sama, aku mengambil kedokteran, sedangkan ia lebih tertarik pada dunia Psikologi. Hampir tiga tahun kami menjalin hubungan, ia juga sudah ku kenalkan kepada orang tuaku. Tinggal menunggu waktu saja setelah tahun terakhir, inyaallah aku berencana meminangnya.
Seperti biasa, ketika kelasku dan ia usai, kami bertemu di Perpustakaan, lalu mengambil buku untuk dibaca. Namun, kali ini ia tak meminjam satu buku pun untuk dibahas bersamaku. Kami hanya duduk-duduk saja di taman sebelah Perpustakaan. Ia bertanya tentang kelasku hari ini, lalu disambung dengan obrolan yang terasa aneh di telingaku.
“Sebenarnya apa yang kamu bicarakan, Fa?” aku mencoba menebak dibalik basa-basinya sedari tadi.
“Itu..emm..” ia terlihat ragu.
“Mas Akhtar, aku mau pulang ke Solo sabtu ini”
“Memangnya ada apa? Ibumu sakit lagi?”
“Katanya ada acara keluarga mendadak. Keluarga besar”
“Oh, ya, terus masalahnya apa? Memangnya kamu mau lama disana?”
“Aku tak tahu mas, bisanya ibu sama bapa suka mengulu-ulur supaya aku tinggal lama dirumah. Aku jadi tidak enak sama mas Akhtar”
“Aku kan orangnya nggak overprotecktiv. Jadi, aku tidak akan marah kalau kamu pulangnya lama disana”
Dia tersenyum “ ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu mau beres-beres buat besok. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam” sapaku sebagai ganti mengantarnya pulang. Lalu, aku segera beranjak dari duduk. Di tengah jalan aku bertemu dengan Pak Aris, salah satu dosenku.
“Assalamu’alaikum, Pak” aku mencium tanggannya, dan ia menyentuh bahuku dengan tangannya yang lain.
“Walaikum’salam. Belum pulang kamu?”
“Belum Pak, biasa anak muda”
“Hus, jangan sering-sering, itu namanya khalwat. Rifa kan belum sah jadi mukhrimmu”
“Iya Pak, terimakasih nasihatnya. Doakan saja biar di Ridhoi Allah jadi muhrim”
“Amin, saya do’akan. Ngomong-ngomong sudah sholat asar belum?”
“Astaghfirullah, hampir lupa” lalu kami berjalan bersama menuju masjid.
Setelah sholat asar, Pak Aris kembali menyinggung tentang hubunganku dengan Rifa. Ia juga menasihatiku agar serius pada Rifa. Aku jadi teringat pada Rifa seketika itu. Aku belum sempat bertanya tentang restu kedua orangtuanya. Setiap kali aku menanyakan itu, ia selalu berdalih dengan berbagai alasan dan menyambungnya ke obrolan lain. Hari sudah terlalu sore, aku pamit pulang pada Pak Aris.
Hari ini jadwalku kelas siang. Kusempatkan waktu melihat-lihat ke toko buku, siapa tahu ada buku bagus yang harganya sesuai dengan isi dompet. Kulirik jajaran buku dalam rak, jari telujuk berjalan mengikuti arah mataku mencari judul buku. Aku sedikit terperanjat ketika mataku tak sengaja menatap mata seorang gadis berjilbab putih. Lalu gadis itu segera menurunkan pandangannya, dan kuturunkan juga pandangan mataku kebawah. Kulihat sebuah tasbih terjatuh disana. Mungkin ini milik gadis tadi. Gadis berjilbab itu tengah mengantre di kasir.
Kusentuh bahunya “Maaf, ini milik Mba? Tadi jatuh” aku menunjukan tasbih itu.
“Iya, terimakasih” ia mengambil tasbih itu dari tanganku, lalu ia segera mengambil tas berisi buku yang baru dibelinya dan keluar dari toko buku.
Diluar turun hujan. Aku mengambil payung yang kusimpan dalam tas. Hujannya lumayan deras, dan aku harus segera menuju halte sebelum bis terakhir lewat. Aku melihat gadis berjilbab putih tadi tengah kehujanan. Kukejar dia dan menawarkan bantuan.
Aku membagi payungku dengannya, lalu ia menatapku heran “Mba mau ke halte juga?”
“Iya, terimakasih payungnya” ia tersenyum tipis.
Kami duduk dibus dengan dua kursi. Suasana terasa kaku, lalu aku mengajaknya mengobrol.
“Nama saya Akhtar, Fadillah Akhtar” aku menyodorkan tangan.
Dengan sopan ia menelungkupkan telapak tanganya “Fatimah Saadiya” ia melirik tas yang berlogo universitas.
“Saya masih kuliah” tungkasku saat membaca pertanyaan yang terlihat jelas di matanya. “kalau mba?” aku melanjutkan.
“Saya juga masih kuliah, tarbiah”
“Mba ngekos?” alih-alih aku mencari tahu.
“Tidak, saya asli dari Jogja. Saya tinggal di perumahan Mangkubuwono” Tak lama ia beranjak dari duduk dan turun dari bus.
Kurebahkan tubuhku di kasur. Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering sakit kepala. Mungkin karena terlalu lelah. Kuraba handphone di kasur, siapa tahu ada sms dari Rifa. Tapi, saat dilihat hanya pesan dari operator yang promo paket murah. Kepalaku semakin sakit, lalu ku pejamkan mata dan lelap dalam tidur.

Siang itu, aku tengah membaca buku di bangku taman tempat aku dan Rifa biasa disana. Kubaca beberapa lembar buku, lalu ku dengar suara langkah kaki.
“Assalamu’alaikum”
“Walaikum’salam Fa. Sudah pulang?”
“Sudah mas, Cuma tiga hari disana”.
“Kalau boleh tahu, ada acara apa Fa?” Wajahnya langsung berubah murung saat kutanya.
“Oh, Cuma kumpul keluarga biasa”
“Mas, saya minta maaf” katanya singkat.
“Maaf untuk apa?”
“Saya minta maaf” ulangnya. Lalu ia beranjak pergi tanpa menoleh dan ucapan salam.
****
Sudah satu minggu aku tak melihat Rifa di kampus, apa di pulang ke Solo lagi?. Arah mataku beralih pada seseorang. Kupanggil ia “Sarah” ia melihatku.
“Ada apa mas?”
“Kamu lihat Rifa? Kok dia jarang kelihatan, memang lagi pulang ke solo?”
“Loh, memangnya mas tidak tahu? Rifa kan ambil cuti kuliah. Dia di jodohkan oleh orang tuanya”
Aku terperanjat. Berita tentang Rifa benar-benar membuatku sakit kepala. Rasa sakit yang lebih parah dari sebelumnya. Kuturuni tangga tanpa kesadaran penuh. Tiba-tiba saja aku merasa melayang entah kemana.
Ku buka mata perlahan, seperti sebuah mimpi. Aku berada di sebuah masjid yang sangat besar. Kulihat seorang gadis berjilbab putih tengah melipat mukena disana. Ia berbalik menatapku sambil berjalan mendekat. Cadar putih dibawah matanya memperlihatkan dua belah mata indah yang ia miliki. Ia menyerahkan sebuah tasbih . Lalu ia pergi dan perlahan menghilang seiring cahaya putih yang perlahan memudar.
Aku terbangun. Kepalaku sedikit berat. Kulihat seorang lelaki paruh baya tertelungkup di lenganku. Pak Aris, ucapku dalam hati. Sebuah tasbih melingkar tangan kananku. Aku teringat dengan mimpiki barusan. Apakah mimpi ini adalah petunjuk dari Allah?
Pak Aris terbangun, ia mengusap wajahnya “Oh, kamu sudah sadar?”
“Alhamdulillah, karena Allah” jawabku lirih.
“boleh saya bertanya, Pak?” lanjutku. “Kenpa saya jadi begini?”
“Kamu jatuh dari tangga”
“Kok bisa?” aku menimpali.
“Sudahlah, besok saja saya jelaskan”.
Aku mengerti lalu terpejam kembali.

Aku menatap tasbih yang kutemukan di jari tanganku. Tak lama, pintu kamar terbuka, Pak Aris masuk membawa sekeranjang buah.
“Sudah bangun, Akhtar?”
“Sudah, Pak. Wah, repot-repot Bapak ini”
“Tidak apa, ini dari isteri saya. Katanya, semoga lekas sembuh” ia meletakan sebuah keranjang berisi buah-buahan segar di meja kecil sebelah ranjang tempatku berbaring.
Ku jawab Amin. Aku membuka pembicaraan yang semalam tertunda. Katanya aku menderita meningitis atau radang selaput otak, terang Pak Aris. Gejalanya memang sakit kepala hebat, seperti yang sering kualami, dan akhirnya menyebabkanku jatuh dari tangga. Aku hanya bisa beristighfar menyebut nama Allah. Lalu kutunjukan tasbih itu.
“kok ini bisa disaya?”
“oh itu?” PaK Aris terlihat gugup “itu dari saya”
“Oh ya, Pak. Ketika saya belum sadar, apa Rifa datang menjenguk?”
“Iya, dia menitipkan surat. Katanya semoga lekas sembuh”

Untuk Mas Akhtar
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Ketika saya mendengar Mas Akhtar jatuh dari tangga, saya sangat khawatir. Saya langsung datang melihat keadaan Mas. Disana ada Pak Aris dan putrinya. Saya lega sudah ada yang merawat Mas. Saya berdoa semoga Mas lekas sembuh.
Untuk Mas Akhtar yang menyayangi Rifa
Hanya ucapan maaf yang bisa saya sampaikan. Maaf karena sudah meninggalkan Mas, maaf karena saya mengkhianati Mas, dan maaf karena saya mengakhiri hubungan secara sepihak. Itu semua saya lakukan karena saya tak sangup mengatakannya langsung. Lewat surat ini semoga Mas memahami keadaan Rifa dan mau memaafkannya.
Hari sabtu, saat saya izin pulang pada Mas, sebenarnya itu bukan acara keluarga biasa. Hari itu saya dilamar oleh seorang lelaki putra dari teman ayah, Yusuf namanya. Saya bisa saja menolak, namun Allah berkehendak lain. Dahulu, ayah Mas Yusuf telah banyak membantu usaha ayah saya, dan mereka telah menjodohkan saya dengan Mas Yusuf sejak kecil. Saya tidak mampu menolak, saya tidak ingin menjadi anak durhaka. Semoga Mas memahami keadaan Saya. Dengan rasa malu saya mohon doa dari Mas semoga saya mejalani kehidupan baru yang sakinah, mawadah dan warahmah. Saya juga berharap Mas Akhtar segera bertemu seorang gadis yang lebih baik dari pada saya. Sekali lagi saya mohon maaf.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarukatuh
Salam sayang
Arifah Fitriani

Aku mengalirkan air mata di baris akhir surat itu. Ku ucap Asma Allah berulang kali, memohon ampunannya atas perasaan suudzan yang telah menghinggapi hatiku terhadap Rifa. Kini aku mengerti, aku telah memberinya maaf dan mendoakan apa yang ia minta. Aku juga berharap dapat menghapusa rasa cinta yang seharusnya tak lagi kumiliki.
****
Aku membereskan barang-barangku di rumah sakit. Hari ini aku diperbolehkan pulang. Ku ucapkan banyak terimakasih pada Pak Aris dan Bu Aris yang telah merawatku dan membiayai seluruh prngobatanku dirumah sakit. Merka sudah seperti keluargaku, orangtua kedua bagiku.
Aku merebahkan tubuhku di kasur, kupejamkan mata sejenak. Belum lama aku terpejam, aku terbangun. Kulihat sebuah bangunan yang besar, ternyata aku berada di sebuah masjid, disana aku melihat seorang gadis bercadar putih tengah melipat mukena. Ia berjalan menghampiriku. Ia mengangkat tanganku, dan menyerahkan sebuah tasbih. Lalu aku terbangun, kusadari aku berada dalam kamarku sediri. Aku merenung sejenak. Tak lama aku mengambil air wudlu lalu kulakukan shalat istiqharah.
Rasa penasaranku akan mimpi yang sama menuntunku ke sebuah toko buku yang biasa kukunjungi. Aku berniat menemukan seseorang. Kulihat gadis berjilbab putih yang tengah melihat-lihat buku dalam rak.
“Assalamu’alaikum” sapaku
“Walaikum’salam” ia menjawab.
“Saadiya kan?”
“Benar. Kamu Akhtar?”
“Benar. Bisa bicara sebentar?”
“Boleh”
Kami berada dalam sebuah cafe islami, Saadiya yang membawaku kesana. Aku bertanya apakah ia pernah mengenalku sebelumnya atau mungkin ia adalah seseorang dimasalalu yang tidak aku ingat.
“Tidak, saya tidak mengenal kamu sebelumnya. Memang ada apa?”
“Apa kamu pernah memakai cadar?”
“Memakai cadar?” ia berpikir sejenak, mungkin ia heran mengapa aku bertanya hal seperti itu, padahal kami baru saling mengenal.
“Dulu pernah, semasa saya MA. Saya tinggal di asrama, dan siswa putri diwajibkan menakai cadar. Tapi saya sudah lama tidak memakainya lagi.”
“Kalau boleh tahu MA mana?”
“MA AL-Malik”
“MA AL-Malik? Saya juga belajar disana tapi hanya satu tahun, saat kelas dua saya pindah”
“Benarkah? Tapi maaf, saya tidak ingat pernah mengenal kamu”
Pembicaraan kami berakhir karena Saadiya pamit pulang. Semua pembicraan ini hanya menyisakan sebuah rasa penasaran. Aku kembali kerumah, merebahkan tubuhku dan terpejam. Setelah bangun ku ambil wudlu dan sholat istiqharah. Esoknya, aku dipertemukan dengan Ustad Ahmad yang kebetulan berkunjung ke kampus. Tak membuang kesempatan. Aku menceritakan persoalanku padanya, dan mimpi aneh yang terus kualami. Lalu ia melontarkan pertanyaan padaku.
“Apa pendapatmu tentang gadis bernama Saadiya itu?”
“Dia soleha dan baik, juga cantik” tambahku.
“Apa pernah kau merasakan sesuatu yang lain tentang dia?”
“Dia sederhana, kesederhanaanya membuatku kagum sesaat. Tapi waktu itu aku masih bersama Rifa, jadi kubuang jauh-jauh persaan itu”.
“Soal tasbih, coba kau tanyakan dengan Saadiya, mungkin ada hubungnya dengan tasbih yang kau miliki”.
Usai mendengar pencerahan dari Ustad Ahmad. Aku segera meluncur ke toko buku untuk mencari Saadiya. Aku melihatnya. Ia tengah bersaaman dengan seorang lelaki paruh baya. Lalu ia keluar dan pergi.
Aku mendekati lelaki paruh baya itu “Pak Aris?”
****
Kukatakan niat baikku yang tulus pada ayah dan ibu. Segera kami mempersiapkan segala mahar. Aku mengetuk pintu.
“Assalamu’alaikum”
“wala’ikumsalam” jawab suara dari dalam. Kami dipersilahkan duduk.
Ayahlah yang pertamakali melontarkan maksud kedatanganku dengan keluarga hari ini.
“Kalau saya sih, terserah anaknya saja” kata Pak Aris dengan bijak.
Lalu seorang gadis berjadar putih keluar dali balik pintu. ia duduk dengan diam dihadapanku.
“Atas nama Allah kupiang kau Fatimah Saadiya binti Aris Rochmat, dengan cinta yang Allah tunjukan dengan jalanya yang indah. Besediakah engkau menjadi mukhrimku?”
“Atas nama Allah dan Rasulullah saya bersedia” jawabnya dengan lirih.
Kulingkarkan tasbih di pergelangan tangannya. Di hari itu aku yakin bahwa kedua belah mata yang kulihat dalam mimpi, dan pemilik tasbih betuiskan Asma Allah yang melingkar di jari telunjukku saat aku sakit adalah seorang kekasih dari Allah yang telah Ia tulis dalam Laukhul Mahfudz “Fatimah Saadiya”.

– Suqron –